Pemetaan Dampak Negatif Perilaku Anak Jalanan

Kamis, 02 Maret 2017 | 10:45:53 WIB   1528

BUKU

Pemetaan Dampak Negatif Perilaku

Anak Jalanan

 

 

 

 

 

\"Image

 

DI SUSUN OLEH

PANITIA TIM PEMETAAN

 

 

 

LEMBAGA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

TAHUN 2016

 

KATA PENGANTAR

 

Syukur  alhamdulillah kehadirat Allah SWT, telah selesainya buku hasil pemetaan  ini, dengan harapan buku ini dapat dijadikan  pedoman dan pertanggung jawaban kepada pimpinan IAIN STS Jambi tentang data yang terkait dengan kegiatan pemetaan Dampak negatif anak jalanan di Kota Jambi. Buku ini terdiri dari II bab, yang memaparkan tentang konsep-konsep yang sesuai dengan tema pembahasan dan lebih banyak membahas tentang dampak negatif anak jalanan yang ada  di Kota Jambi. Maka dari itu, isi buku ini pada Bab I Latar belakang pemetaan, Bab II Keberhasilan Pemetaan Dampak Negatif Anak Jalanan.

Buku ini bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada  pembaca,  terutama bagi orang tua yang memiliki anak jalanan, agar tidak membiarkan anaknya menjadi pengamin, pengemis, pank dan lain sebagainya. Kepada pemerintah hendaknya memperhatikan anak jalanan dan memberi mereka hidup yang layak.

Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis berharap banyak masukan dan kritikan untuk penyempurnaan buku ini pada masa mendatang dari pembaca, terlebih dahulu penulis mengatur banyak terimakasih.

 

Jambi,  September 2016

Kepala PSGA

 

Prof. Dr. Maisah, M.Pd.I

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman Judul

Daftar isi

BAB I. Pendahuluan

  1. Latar Belakang Pemetaan
  2. Tujuan Pemetaan
  3. Target Pemetaan
  4. Sumber Dana Pemetaan
  5. Jadwal Pemetaan
  6. Pelaksanaan Pemetaan

BAB II. Keberhasilan Pemetaan

  1. Data Empiris
  2. Kesimpulan
  3. Rekomendasi
  4. Penutup

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Pemetaan

Masalah kemiskinan telah lama ada sejak zaman dahulu kala, pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern. Masalah kemiskinan yang dihadapi di setiap negara akan selalu bersamaan dengan masalah laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menghasilkan pengangguran, ketimpangan dalam distribusi pendapatan nasional maupun pembangunan, dan pendidikan yang menjadi modal utama untuk dapat bersaing di dunia kerja dewasa ini. Sesuai dengan apa yang di kemukakan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal dan Transimigrasi  (Kemndes PDTT) Marwan Ja’far, mengatakan dana Desa Tahun 2016 akan berkontribusi mengurangi sebanyak 6, 56 persen masyarakat miskin di desa. Dengan asumsi, jumlah penduduk miskin di desa tahun 2015 sama dengan tahun 2014, yakni sebanyak 17,77 juta jiwa.[1]

Persoalan kemiskinan di Negara berkembang, termasuk Indonesia merupakan fenomena global. Kemiskinan akan selalu menjadi sisi gelap dan menjadi suatu indikator keberhasilan suatu pemerintahan dalam mengelola Negara dan kesejahteraan rakyatnya. Kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang selalu menjadi pekerjaan rumah para pemegang kebijakan di Negara ini. Jumlah penduduk miskin yang terus meningkat menimbulkan fenomena-fenomena sosial berupa banyaknya pengangguran serta maraknya perilaku kriminal maupun pidana yang dapat dilakukan oleh siapapun akibat dari miskinnya secara ekonomi maupun intelektual.

Anak yang hidup di jalan adalah yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun yang menghabiskan sebagian waktunya di jalan dan tempat-tempat umum yang meliputi anak yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan,  dan/atau anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.[2]

Saat ini fenomena anak jalanan sudah mengejala pada masyarakat perkotaan yang dilakukan oleh masyarakat ekonomi kelas bawah perkotaan maupun pendatang dari berbagai wilayah yang berkumpul pada suatu tempat yang kemudian berpindah-pindah pada tempat yang lainnya. Ini dilakukan sebagai sebuah perilaku mendapatkan kebebasan yang bisa mereka dapatkan ketika berkumpul bersama. Fenomena semacam itu sangat mudah ditemukan di kota-kota besar, termasuk di kota Jambi, dimana terdapat sebuah komunitas anak jalanan yang tersebat dibeberapa titik, baik itu dipersimpangan lampu merah maupun dipinggiran-pinggiran kota. Komunitas ini memiliki kehidupan yang dapat dikatakan kurang. Mereka hidup dengan keadaan tempat tinggal yang tidak layak, bahkan bisa saja mereka tinggal dan menginap dirumah-rumah kosong maupun menginap didepan ruko yang ada dipusat-pusat kota.

Selanjutnya, Iman Al-Ghazali dalam Nashih Ulwan yang di kutif oleh Martinis dan Maisah mengemukakan bahwa anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya  yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan di biarkan seperti dibiarkannya binatang, ia di akan celaka dan binasa. Sedangkan memiliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan mengajari akhlak yang baik.[3] Kata amanah mengindikasikan bahwa Allah SWT telah memberikan kepercayaan atau menitipkan anak kepada kedua orang tuanya  untuk di jaga, di pilihara dan di besarkan serta memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak kepada anaknya. Namun seiring dengan proses perjalanan kehidupan, faktor ekonomi orang tua seringkali tidak seimbang dengan kebutuhan realita kehidupan nyata yang di jalani oleh orang tua. Sehingga  menyebabkan salah satu faktor tanggung jawab orang tua terhadap anak tidak terpenuhi, yang pada akhirnya anak menjadi korban ekonomi orang tua, mau tidak mau anak mencari solusi atau di paksakan turun kejalan menjadi seorang pengamin, pemulung, pengemis atau di sebut juga anak jalanan untuk mencari rezeki membantu ekonomi orang tua. Dengan kondisi seperti ini sudah jelas anak tidak bisa lagi mendapat pendidikan yang baik dari orang tuanya, akibatnya anak menjadi terlantar atau anak liar.

Pepatah mengatakan “bila anak tidak dididik oleh orang tuanya, maka ia akan dididik oleh siang dan malam”. Maksudnya, pengaruh lingkungannya akan mengisi dan memberikan bentuk dalam jiwa anak itu. Dalam kehidupan di kota-kota, terutama kota  besar, anak-anak yang kehilangan hubungan dengan orang tua cukup banyak. Mungkin dikarenakan faktor ekonomi, hingga harus ikut mencari nafkah seharian ataupun karena yatim piatu, anak-anak ini sering disebut anak jalanan. Secara umum, anak jalanan merupakan anak yatim. Baik  karena berstatus sebagai yatim sepenuhnya, yaitu mereka yang sudah kehilangan orang tua atau yang teryatimkankan. Mereka yang teryatimkan ini adalah yang masih mempunyai orang tua, tetapi sudah lepas dari hubungan dari orang tua mereka. Hidup tanpa pemiliharaan dan pengawasan orang tua menjadikan anak jalanan berhadapan dengan kehidupan yang keras serta terkesan “liar.” Dalam kesehariannya, anak-anak ini umumnya tergabung dalam kelompok sebaya atau dalam kegiatan yang sama. Ada kelompok pengamen, pemulung, pengemis, dan sebagainya. Mengamati  pergaulan sehari-hari serta kegiatan yang mereka lakukan, maka kasus anak jalanan selain dapat menimbulkan kerawanan sosial, juga kerawanan dalam nilai-nilai keagamaan. Selain latar belakang sosial ekonomi, mereka ini pun tak memiliki kesempatan untuk memperoleh bimbingan keagamaan. Bahkan di kota-kota besar, mereka ini seakan sudah terbentuk menjadi golongan tersendiri dalam masyarakat, yakni masyarakat rentan.[4]

Sebagai masyarakat rentan, golongan ini seakan berada di luar lingkungan budaya dan tradisi masyarakat umum. Boleh dikatakan mereka memupunyai “budaya” sendiri yang terbentuk di luar kaidah nilai-nilai yang berlaku. Pola kehidupan yang cenderung permisif (serba boleh), menjadikan anak jalanan rawan sentuhan berbagai pengaruh buruk. Bila konflik agama dapat ditimbulkan oleh tindakan radikal, karena sikap fanatisme agama, maka dalam kasus anak jalanan ini, mungkin sebaliknya. Konflik dapat terjadi karena kosongnya nilai-nilai agama. Dalam kondisi kehidupan yang seperti ini, tindakan emosional dapatterjadi sewaktu-waktu. Hal ini dikarenakan tidak adanya nilai-nilai yang dapat mengikat dan mengatur sikap dan perilaku yang negatif. Dengan demikian, mereka akan mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang.  Miskipun anak-anak jalanan ini sering digolongkan sebagai kelompok masyarakat yang termarginalisasikan, namun mereka merupakan generasi muda bangsa. Nasib dan pengaruh lingkungan yang mereka ke dalam kehidupan yang demikian. Semuanya menjadikan mereka kehilangan alternatif dan kemampuan untuk menentukan jalan hidupnya. Oleh karena itu, tanggung jawab ini terbebankan kepada masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini sebenarnya Institusi pendidikan agama dapat berperan. Demikian pula organisasi keagamaan. Membiarkan anak jalanan ataupun menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah, bagaimanapun bukanlah sikap yang arif. Kasus anak jalanan tampaknya memang memerlukan penanganan yang serius. Selain menjadi masalah sosial, kasus ini juga menjadi bagian dari masalah keagamaan. Sebagai aplikasi dari kesadaran agama.[5]

Dengan melihat fenomena yang terjadi tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian serta pemetaan terhadap komunitas anak jalanan tersebut dengan memfokuskan penelitian dan  berupa penyuluhan maupun pemberdayaan perekonomian melalui program latihan kerja yang dapat digunakan mereka dalam meningkatkan taraf hidupnya serta memperbaiki kualitas hidup dan meninggalkan perilaku anak jalanan yang bila terus dibiarkan maka akan berakses buruk bagi perkembangan mereka sendiri. Peneliti  juga akan menggali lebih dalam faktor-faktor penyebab munculnya perilaku anak jalanan ini serta dampak yang diakibatkan baik bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar dimana mereka berada.

Selain sekolah, perilaku anak dipengaruhi lingkungan sekiatar di mana ia tumbuh dan berkembang. Keberadaan ‘anak jalanan’, premanisme, pada umumnya disebabkan oleh keadaan ekonomi keluarga, dan rendahnya tingkat pendidikan (sekolah).Bahkan, menurut Suyanto, penyebab fenomena anak jalanan tidak tinggal namun kompleks. Persoalan tekanan dalam lingkungan keluarga atau pengaruh pertemanan di sekolah, bisa mendorong anakmasuk kedalam kehidupan anak jalanan.Oleh sebab itu, penyelesaian masalah anak jalanan, tidak tepat jika mengutamakan pendekatan regulasi. Yang lebih penting adalah melakukan pencegahan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan yang kondusif, aman, dan damai. Untuk mengurai dan menemukan solusi yang tepat, maka diperlukan pemetaan terhadap perkembangan perilaku anak jalanan. Pemetaan ini tidak hanya berkaitan dengan kuantitas praktik-praktik tetap ilebih dari diarahkan pada menemukan penyebab suatu tindakan atau perilaku anak jalanan terbentuk. Dengan demikian, hasil pemetaan terhadap dampak negative perilaku anak jalanan di Kota Jambi ini, dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan pencegahan dan penyelesaian persoalan anak jalanan.

  1. Tujuan Pemetaan

Pelaksanakan kegiatan “Pemetaan Dampak Negatif Perilaku Anak Jalanan” adalah untuk memetakan aspek kuantitas dan kualitas dari dampak negative perilaku anak jalanan. Hasil pemetaan ini, khususnya berkaitan dengan fenomana anak jalanan. Di sisi lain, bisa dimanfaatkan oleh pemangku kebijakan stategidan kebijakan untuk melakukan tindakan pencegahan dan solusi penyelesaianmasalah anak jalanan.

  1. Target Pemetaan

Ada beberapa target tercapainya kegiatan pemetaan ini, yaitu:

  1. Tersedianya data base fenomana anak jalanan di Kota Jambi;
  2. Mengungkap faktor-faktor penyebab adanya fenomena anak jalanan;
  3. Menjadi dasar bagi penelitian lanjutan untuk melakukan advokasi dan pendampingan penyelesaian persoalan anak jalanan.

E. Sumber Dana Pemetaan

Biaya pelaksanakan kegiatan ini dari DIVA Pusat Studi Gender dan Anak  IAIN SulthanThaha Saifuddin Jambi Tahun Anggaran 2016 dengan total biayaRp. 17000,000,- (RAB Terlampir)

 

  1. Jadwal Pelaksanaan Pemetaan

Pemetaan dampak negatif anak jalanan ini sudah dilaksanakan pada tanggal 5 Desember  2016. Pelaksanan pemetaan ini dilaksanakan secara professional serta berkomitmen mutu agar menunjang perwujudan visi IAIN STS Jambi. Untuk itu, Time Schedule Pelaksanaan Kegiatan terlampir:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KEBERHASILAN PEMETAAN

 

  1. Data Empiris

 1. Tanggung Jawab Orang Tua

            Peraturan Gubernur Jambi Nomor 54 Tahun 20013 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pemberdayaan Perempuan dan anak pasal 1 poin ke 12 kekerasan terhadap anak adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk penelantaran dan perlakukan buruk yang mengancam integritas tubuh dan merendahkan martabat anak.[6] Selain itu, dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 122/Menkes/SK/XII/2009 tentang pedoman Pentalaksanaan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Rumah Sakit, menegaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk janin yang masih dalam kandungan.[7]

Berdasarkan peraturan tersebut di atas, sangat jelas di kemukakan bahwa kata-kata penelantaran, merendahkan martabat anak di bawah usia 18 tahun adalah suatu perbuatan  kekerasan terhadap anak,  baik fisik maupun psikis anak tidak di bolehkan oleh siapapun termasuk orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, anak jalanan yang di eksploitasi oleh orang tuanya sendiri, atau anak jalanan yang di telantarkan oleh orang tuanya merupakan perbuatan orang tua yang melanggar peraturan tersebut di atas, serta melanggar hukum syariat Islam, yang melalaikan tanggung jawab terhadap anaknya.

Menurut hasil pengamatan peneliti ketika melihat langsung anak jalanan sedang mengamin di lampu merah (depan pujisera jelutung), memang terindikasi bahwa anak jalanan pulang kerumah, ketika mengamin di dampingi oleh seorang kakaknya dari pinggir jalan. Begitu juga ketika peneliti beranjak ketempat lampu merah di depan Bank Indonesia Telanai Pura Jambi, juga terlihat seorang anak perempuan mengamin di dampingi oleh orang tuanya. Hal yang serupa juga terlihat ketika peneliti ke pasar di lampu merah simpang bata Jambi, juga terlihat salah seorang orang tua perempuan yang sedang memantau anaknya mengamin.

Hasil pengamatan tersebut di atas diperkuat dengan hasil wawancara salah seorang pengelola pendidikan anak  jalanan (YABIMA) yang berinisial EV, mengatakan bahwa orang tua anak jalanan yang pulang kerumah, maupun yang tidak pulang kerumah  kurang memiliki tanggung jawab terhadap kebutuhan anaknya. Hal ini terbukti orang tua memang membiarkan anaknya untuk menjadi pengamin di pasar-pasar, lampu merah, bahkan ada orang tuanya memarahi anaknya jika tidak pergi mengamin. Ketika anaknya mengamin, orang tua atau kakaknya  memantau dari kejauhan atau di pinggir jalan. Hal ini di lakukannya jika anaknya di ganggu oleh orang lain atau merampas uang hasil pengaminnya, dan juga jika ada razia dari satpol PP orang tuanya terlebih dahulu memberitahu kepada anaknya untuk tidak mengamin di lampu merah atau melarikan diri untuk sementara. Adapun hasil uang dari anaknya mengamin diserahkan kepada orang tuanya, hal ini seperti itu setiap hari dilakukannya demi untuk menambah ekonomi orang tuanya dan untuk kebutuhan dirinya sendiri.

Pendapat yang hampir serupa juga dikemukakan oleh salah seorang pegawai Satpol PP yang berinisial AM mengatakan bahwa anak jalanan yang ada di Provinsi Jambi ini mayoritas berasal dari Sumatera Selatan. Ketika ada razia terhadap anak jalanan, pengemis, anak punk, orang tua dari anak jalanan tersebut kadangkala sudah tahu duluan bahwa ada razia dari Satpol PP. Artinya anak jalanan ini memang sudah di awasi oleh orang tuanya atau kakaknya dan juga orang yang mengkoordinirnya. Kemudian anak jalanan tersebut di suruh lari sementara dan tidak boleh mengamin di lampu merah atau dipasar-pasar sampai razia dari satpol berhenti.

Pernyataan tersebut di atas, di perkuat juga oleh salah seorang dari staf nakertransos mengatakan bahwa anak-anak jalanan yang menyebar di Provinsi ini mayoritas berasal dari daerah Sumatera Selatan, baik anak jalanan yang pulang kerumah maupun anak jalanan yang tidak pulang ke rumah seperti tidur di depan ruko-ruko dan di rumah yang tidak layak huni. Anak jalanan ini di tangkap dan di bawa ke kantor, di tempatkan pada ruang khusus untuk di introgasi dan di beri pembinaan oleh salah satu kepala bagian Nakertransos., setelah itu di kembalikan ketempat asalnya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara tersebut di atas memang terindikasi  orang tua tidak tanggung jawab terhadap anaknya. Tentu faktor penyebabnya tidak lain adalah faktor ekonomi dan kemiskinan. Hal ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Qur’an dan Hadis yang berkaitan dengan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya yang tidak boleh dilalaikan, terutama pada posisi pendidikan anak yang harus diberi sejak anak lahir sampai anak ke liang lahat (pendidikan sepanjang hayat).

Selain itu, Ramayulis juga mengemukakan, bahwa tanggung jawab adalah beban yang harus di pikul oleh kedua orang Tua yang telah melekat pada dirinya. Selain itu, orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga, maka dari itu, perilaku orang tua akan selalu ditiru oleh anak-anaknya. Sebagaimana yang di kemukakan oleh Ramayulis mengatakan sejak pase awal kehidupan manusia  banyak  sekali belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah-laku orang-orang disekitarnya, khususnya dari kedua orang tuanya. Al-qur’an telah memberi contoh bagaimana manusia belajar lewat meniru kisah tentang Qabil yang dapat mengetahui bagaimana menguburkan mayat saudaranya Habil yang telah dibunuhnya, diajarkan oleh Allah dari meniru seekor gagak yang menggali–gali tanah guna menguburkan bangkai seekor gagak yang lain.[8] Oleh karena itu, tanggung jawab orang tua sangat berat terhadap anaknya, sebagaimana ayat Al-Qur’an dan Hadis berikut ini:

a. Firman Allah SWT

            Surat  Al-An’an ayat 165 berbunyi:

“ Dialah yang menetapkan kamu menjadi Khalifah di muka bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang di berikan-Nya kepadamu”.

Surat Luqman ayat 13                                                                   

Yang artinya:”Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya” Hai anakkku, jangan kamu memepersekutukan  Allah, seungguhnya mempersekutukan  (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

 b. Hadis Nabi

“Kerihdoan Allah tergantung kepada keridhoaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kemurkaan orang tua”.  Riawayat Tirmizi

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukulah mereka jika enggan mengerjakan, kalau mereka sudah berumur 10 tahun, dan pisahkan antara mereka ketika mereka tidur. “ H.R. Muslim

“ Dari Ibnu Umar r.a. berkata: rasulullah SAW bersabda: masing-masing kamu adalah pengembala dan masing-masing bertanggung jawab atas gemabalanya: pemimpin adalah pengembala, suami adalah pengembala terhadap anggota keluarganya, dan istri adalah pengembala di tengah-tengah rumah tangga suaminya dan terhadap anak. Setiap orang di antara kalian adalah pengembaala, dan dan masing-masing bertanggung jawab atas apa yang digembalakannya”. H.R. Bukhari dan Muslim

            Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT, menguji manusia dengan memberikan tanggung jawab kepada kedua orang tua yaitu anak untuk di jaga, di pilihara, dididik serta di besarkan. Maka dari itu, tanggung jawab dalam Islam, bernilai keagamaan, berarti kelalain seseorang terhadap anaknya akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat dan bernilai keduniawian, dalam arti kelalain seseorang terhadapnya dapat dituntut di pengadilan oleh orang-orang yang berada di bawah kepemimipinannya.[9]     

 

 

2. Gaya Hidup Anak Jalanan

Anak jalanan merupakan efek dari sebuah kemiskinan yang bersifat ekonomi maupun intelektual dimana fenomena anak jalanan ibarat sebuah gunung es yang terus meningkat jumlahnya setiap tahun akibat dari ketidak berdayaan mereka secara ekonomi memicu timbulnya masalah pengangguran diusia-usia produktif dimana seharusnya mereka dapat bekarya ditengah-tengah masyarakat. Keadaan demikian ini menyebabkan terjadinya kaum migran usia-usia produktif datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun mereka datang ke kota tanpa dibekali dengan sumber daya manusia yang mumpuni dan tidak memiliki keterampilan, ditambah sulitnya mencari lapangan pekerjaan, mengakibatkan mereka memilih pekerjaan apapun untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, seperti pemulung, pengamen, pengemis dan kecendrungan mereka untuk hidup berkelompok yang menjadi sebuah ikatan yang kuat dan ketergantungan antara satu dengan yang lainnya. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan salah seorang pengurus LSM (sikok Jambi) tertanggal 9 Maret 2016 sebagai sentera informasi, yang berinisial  DW menjelaskan tentang anak jalanan sebagai berikut:

a. Anak  jalanan lebih banyak di eksploitasi oleh orang tua mereka dengan cara meminta mereka untuk mengemis dijalan-jalan

b. Anak Jalanan ada yang sifatnya on the sreet, yang hidup dijalan tetapi kemudian pulang lagi kerumah dan ada juga anak jalanan yang hidupnya berkelompok dan tinggal di rumah-rumah kosong maupun didepan pusat-pusat pertokoan.

c. Anak jalanan baik on the street maupun anak Funk berasal dari luar daerah kota Jambi seperti sumatera Selatan, sumatera Barat bahkan ada yang dari pulau Jawa dan yang paling banyak berasal dari daerah sumatera Selatan

d. Anak jalanan yang dikoordinir oleh orang tua mereka dan berasal dari luar daerah, ada yang mengotrak rumah dan ada juga yang menginap di salah satu hotel (Hotel Mustika) dengan tarif yang cukup murah.

e. Lokasi-lokasi mereka mereka berada di daerah pusat perbelanja (Matahari), pasar (Angso Dua) maupun perempat lampu merah yang ada di kota Jambi (Simpang pulai, Sipin, Pasar)

       Pendapat juga dikemukakan oleh salah seorang staf Panti Sosial  tertanggal 10 Maret 2016 (Talang Bakung) yang berinisial Hr menjelaskan bahwa Panti Sosial adalah menampung anak jalanan yang jelas identitasnya dan anak yang memang terlantar dan sudah di rekomendasi dari Nakertransos Provinsi Jambi seperti:

a. Menampung anak jalanan yang merupakan kiriman dari nakertansos terutama anak-anak jalanan korban kekerasan dalam rumah tangga baik itu fisik maupun fsikis yang diabaikan oleh orang tua mereka.

b.  menampung anak yang jelas asal usul keluarganya sehingga mudah untuk didata dan berkomunikasi dengan orang tua.

c. membatasi jumlah anak sebanyak 50 orang yang menampung anak-anak usia bayi sampai 18 tahun.

d. melakukan pembinaan sesuai dengan bakat anak, seperti: belajar montir, driver, menjahit, anyaman, sablom dan ada beberapa anak dikirim ke pekan Baru (riau) untuk mendapat pembelakalan latihan berkelanjutan mengingat sarana dan prasarana yang lengkap.

Selanjutnya peneliti juga berkunjung ke Nakertransos dilakukan pada  tanggal 11 Maret 2016 yang disambut oleh Bapak yang berinisial MH (Kabid Dinsos), menjelaskan tentang masalah anak jalanan yaitu:

  1. Menangani 22 jenis masalah sosial, seperti Narkoba, aids, PSK,KDRT, Gepeng, anak jalanan, anak jalanan di sebut anak punk dan Rambo.
  2. Anak jalanan lebih banyak berasal dari SUMSEL karena faktor ekonomi, sedangkan anak funk karena disebabkan oleh masalah keluarga (broken home) yang berasal dari berbagai wilayah provinsi tetangga. Untuk mereka yang membawa motor-motor rakitan kebanyakan dari daerah jawa.
  3. Ditemukan modus baru yakni sengaja mengajak anak untuk berjualan koran agar tidak terkena dampak razia yang rutin dilakukan.
  4. Mereka yang tertangkap dan diserahkan ke dinsos ditampung selama 3 hari dengan diberi pembekalan agama. Setelah dibina, mereka dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Namun mereka ini kembali lagi dan berungkali pula tertangkap dan alasan mereka kembali karena mereka merasa menikmati dari hasil mengamennya dan mengamen adalah salah satu cara yang paling mudah dan gampang dalam menghasilkan uang.
  5. Mereka (anak funk) melakukan sex bebas diantara mereka bahkan ada yang sampai hamil. Mereka ada juga yang berasal dari anak yang orang tuanya berkecukupan tetapi memilih bergabung dengan anak funk dengan alasan mendapat kebebasan berekspresi serta tidak mau diatur oleh orangtua.
  6. Mengamen dan cenderung memaksa agar diberikan uang dan bila tidak mereka menggores mobil.
  7. Menggunakan ganja dan ada juga yang menggunakan lem aibon sebagai bahan mereka mabuk-mabukan.
  8. Lokasi mereka terbanyak di simpang BCA lama
  9. Temapat pembinaan khusus yang di kelaola oleh dDinsos belum ada di kota Jambi dan kemeterian pusat belum bersedia membangun karena biaya pembangunan dan operasionalnya begitu besar
  10. Pelatihan berkelanjutan bagi anak jalanan yakni dengan cara dikirim ke Pekanbaru selama 6 bulan untuk mendapat bekal latihan kerja sesuai minat mereka

 

Kemudian peneliti juga mengunjungi salah satu rumah singgah anak jalanan yang ada di Provinsi Jambi yang memiliki Yayasan Bina Insan Mulia (YABIMA) tertanggal 13 Maret 2016 yaitu ibu yang berinisial EV menjelaskan bahwa: YABIMA menangani pendidikan anak jalanan seperti berikut ini:

a. Menangani anak-anak terlantar, anak jalanan, lansia, KDRT, eks NAPI, pemulung dan Gepeng

b. Menyediakan sekolah gratis setingkat SD sampai SMP

c. Bekerjasama dengan Kemensos dan pemberdayaan perempuan

d. Bantuan dari Kemensos diterima dari tahun 2004 dan berhenti pada tahun 2008 karena banyaknya LSM yang berdiri

e. Bantuan yang di peroleh hingga saat ini yakni dari donatur tetap, diantaranya dari anggota Dewan Provinsi Jambi seperti Zoerman Manaf, Sina Riau (Pekan Baru),  dari keluarga Ketua Yabima (Eva) dan dari pengurus-pengurus Yabima

f. Data anak jalanan pada bulan Oktober 2015 berjumlah 350 orang

g. Anak Jalanan lebih banyak berasal dari wilayah Sumatera Selatan

h. Anak jalanan di upayakan terus dapat bersekolah

i. Penyebab anak jalanan selain sektor ekonomi juga di karenakan kurang mendapat perhatian dari orang tua terutama pada anak Funk yang memilih untuk dapat berkumpul bersama dan berbagi di antara mereka

J. Ciri khas pada Funk, yakni dengan tampilan yang mencolok baik dari segi pakaian ala metal serta memiliki anting-anting yang banyak. Khusus untuk anak jalanan yang berpenampilan rambut ikal-ikal, mereka menamakan dirinya kelompok “Rambo”

K. Mereka (anak Funk dan Rambo) jarang mandi rata-rata hanya 2 bulan sekali mandi dan mereka memiliki kehidupan yang suka berkelana dari satu daerah ke daerah  yang lainnya.

L. Ada juga jalanan yang dieksploitasi oleh orang tua dan kelompok-kelompok tertentu dengan setoran masing-masing anak Rp, 3000,- perhari

M. Meskipun anak di sekolahkan di Yayasan, tetapi dalam proses belajar mereka diberi kebebasan oleh pihak sekolah sehingga belajar mereka tidak terkesan dipaksa di samping mereka juga dalam belajar masih sesukanya.

               Menurut Abul Faruq  Ayp Syafruddin, ciri khas  anak jalanan seperti: kaos hitam, berjaket lusuh, celana Jin Robek, sepatu boots, bertato, telingga ditindik, rambut gaya mohawk dengan mencukur habis bagian kanan, kiri rambut dan membiarkan bagian tengahnya tetap memanjang. Biasa juga dengan model rambut deathowk yang membiarkan sedikit rambut dekat telingga menjuntai ke bawah sehingga menimbulkan kesan lusuh, urakan, dan seram. Dandanan mereka di lengkapi dengan asesoris kalung salib terbalik atau logo nazi-swastika. Sebagian mereka hidup secara liar, tidak memiliki hunian yang tetap. Hidup mereka dari jalan-jalan, tidak sedikit ditemukan dari kalangan mereka terjerat narkoba, suka mabuk-mabukan dan memalak: meminta uang secara paksa kepada masyarakat. Jika mereka hendak berpergian atau beralih tempat, mereka cukup bergerombolan menghentikan kenderaan bak terbuka lalu menumpanginya. Kesan dimasyarakat, mereka adalah gerombolan anak muda yang hidup bebas tanpa aturan, semau gue, masyarakat mengenal mereka sebagai gerombolan punk.[10]

 Punk tumbuh empat tahun yang lalu, berawal dari satu generasi di Amerika dan inggris yang kemudian menyebar keberbagai belahan bumi. Menurut Profaue Existence yang di kutif oleh Anwar Bajari, sebuah Fuazine (publikasi Internal) asal Amerika menyebutkan bahwa Indonesia dan Bulgia adalah negara dengan tingkat perkembangan punk peringkat teratas di dunia. Di Indonesia sendiri pungk masuk sekitar dekade 80-an melalui musik dan Fesyen. Generasi punk mulai membiak seiring penampilan kelompok musik pungk, sex pistol, yang banyak di gandrungi oleh kawula muda dan remaja mulailah budaya menjiplak mentah-mentah budaya impor tersebut. Mereka itu dandanan punk seperti rambut gaya mohawk dan kelengkapan aksesoris lainny. Banyak anak mudak terpicut pungk, tentu tidak bisa lepas dari peran musik.

 Menurut hasil penelitian Anwar Bajari, bahwa anak jalanan telah memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keluarga. Makna keluarga bagi mereka adalah sekelompok orang di mana dia harus ikut ambil bagian dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka. Makna kontribusi terhadap keluarga bagi anak jalanan adalah seberapa besar uang yang harus di setorkan kepada orang tuanya dalam rangka membantu kehidupan keluarganya. Di samping itu, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, misalnya, membayar uang sekolah dengan biaya yang di dapatkan dari hasil keringat mereka.

 

3. Pendidikan Anak Jalanan

            Pasal 31 UUD 1945 dalam ayat 1 di tegaskan bahwa setiap orang berhak atas pendidikan. Tanpa membedakan suku, ras, agama, atau bahkan keadaan sosial ekonominya. Artinya, anak jalanan memiliki hak yang sama mendapatkan pendidikan yang layak untuk mengembangkan dirinya. Sesuai dengan bunyi pasal 5 UU No. 20 Tahun 2003 ayat 1, setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ayat 5, setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan pendidikan sepanjang hayat.[11]

M.J. Langeveled yang dikutip oleh Engkoswara dan Aan Komariah bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnyasendiri tidak dengan orang lain, dengan kata lain membimbing anak mencapai kedewasaan.[12] Maka dari itu, Made Pidarta juga mengemukakan bahwa anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dana manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka juga akan mendidik anak-anaknya.[13]

Berdasarkan hasil obsevasi  peneliti ke beberapa lembaga sosial yang ada di Provinsi Jambi, terindikasi bahwa pendidikan anak jalanan itu ada di beberapa titik seperti yang telah dikemukakan pada poin sebelumnya yaitu YABIMA, Sikok Panti Sosial. Pendidikan anak jalanan sudah lama di tanggani oleh beberapa elemen tersebut, akan tetapi proses pembelajaran yang dilakukan oleh pengelolaan pendidikan tersebut sesuai dengan waktu segang anak jalanan yaitu  ketika anak jalanan istirahat mengamin yaitu jam 10 wib pagi. Pendidikan anak jalanan tidak sama dengan anak-anak normal yang belajar pada sekolah formal yang sesuai dengan prosedur yang ada di sekolah. Akan tetapi belajar anak jalanan tidak tersusun dengan sistematis, jam belajar anak jalanan menurut kemauan dan waktu istirahat anak jalanan. Artinya pendidikan anak jalanan terabaikan oleh faktor kemiskinan dan lemahnya ekonomi orang tua.

Hasil observasi tersebut di atas, diperkuat oleh salah seorang ketua YABIMA yang berinisial EV, mengatakan bahwa menjadi pengelola pendidikan anak jalanan memeng sangat sulit, karena proses pembelajaran terjadi ketika jam anak jalanan istirahat dari mengamin. Pembelajaran terjadi hanya satu jam saja setelah itu anak jalanan pergi lagi mengamin, dan terjadi secara terus menerus tidak hanya pada pagi hari akan tetapi juga pada sore hari. Untuk menjadi tenaga pengajar hanya orang-orang yang peduli saja pada anak jalanan, bisa dari dosen, dosen psikologi dan ada juga dari LSM itu sendiri sukarela untuk memberikan ilmunya kepada anak jalanan sekaligus memberi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah S.W.T.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh salah seorang pendamping anak jalanan yang berinisial HR mengatakan bahwa anak jalanan mayoritas berasal dari Sumatera Selatan, miskipun anak jalanan yang pulang kerumah selesai mengamin di Provinsi Jambi ini, juga berasal dari Sumatera Selatan. Selain itu, semua anak  jalanan di beberapa titik yang ada di Provinsi Jambi, sudah ada yang mengkoordinirnya. Kemudian untuk memberi pendidikan atau pembinaan rohani kepada anak jalanan sama dengan tempat-tempat yang yaitu menunggu anak jalanan tersebut istirahat mengamin, dan waktunya sangat singkat. Tapi sebagai pendamping terus menerus memberi pendidikan kepada kepada anak jalanan tersebut, agar pada suatu saat anak jalanan ini menyadari bahwa pendidikan itu penting untuk masa depannya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara tersebut di atas, dapat simpulkan bahwa anak jalanan yang ada di Provinsi Jambi ini mayoritas berasal dari daerah Sumatera Selatan. Di lihat dari segi pendidikan anak jalanan sangat terabaikan, bahkan bisa di katakan bahwa  pendidikan bagi anak jalanan tidak penting, yang paling penting bagi anak jalanan adalah  bagaimana cara mendapatkan uang cepat untuk kebutuhan hidupnya selain itu, bisa membatu ekonomi orang tuanya. Hal ini tentu butuh perhatian yang serius dari berbagai pihak yang terkait dengan pengelolaan pendidikan anak jalanan, dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak bangsa Indonesia.  Karena pendidikan adalah suatu proses secara kontinu (terus-menerus) sepanjang hayat kehidupan manusia. Sesuai dengan apa yang di kemukakan oleh Zainuddin bahwa pendidikan tersebut seyogianya juga tidak mengenal konsep berhenti atau putus belajar, seharusnya pendidikan berjalan sepanjang hayat (long life education).[14]

John Dewey yang dikutif oleh Syaiful Sagala, mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses tanpa akhir (Education is the proces withhout end), dan pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (daya intelektual) maupun daya emosional (perasaan) yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya.[15] Pendidikan Indonesia itu, adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi individu demi tercapainya kesejahteraan pribadi, masyarakat, dan negara.[16]

Rasyd yang di kutip oleh Sirozi, ada dua alasan utama mengapa para penguasa muslim sangat peduli dengan pendidikan. Pertama, karena Islam adalah agama yang totaliter jam’i, mencakup semua aspek kehidupan seorang muslim mualai dari makan dan minum, tata cara berumah tangga, urusan sosial kemasyaraka, sampai pada ibadat semuanya di atur oleh syari’at. Untuk mengetahui bagaimana hidup yang Islam, seorang Muslim mesti terlihat dengan kegiatan pendidikan.Kedua, Karena Motivasi politik, sebab di dalam Islam antara politik dan agama sulit untuk dipisahkan. Para penguasa Muslim sering menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menanamkan paham-paham keagamaan. Inilah yang dilakukan oleh Dinasti Buwaih, Fatimiyah, dan Khalifah al-Makmun. Dengan kekuasaan mereka menanamkan ideologi negara dengan tujuan lahirnya kesamaan ide antara penguasa dan masyarakat umum sehingga pengaturan masalah-masalah kenegaraan.[17]

B. Kesimpulan       

            Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah S.W.T, untuk di jaga, di didik, di pilihara dan di besarkan sampai anak tersebut memiliki kemampuan untuk mandiri. Namun fakta berkata lain, faktor kemiskinan ekonomi orang tua menjadi salah satu penyebab kebutuhan hidup tidak dapat dipenuhi oleh orangtua sehingga anak ikutan  mencari solusi untuk membantu ekonomi orang tua yaitu menjadi pengamin, mengemis, berjualan koran di jalan-jalan, lampu merah dan di pasar-pasar untuk membantu ekonomi orang tuanya dan untuk keperluannya membayar biaya sekolah. Semantara itu, pendidikan anak jalanan tidak di perhatikan lagi oleh orang tua, yang pada akhirnya anak jalanan mendapat perhatian dari beberapa orang pekerja sosial yang sangat peka dengan anak jalanan bekerja sama dengan beberapa elemen lainnya seperti LSM dan Yayasan untuk memberikan pendidikan yang layak  bisa diikuti oleh anak jalanan.

C. Rekomendasi

            Berdsarkan uraian tersebut di atas, dapat di rkomendasikan sebagai berikut:

  1. Pemerintah perlu melakukan kerja sama dengan bimbingan belajar yang dekat dengan lokasi anak jalanan berkumpul

 

  1. Pemerintah perlu membuat rumah singgah di titik lokasi anak jalanan berkumpul sebagai tempat mereka belajar.

 

  1. LSM  dan Yayasan yang terlibat mengkoordinir pendidikan anak jalanan, harus melakukan kerjasama dengan Lembaga-lembaga Pendidikan yang ada di Provinsi Jambi ini, untuk sama-sama memberikan pendidikan, pembinaan dan pelatihan kepada anak jalanan.

 

  1. Orang tua  jangan mengeksploytasi anak di bawah umur untuk menjadi pengemis, pengamin, serta membiarkan anak menjadi liar dan di besarkan oleh siang dan malam.

 

D. Penutup

Demikianlah laporan hasil pemetaan dampak negatif anak jalanan yang ada di Kota Jambi. Semoga kegiatan ini mampu mewujudkan visi PSGA pada khususnya, dan IAIN SulthanThaha Saifuddin Jambi padaumumnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abul Faruq Ayip Syafruddin, Punk Gaya Hidup Anak Jalanan, (Majalah asy Syariah: forumsalafy.net), 2016

 Anwar Bajari, Poseding Anak Jalanan: Dinamika Komunikasi dan Perilaku Sosial Anak Menyimpang, Bandung: Humaniora, 2012

Depag, Al-Qu’an dan Terjemah, Jakarta: Proyek pengadaan Al-Qur’an 1986

Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005

Kemendiknas, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 122/Menkes/SK/XII/2009 tentang pedoman Pentalaksanaan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Rumah Sakit

M. Sirozi, Politik Pendidikan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005

Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007

Martinis dan Maisah, Oriantasi Baru Ilmu Pendidikan, Jakarta: referensi, 2012

Mulyono, Konsep Pembiayaan Pendidikan, Yokyakarta: Ar-Ruzz Media Grup, 2010

 Peraturan Gubernur Jambi Nomor 54 Tahun 20013 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pemberdayaan Perempuan dan anak

Perda Provinsi Daerah Istimewa Yokyakarta, No. 6 Tahun 2011 Tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalm Mulya, 2002

 

Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung: Alfabeta, 2009

Tribun, Target Kurangi 6,56 Persen Masyarakat Miskin, Jambi, 20 April 2016

Zainuddin, Reformasi Pendidikan, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                      

  

 

 

 

 

 

 

 

 

  



[1] Tribun, Target Kurangi 6,56 Persen Masyarakat Miskin, Jambi, 20 April 2016, h.5

[2] Perda Provinsi Daerah Istimewa Yokyakarta, No. 6 Tahun 2011 Tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan

[3] Martinis dan Maisah, Oriantasi Baru Ilmu Pendidikan, Jakarta: referensi, 2012, h. 39

[4] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005, h. 236

[5] Ibit, h. 237

[6] Peraturan Gubernur Jambi Nomor 54 Tahun 20013 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pemberdayaan Perempuan dan anak, h, 3

[7] Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 122/Menkes/SK/XII/2009 tentang pedoman Pentalaksanaan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Rumah Sakit, h. 4

[8] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalm Mulya, 2002, h. 89

[9] Ibid, h. 89

[10] Abul Faruq Ayip Syafruddin, Punk Gaya Hidup Anak Jalanan, (Majalah Asy Syariah: forumsalafy.net), 2016, h.1

[11] Kemendiknas, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas

[12] Engkoswara dan Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010, h, 5-6

[13] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007, h.1.

[14] Zainuddin, Reformasi Pendidikan, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, h. 41.

[15] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung: Alfabeta, 2009, h. 4

[16] Mulyono, Konsep Pembiayaan Pendidikan, Yokyakarta: Ar-Ruzz Media Grup, 2010, h. 44.

[17] M. Sirozi, Politik Pendidikan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005, h. 5-6.

 

Share on:

Pengumuman

Kamis, 11 Juli 2018 | 23:52:47 WIB

PENGUMUMAN DAFTAR POSKO KKN TH.2018..


Senin, 25 Juni 2018 | 19:21:17 WIB

PENGUMUMAN PERPANJANGAN WAKTU..


Jumat, 01 Maret 2018 | 20:27:20 WIB

PENGUMUMAN PENDAFTARAN DOSEN PEMBIMBING..


Rabu, 07 Februari 2018 | 23:25:51 WIB

Workshop Peningkatan Mutu Penelitian..


Senin, 05 Februari 2018 | 16:07:47 WIB

Pendataan Artikel Jurnal Karya Dosen..


Kamis, 28 September 2017 | 22:51:46 WIB

PENGUMUMAN DIKLAT KUKERTA KEMITRAAN..


Download

Artikel Terbaru