Mengembangkan Literasi Data melalui Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Matematika

Mengembangkan Literasi Data melalui Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Matematika

Berita 8 menit baca 65 kali dilihat

Hasil Riset Litapdimas 2025#

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan bukan sekadar menghadirkan teknologi di ruang kelas. Lebih dari itu, teknologi perlu diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan mengolah data. Pengembangan media pembelajaran berbantuan Web Diffit menawarkan salah satu alternatif untuk menjawab tantangan tersebut.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan menggunakan informasi. Data kini menjadi bagian penting dalam hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga pengambilan kebijakan publik. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan membaca dan memahami data tidak lagi menjadi keterampilan tambahan, tetapi telah berkembang menjadi kompetensi dasar yang dibutuhkan masyarakat modern.

Dunia pendidikan tentu tidak dapat mengabaikan perubahan ini. Sekolah dan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menghasilkan peserta didik yang menguasai pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu menggunakan informasi secara kritis, memahami pola, membaca kecenderungan, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.

Dalam konteks pembelajaran matematika, tuntutan tersebut menjadi semakin relevan. Matematika tidak semestinya hanya dipahami sebagai kumpulan rumus, angka, dan prosedur perhitungan. Disiplin ilmu ini sesungguhnya menyediakan landasan untuk mengembangkan kemampuan bernalar, mengenali hubungan antarkonsep, serta memahami fenomena melalui pendekatan kuantitatif.

Salah satu kompetensi yang perlu diperkuat adalah literasi data. Kemampuan ini mencakup kecakapan membaca, menafsirkan, menganalisis, dan menggunakan data untuk memahami persoalan serta menghasilkan kesimpulan yang tepat. Dengan literasi data, peserta didik tidak hanya mengetahui jawaban dari suatu persoalan, tetapi juga memahami bagaimana suatu kesimpulan diperoleh.

Sayangnya, pembelajaran matematika masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan kompetensi tersebut. Materi tertentu, seperti pola bilangan, sering dianggap abstrak dan sulit dipahami karena peserta didik harus mengenali hubungan antarnilai, memahami keteraturan, serta menemukan prinsip yang mendasari suatu pola.

Persoalan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran matematika membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital.

Teknologi dan Perubahan Pembelajaran Matematika

Revolusi Industri 4.0 telah mempercepat integrasi teknologi digital dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Teknologi AI memungkinkan pengembangan materi pembelajaran, penyederhanaan konsep yang kompleks, serta penyediaan sumber belajar yang lebih beragam. Guru dan dosen juga memiliki kesempatan untuk merancang pengalaman belajar yang lebih menarik melalui pemanfaatan berbagai platform digital.

Namun, penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kebaruan. Teknologi bukan tujuan akhir pembelajaran, melainkan instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan. Keberhasilannya harus diukur dari sejauh mana teknologi membantu peserta didik memahami konsep, mengembangkan keterampilan berpikir, dan meningkatkan kualitas proses belajar.

Di sinilah pentingnya pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik.

Salah satu platform yang dapat dimanfaatkan adalah Web Diffit. Platform ini memungkinkan pendidik mengembangkan bahan pembelajaran dengan dukungan kecerdasan buatan. Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran sehingga lebih mudah diakses dan dipahami oleh peserta didik.

Penggunaan platform semacam ini membuka peluang untuk mengubah pembelajaran yang sebelumnya cenderung berpusat pada penjelasan guru menjadi pembelajaran yang lebih interaktif. Peserta didik dapat berhadapan dengan materi yang disusun secara lebih kontekstual, sementara pendidik memiliki ruang untuk mengembangkan variasi aktivitas belajar.

Akan tetapi, pemanfaatan AI juga membutuhkan kecakapan baru. Peserta didik tidak cukup hanya mampu mengakses teknologi, tetapi perlu memahami bagaimana memberikan instruksi atau perintah yang tepat agar teknologi menghasilkan informasi sesuai kebutuhan.

Mengembangkan Media Berbasis Web Diffit

Pentingnya inovasi tersebut menjadi latar belakang penelitian pengembangan media pembelajaran berbantuan Web Diffit. Penelitian ini diarahkan untuk mengembangkan media pembelajaran matematika yang dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi data siswa, khususnya dalam memahami materi pola bilangan.

Penelitian menggunakan pendekatan research and development (R&D) dengan model prosedural Borg & Gall. Model ini memberikan kerangka sistematis dalam menghasilkan produk pendidikan melalui tahapan pengembangan dan pengujian secara bertahap.

Terdapat delapan tahapan yang dilakukan, mulai dari analisis kebutuhan, penyusunan produk awal, validasi ahli, revisi produk, uji coba terbatas, hingga uji coba lapangan. Rangkaian tersebut penting untuk memastikan bahwa media yang dikembangkan tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan materi dan tujuan pembelajaran.

Hasil validasi menunjukkan bahwa media pembelajaran memperoleh penilaian sangat baik. Ahli materi memberikan skor 93,47 persen, sedangkan ahli media memberikan skor 92,89 persen. Kedua penilaian tersebut masuk dalam kategori sangat valid.

Hasil ini menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan telah memenuhi kelayakan dari sisi substansi materi maupun aspek media pembelajaran.

Penilaian berikutnya dilakukan melalui uji kepraktisan. Pada kelompok kecil, media memperoleh skor 94,25 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 95,55 persen pada kelompok utama. Keduanya masuk dalam kategori sangat praktis.

Sementara itu, pengujian efektivitas pada tahap uji coba lapangan menghasilkan skor 96,66 persen dengan kategori sangat efektif.

Rangkaian hasil tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan media pembelajaran berbantuan Web Diffit memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran matematika. Produk tidak hanya dinilai layak oleh para ahli, tetapi juga memperoleh penilaian positif dalam aspek kepraktisan dan efektivitas berdasarkan kriteria penelitian.

Meski demikian, angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai dengan instrumen dan indikator yang digunakan dalam penelitian. Penilaian validitas, kepraktisan, dan efektivitas memiliki fungsi pengukuran yang berbeda. Karena itu, ketiganya tidak dapat disamakan secara langsung dengan peningkatan kemampuan literasi data dalam jangka panjang.

Tantangan Literasi Digital: Kemampuan Menyusun Perintah

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya kendala peserta didik dalam menyusun perintah atau instruksi yang tepat ketika menggunakan platform berbasis AI.

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan teknologi canggih tidak secara otomatis menjamin keberhasilan pembelajaran. Kualitas hasil yang diperoleh dari sebuah platform AI sangat dipengaruhi oleh kemampuan pengguna dalam merumuskan kebutuhan dan memberikan instruksi secara jelas.

Dalam perkembangan teknologi AI, kemampuan menyusun perintah dikenal dengan istilah prompting. Keterampilan ini berkaitan dengan kecakapan merumuskan instruksi, memberikan konteks, menentukan tujuan, serta menjelaskan bentuk informasi yang diharapkan dari sistem AI.

Sebagai contoh, ketika mempelajari pola bilangan, siswa tidak cukup hanya memberikan perintah umum seperti meminta AI menjelaskan suatu materi. Mereka perlu menyusun instruksi yang lebih spesifik, misalnya meminta penjelasan mengenai hubungan antarnilai dalam suatu pola, memberikan contoh kontekstual, atau menyusun latihan berdasarkan tingkat kesulitan tertentu.

Kemampuan menyusun perintah tersebut sesungguhnya berkaitan erat dengan kemampuan berpikir. Siswa harus memahami terlebih dahulu persoalan yang sedang dihadapi, menentukan informasi yang dibutuhkan, kemudian merumuskan instruksi agar teknologi dapat memberikan respons yang relevan.

Dengan demikian, prompting tidak semestinya dipandang hanya sebagai keterampilan teknis dalam mengoperasikan AI. Ia juga merupakan bagian dari literasi digital dan proses berpikir kritis.

Temuan penelitian ini memberikan pesan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis AI harus disertai dengan penguatan kompetensi penggunanya. Tanpa pendampingan yang memadai, peserta didik berpotensi hanya menjadi pengguna pasif yang menerima hasil teknologi tanpa memahami proses dan ketepatan informasi yang dihasilkan.

Karena itu, sebelum media diterapkan secara luas, diperlukan pendampingan mengenai cara menyusun perintah yang efektif, mengevaluasi jawaban AI, serta memeriksa kesesuaian informasi dengan konsep matematika yang dipelajari.

Guru Tetap Menjadi Penentu Kualitas Pembelajaran

Kehadiran AI dalam pendidikan juga memunculkan pertanyaan mengenai posisi guru dalam proses pembelajaran. Apakah teknologi akan menggantikan peran pendidik?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan melihat hakikat pendidikan. Pembelajaran bukan sekadar proses menyampaikan informasi, melainkan proses membangun pemahaman, karakter, sikap, dan kemampuan berpikir peserta didik.

AI memang dapat membantu menyediakan materi, memberikan penjelasan, dan menghasilkan variasi latihan. Namun, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran pedagogis guru dalam memahami kondisi peserta didik, membangun interaksi sosial, memberikan motivasi, serta membimbing proses berpikir.

Dalam pembelajaran matematika, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa peserta didik tidak hanya memperoleh jawaban, tetapi juga memahami alasan dan proses di balik jawaban tersebut.

Guru juga perlu membangun kebiasaan verifikasi. Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar. Karena itu, siswa harus dibiasakan memeriksa kembali hasil yang diperoleh, membandingkannya dengan konsep matematika, dan mengembangkan argumentasi berdasarkan bukti.

Pendekatan ini penting agar penggunaan AI tidak justru melemahkan kemampuan bernalar. Sebaliknya, teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat kemandirian belajar dan membangun tradisi berpikir kritis.

Menyiapkan Pendidikan yang Berorientasi pada Literasi Data

Pengembangan media pembelajaran berbantuan Web Diffit memberikan gambaran bahwa transformasi digital pendidikan perlu diarahkan pada penguatan kompetensi substantif. Kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan memahami informasi, mengolah data, dan mengambil keputusan secara rasional.

Dalam konteks pembelajaran matematika, literasi data dapat menjadi jembatan antara pengetahuan konseptual dan persoalan kehidupan nyata. Peserta didik dapat belajar memahami pola, membaca kecenderungan, membandingkan informasi, serta menyusun kesimpulan berdasarkan data.

Namun, keberhasilan transformasi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem pendidikan. Perguruan tinggi, khususnya program studi Tadris Matematika, memiliki tanggung jawab strategis untuk mempersiapkan calon guru yang tidak hanya menguasai materi matematika, tetapi juga memiliki kemampuan pedagogis dan literasi teknologi.

Calon guru perlu dibekali keterampilan mengembangkan media pembelajaran digital, memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, serta merancang aktivitas belajar yang mendorong kemampuan analisis dan pemecahan masalah.

Di sisi lain, lembaga pendidikan juga perlu memastikan tersedianya infrastruktur digital dan pendampingan yang memadai. Inovasi teknologi tidak akan memberikan dampak optimal apabila tidak didukung kesiapan pendidik, peserta didik, dan lingkungan pembelajaran.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang digunakan di ruang kelas, melainkan oleh seberapa bermakna teknologi tersebut membantu manusia belajar dan berkembang.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan Web Diffit menjadi salah satu ikhtiar untuk menjawab tantangan itu. Teknologi AI dapat membantu menjadikan matematika lebih mudah dipahami, tetapi kemampuan berpikir, menafsirkan data, dan mengambil keputusan tetap harus tumbuh dalam diri peserta didik.

Sebab, tujuan utama pendidikan bukan menciptakan generasi yang sekadar mahir menggunakan teknologi, melainkan generasi yang mampu mengendalikan teknologi dengan pengetahuan, nalar kritis, dan tanggung jawab.

INFORMASI PENELITIAN

  • Peneliti: Dr. Ali Murtadlo
  • Judul: Pengembangan Media Pembelajaran Mahasiswa Tadris Matematika untuk Kemampuan Literasi Data dengan Berbantuan Web Diffit
  • Pendekatan: Research and Development (R&D).
  • Model pengembangan: Borg & Gall.
  • Fokus: Pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan AI untuk mendukung literasi data siswa.
  • Platform: Web Diffit.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.