Pendidikan Akhlak Buya Salek dan Karomah Pengabdian di Provinsi Jambi

​Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif

(Guru Besar UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi)

​A. Pendahuluan
​Provinsi Jambi secara historis merupakan episentrum intelektualitas Islam di Sumatera yang memiliki keterhubungan erat dengan jaringan ulama Timur Tengah. Salah satu pilar utamanya adalah KH. Muhammad Salek, atau yang secara takzim dijuluki Buya dan Guru Salek oleh masyarakat Sarolangun. Beliau lahir pada tahun 1910 di Desa Penegah, Sarolangun. Sebagai tokoh kharismatik, beliau bukan sekadar pengajar teks klasik, melainkan penjaga gawang moralitas masyarakat pasca-kolonial.

​Guru Salek adalah representasi nyata dari konsep Zul-Funun, yakni ulama multitalenta yang menguasai berbagai disiplin ilmu secara simultan. Sebagaimana dikemukakan oleh Azra (2004), tipologi ulama Nusantara seperti Buya Salek mampu menjadi jembatan antara ortodoksi Islam Makkah dengan heterogenitas budaya lokal. Pendidikan akhlak yang beliau canangkan tidak bersifat doktriner semata, melainkan berbasis pada pengalaman spiritual yang mendalam. Dalam konteks ini, buku Pendidikan Karakter Berbasis Lokal (Latif, 2020) memberikan landasan teoretis bahwa nilai-nilai moral akan lebih efektif jika diinternalisasikan melalui pendekatan kultural yang akrab dengan keseharian masyarakat, sebuah prinsip yang telah lama dipraktekkan secara organik oleh Guru Salek di Sarolangun melalui integrasi zikir dan kerja keras yang nyata.

​B. Riwayat Pendidikan: Meniti Sanad di Jantung Spiritual Makkah
​Guru Salek memulai pengembaraan intelektualnya pada tahun 1922 M (usia 12 tahun). Beliau diberangkatkan ke Makkah Al-Mukarramah dan bermukim selama kurang lebih 13 tahun. Periode ini adalah fase formatif di mana beliau menyerap langsung keilmuan dari pusat dunia Islam. Di Masjidil Haram, beliau berguru kepada ulama-ulama besar pada saat tahun itu, seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani dan Syekh Muhammad Amin al-Kuthbi.

​Sistem pendidikan Haramayn Network memungkinkan Buya Salek memiliki sanad yang presisi dan mutawattir. Komunikasi ulama Nusantara di Timur Tengah kala itu tidak saja melakukan transmisi ilmu, tapi jugaa pembentukan identitas spiritual yang kokoh (Laffan, 2003). Penguasaan beliau terhadap Fiqih Mazhab Syafi’i dan Tauhid Asy’ariyah menjadi bekal utama saat beliau kembali ke Jambi pada pertengahan 1930-an. Ketajaman beliau dalam memahami struktur bahasa Arab menjadikannya seorang ahli bahasa (Lughah) sekaligus ahli hukum Islam (Faqih) yang sangat disegani. Pendidikan di Makkah tidak hanya membentuk kognisinya, tetapi juga membangun disiplin ruhaniah yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan beliau di masa depan.

​C. Jaringan Ulama Sumatera dan Transmisi Sanad Rokan
​Meskipun banyak ulama Sumatera, termasuk Guru Salek, mengenyam pendidikan bertahun-tahun di Timur Tengah, terdapat ikatan batin yang kuat dengan pusat-pusat spiritual lokal. Mengingat Syekh Abdul Wahab Rokan (1811–1926) wafat pada saat Guru Salek masih menuntut ilmu di Makkah, maka keterhubungan beliau dengan jaringan Babussalam (Langkat) bersifat Transmisi Sanad Kolektif.

​Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1934, para ulama Jawi seringkali memantapkan amaliah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) mereka melalui para Khalifah Syekh Abdul Wahab Rokan. Suluk yang dilakukan bukan lagi kepada sosok Syekh secara fisik, melainkan kepada para mursyid penerus yang menjaga kemurnian ajaran Babussalam di tanah Melayu. Hal ini menunjukkan bahwa otoritas Hijaz yang dibawa Guru Salek tetap memerlukan “legitimasi lokal” melalui jaringan tarekat yang sudah mengakar di Sumatera guna memperkuat basis dakwah sosialnya (Latif, 2020).

​D. Model Pendidikan Akhlak dan Literasi Kitab Kuning
​Model pendidikan akhlak Guru Salek adalah Model Integratif-Dialogis. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis sosiologi pendidikan (Latif, 2020), karakter murid dibentuk melalui proses “pengasuhan ruhani”. Akhlak tidak diajarkan sebagai teori dingin di papan tulis, melainkan sebagai gaya hidup (way of life) yang disaksikan langsung melalui perilaku guru.

​Kitab Utama dalam Kurikulum Guru Salek:

1. ​Bidayatul Hidayah (Imam Al-Ghazali): Digunakan untuk membentuk kedisiplinan akhlak harian santri.

2. Ta’lim al-Muta’allim (Imam Al-Zarnuji): Sebagai fondasi etika hubungan antara guru dan murid.

3. Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali): Menjadi rujukan puncak dalam membedah penyakit hati.

4. Al-Hikam (Ibnu Atha’illah): Digunakan untuk mengajarkan ketauhidan tingkat tinggi.

​Lembaga yang menjadi pusat dakwah beliau adalah Madrasah (pesantren) Al Anwar As Salikiyah di Desa Penegah. Madrasah ini menjadi laboratorium pendidikan karakter di mana Guru Salek menyelaraskan tuntutan syariat dengan kelembutan akhlak sufi.

​E. Guru Salek dan Genealogi Sufi Aktif: Paralelisme dengan Hasan Al-Basri dalam Kitab Qishasul Auliya
​Dalam sejarah dunia kesufian, Guru Salek merepresentasikan tipologi Sufi Aktif (Active Sufism). Gaya hidup dan metodologi spiritual beliau memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan Imam Hasan Al-Basri (21-110 H). Jika merujuk pada kitab Qishasul Auliya (Naisaburi, dkk.), terdapat paralelisme yang mendalam antara kedua tokoh ini:

1. ​Gaya Kesufian Hasan Al-Basri: Dalam Qishasul Auliya, Hasan Al-Basri digambarkan sebagai “permata” dari kalangan Tabi’in yang memadukan kezuhudan dengan keberanian sosial. Beliau tidak pernah memisahkan antara ibadah batin dengan tanggung jawab membimbing umat (Naisaburi, 2005). Guru Salek mengadopsi gaya ini; beliau terlibat langsung dalam urusan sosial, pendidikan, bahkan ekonomi masyarakat Sarolangun tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.

2. ​Keterlibatan Sosial-Ekonomi dan Perjuangan: Sebagai sufi aktif, Guru Salek memiliki keluarga (istri dan anak-anak) dan tidak meninggalkan tanggung jawab domestik. Beliau membuktikan bahwa tasawuf bisa selaras dengan peran sebagai kepala keluarga dan penggerak ekonomi. Dalam perjuangan kemerdekaan, beliau menjadi rujukan spiritual pejuang, mengingatkan kita pada narasi kesalehan aktif dalam Qishasul Auliya.

3. Analogi Karakter: Keduanya menekankan pada aspek Khasy-yah (gentar kepada Allah). Guru Salek, layaknya Hasan Al-Basri, menggunakan lisan yang fasih dan nasihat yang menggugah untuk melakukan transformasi karakter pengikutnya. Kesungguhan mereka dalam zikir diimbangi dengan keseriusan dalam mendidik moral bangsa.

​F. Amaliyah Tariqah: Rahasia Bilangan 4444 dan Kekuatan Shalawat
​Sebagai pengamal setia Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), Guru Salek memiliki disiplin amaliah yang ketat. Zikir utama beliau adalah zikir Lathaif yang dilakukan secara sirri (dalam hati).

Kekuatan Shalawat Nariyah:

Amalan yang paling fenomenal adalah pembacaan Shalawat Nariyah (Shalawat Kamilah) sebanyak 4444 kali. Dalam tradisi sufisme, bilangan ini merupakan “kunci” pembuka hijab kebuntuan hidup (Bruinessen, 1995). Beliau mengajarkan bahwa bilangan 4444 adalah simbol totalitas kepasrahan kepada Rasulullah SAW guna memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi musibah atau wabah desa. Zikir ini sering dibarengi dengan kalimat La ilaha illallah dan asma Allah sebagai fondasi tauhid sebelum memasuki wilayah selawat yang lebih emosional.

​G. Sang Zul-Funun: Seni Hadrah, Qasidah, dan Estetika Dakwah Melayu
​Kecintaan Guru Salek pada seni Hadrah, Qasidah, dan Syair menunjukkan sisi estetis dakwahnya. Beliau memahami bahwa masyarakat Melayu Jambi memiliki resonansi jiwa yang kuat terhadap bunyi perkusi dan rima puitis.

1. Rebana sebagai Instrumen Dakwah: Hadrah digunakan sebagai instrumen “pemanggil” massa, terutama kaum muda. Di sela ketukan ritmis, beliau menyisipkan pesan moral tentang adab menghormati orang tua.

2. ​Sastra Arab dan Syair Lokal: Beliau mahir menggubah syair Arab klasik menjadi bahasa lokal Jambi yang menyentuh batin masyarakat pedesaan.

3. Filosofi Estetika Sufi: Bagi beliau, seni adalah manifestasi sifat Jamal (Keindahan) Allah. Beliau menentang pandangan yang mengharamkan musik secara mutlak jika digunakan untuk memuji Tuhan. Seni baginya adalah jembatan antara teks agama yang kaku dengan realitas budaya yang dinamis.

​H. Karomah Pengabdian
​Masyarakat Jambi meyakini karomah beliau sebagai tanda keberkahan pengabdiannya:

1. ​Pagar Desa: Desa Penegah yang tak terlihat oleh pasukan agresi Belanda.

2. ​Belenggu Rontok: Rantai besi yang lepas secara ghaib saat beliau hendak shalat.

3. Doa Hujan: Turunnya hujan seketika saat beliau memimpin shalat Istisqa di musim paceklik.

4. ​Kewibawaan Hewan: Harimau hutan yang menjauh dengan hormat saat berpapasan dengan beliau.

5. ​Firasat Tajam: Larangan perjalanan yang menyelamatkan murid dari kecelakaan maut.

6. ​Penyembuhan: Media air doa yang menyembuhkan berbagai penyakit batin dan fisik.

7. ​Berkat Makanan: Hidangan sedikit yang secara ajaib cukup untuk menjamu ratusan tamu.

8. Kewibawaan di Depan Penguasa: Pejabat arogan yang mendadak santun di depan beliau.

9. Intelektualitas Senja: Ketajaman ingatan akan kutipan kitab yang presisi hingga usia 93 tahun.

10. ​Wafat Wangi: Aroma semerbak yang memenuhi jalanan saat prosesi pemakaman beliau pada tahun 2003.

11. Memadamkan api hanya dengan doa

12. Shalat dibeberapa tempat

​I. Penutup
​Guru Salek adalah prototipe ulama paripurna yang berhasil mengawinkan kedalaman syariat Hijaz dengan fleksibilitas budaya Nusantara. Beliau membuktikan bahwa kesalehan pribadi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Sebagaimana dalam buku (Latif, 2020), model pendidikan berbasis lokalitas inilah yang mampu bertahan menghadapi terjangan globalisasi. Warisan Guru Salek tetap menjadi main stream yang mengingatkan kita bahwa integrasi antara ilmu, amal, iman dan seni adalah kunci kemuliaan seorang manusia.

++++++++++

​Referensi
1. ​Ad-Dzahabi, Imam. (1993). Siyar A’lam an-Nubala. Beirut: Muassasat ar-Risalah.
2. Al-Ghazali, Imam. (2004). Ihya Ulumuddin. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah.
3. ​Al-Ghazali, Imam. (2010). Bidayatul Hidayah. Kairo: Dar as-Salam.
4. Al-Zarnuji, Imam. (2008). Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum. Beirut.
5. ​Arifin, Yanuar. (2024). Sufisme Hasan Al-Bashri: Biografi, Perjalanan Ruhani, dan Pesona Cintanya. Sleman: DIVA Press.
6. ​Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Nusantara. Jakarta: Kencana.
7. Bruinessen, Martin van. (1995). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan.
8. ​Hajar Al-Asqalani, Ibnu. (1404 H). Tahdzib at-Tahdzib. Beirut: Dar al-Fikr.
9. ​Ibnu Katsir. (1415 H). Al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
10. ​Ibnu Sa’ad. (1398 H). At-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar Beirut.
11. ​Laffan, Michael F. (2003). Islamic Nationhood and Colonial Indonesia. London: Routledge.
12. ​Latif, Mukhtar. (2020). Pendidikan Karakter Berbasis Lokal. Jambi: UIN Press.
13. ​Massignon, Louis. (1982). The Passion of Al-Hallaj. Princeton University Press.
14. ​Mizzi, Al-Hafizh al-. (1400 H). Tahdzib al-Kamal. Beirut: Muassasat ar-Risalah.
15. Naisaburi, Abu Ishaq, dkk. (2005). Qishasul Auliya. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah.
16. ​Nasution, Harun. (1973). Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
17. ​Schimmel, Annemarie. (1975). Mystical Dimensions of Islam. North Carolina Press.
18. ​Steenbrink, Karel. (1984). Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.
19. ​UIN STS Jambi. (2020). Profil KH. M. Salek Sarolangun. Jurnal Tamaddun.
20. ​Zuhri, Amat. (2021). Buku Akhlak Tasawuf. Madiun: STAINU.
Editor: Doni

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899