Paten Mendorong Budaya Inovasi dan Kemajuan Perguruan Tinggi Islam

Jambi — Upaya memperkuat budaya inovasi dan hilirisasi riset di lingkungan UIN STS Jambi terus didorong melalui penguatan pemahaman hak paten bagi para peneliti. Kesadaran akan pentingnya perlindungan karya ilmiah dan invensi dinilai menjadi salah satu indikator kemajuan perguruan tinggi di tengah perkembangan teknologi yang semakin terbuka.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Workshop Bimbingan Paten Sesi III yang diselenggarakan oleh Dr. Tanti selaku Ketua Tim Periset Mora Funds 2026 melalui Zoom Meeting, berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua LPPM Fridiyanto, Korpus Penelitian Tasnim, serta anggota tim periset.

Workshop menghadirkan Tri Harningsih, M.Si sebagai pemateri sekaligus pendamping tim riset Dr. Tanti dalam proses pengurusan paten. Dalam pemaparannya, Tri menjelaskan berbagai persoalan mendasar terkait paten, prosedur pembukaan akun SAKI oleh tim LPPM, hingga pengetahuan dasar mengenai tata kelola paten bagi tim periset dan lembaga.

Menurut Tri, hak paten merupakan hak eksklusif yang diberikan negara kepada individu atau pihak yang menghasilkan invensi di bidang teknologi. Hak tersebut memberikan kewenangan kepada pemilik paten untuk menggunakan sendiri hasil temuannya atau memberikan izin kepada pihak lain dalam jangka waktu tertentu.

Ia menegaskan, keberhasilan pengajuan paten tidak hanya bergantung pada peneliti, tetapi juga memerlukan dukungan kelembagaan yang kuat. Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu memiliki sistem dan unit khusus yang fokus menangani proses pengajuan, pendampingan, hingga pemeliharaan paten.

“Paten bukan hanya soal perlindungan karya, tetapi juga menyangkut reputasi lembaga, daya saing perguruan tinggi, dan keberlanjutan hasil riset,” ujar Tri dalam sesi diskusi.

Fridiyanto menyampaikan apresiasi kepada pemateri yang telah memberikan pendampingan dan transfer pengetahuan kepada tim riset Mora Funds yang diketuai oleh Dr. Tanti. Ia menilai penguatan literasi paten menjadi kebutuhan penting bagi UIN Jambi.

Menurut Fridiyanto, rendahnya angka pengajuan paten tidak hanya terjadi di lingkungan UIN Jambi, tetapi juga menjadi persoalan nasional yang dialami banyak Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

“Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk membangun kesadaran bahwa hasil riset harus memiliki nilai kebermanfaatan sekaligus perlindungan hukum,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Riset Mora Funds 2026, Dr. Tanti, menjelaskan bahwa workshop tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan riset yang tengah dikerjakan bersama tim dan diarahkan untuk menghasilkan luaran berupa paten.

Ia berharap kegiatan bimbingan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu tim peneliti memahami proses administratif maupun substansi dalam pengajuan hak paten.

Workshop berlangsung secara informatif dan dialogis. Para peserta aktif berdiskusi mengenai tantangan pengurusan paten, strategi penguatan dokumen invensi, hingga peluang pengembangan hasil riset agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan institusi perguruan tinggi.
Editor: Doni

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899