19 Agustus 2025, Prodi Studi Agama-Agama bekerja sama dengan LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengadakan webinar yang sangat menarik dan mendalam tentang “Implikasi Kultural-Teologis dalam Penerjemahan Alkitab Berbahasa Arab Smith Van Dyck 1865.” Pemantik diskusi ini adalah doktor muda alumni UIN Sunan Kalijaga dan dosen Universitas Darussalam Gontor, yaitu Yuangga Kurnia Yahya. Diskusi ini mengundang perhatian banyak kalangan akademis dan masyarakat yang tertarik dengan bidang studi agama, khususnya terkait dengan penerjemahan teks-teks suci dalam konteks budaya dan teologi. Dalam kesempatan ini, pembicara dan peserta diskusi tidak hanya mendiskusikan aspek teknis penerjemahan, tetapi juga mengungkapkan dampak budaya dan teologis yang muncul akibat penerjemahan Alkitab berbahasa Arab tersebut.
Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Arab oleh Smith-Van Dyck pada tahun 1865 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah interaksi antara agama Kristen dan dunia Arab. Teks ini, yang dikenal dengan nama “Smith Van Dyck Bible,” bukan hanya sebuah karya penerjemahan semata, tetapi juga sebuah sarana untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada dunia berbahasa Arab di Timur Tengah dan secara khusus kepada umat kristiani di sana. Diskusi diawali dengan menggali sejarah penerjemahan Alkitab ini, serta latar belakang pemilihan bahasa Arab sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan Kristen.
Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana penerjemahan ini tidak hanya soal kata demi kata, tetapi juga penuh dengan keputusan teologis-ideologis yang melibatkan penyesuaian konsep-konsep keagamaan yang mungkin memiliki nuansa yang sangat berbeda dengan tradisi Arab yang dominan di wilayah tersebut. Dalam diskusi tersebut, dijelaskan bahwa setiap periode penerjemahan membawa beban budaya dan teologis yang dalam, yang tidak hanya mempengaruhi cara umat Kristen memahami teks, tetapi juga mempengaruhi bagaimana umat Kristen mengamalkan ajaran kristiani berbasis teks tersebut.
Salah satu fokus utama dalam diskusi tersebut adalah implikasi kultural dari penerjemahan ini. Penerjemah sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan konsep-konsep Kristen tanpa kehilangan esensinya atau, sebaliknya, tanpa mengaburkan makna. Dalam diskusi, banyak yang menyoroti betapa pentingnya konteks budaya lokal dalam penerjemahan. Penerjemahan yang terlalu literal dapat membuat makna yang terkandung dalam teks asli menjadi kabur atau sulit dipahami, sedangkan penerjemahan yang terlalu bebas bisa menyimpang jauh dari ajaran aslinya. Namun, penerjemahan tersebut didominasi oleh kultur dan paham teologis Kristen Amerika dalam misi penerjemahan Alkitab yang dilakukan Smith-Van Dyck.
Selain aspek kultural, diskusi juga menggali implikasi teologis-ideologis yang muncul dari penerjemahan ini. Salah satu hal yang paling menonjol adalah bagaimana penerjemahan teks Alkitab ini mempengaruhi umat Kristen dalam mengamalkan dan menyebarluaskan ajarannya. Serta membawa dampak positif terhadap kebangkitan intelektualisme dan nasional Kristen Arab, serta lembaga pendidikan dan kesehatan di Timur Tengah.
Penutup diskusi ini menyimpulkan bahwa misi ideologis-teologis penerjemahan Alkitab tersebut gagal dalam menyebarluaskan ajaran Kristen ke komunitas muslim di Timur Tengah, justru penerjemahan tersebut kuat diwarnai kontestasi misionaris Kristian. Namun, kegiatan penerjemahan tersebut telah membangkitkan intelektual dan nasional masyarakar Kristen di Timur Tengah.
Editor: Doni