Candi, Kopi, dan Isu HAM yang Terpojok

Tiba-tiba hujan lebat mengguyur kampus UIN Jambi. Padahal tim LPPM rencananya akan membersamai Sepaham dan Yappika berkunjung ke Candi Muaro Jambi.

Hujan lebat tentunya bisa membuat kawasan candi menjadi becek, tentu saja tidak nyaman untuk eksplorasi.

Untunglah hujan mereda, setelah selesai menyantap nasi kotak Cahaya Minang dan menunaikan Sholat Dzhur hujan mereda menjadi gerimis, misi ke Candi harus dituntaskan, Gass…Fortuner dan Innova Zenix meluncur.

Perjalanan lumayan lancar, kalaupun banyaknya lobang-lobang jalan yang membuat rasa kantuk menjadi hilang membuat aktivitas ngantuk diisi dengan obrolan.

Setiba di Candi, aroma hujan menguapkan aroma sejarah dan misteri yang terpendam di kawasan candi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang Candi Muaro Jambi dari tamu hanya tipis-tipis saja dapat dijawab. Ya… harus kita akui kita hanya jadikan Candi Muara Jambi ini semacam pajangan untuk tamu yang hadir, tapi kita sendiri yang mendampingi gelap informasi dan sangat gelagapan menjawab ketika ditanya tentang mengapa, bagaimana, apa, siapa, dan dimana terkait candi.

Ya… paling kita jawab alakadarnya saja, “Konon…candi Muaro Jambi adalah sebuah kampus dan tempat belajar para cendikia Budha se – Asia Tenggara”, “Konon komplek candi Muaro Jambi merupakan komplek candi terluas se – Asia Tenggara”, “Konon bla bla bla bla bla bla….”, begitulah jawaban standar kalau mendampingi tamu ke candi, selebihnya paling menyampaikan informasi yang diceritakan dengan sok tau dan sok pakar, bahkan mungkin hoaks yang tak teruji datanya.

Rasa ingin tau Pak Muktiono dan Pak Ananto yang dijawab dengan “konon” itupun digantikan dengan aktivitas poto-poto dan jogging keliling candi sambil bakar lemak perut. Tapi ini memang PR kita, untuk serius menekuni literatur sejarah candi Muaro Jambi, setidaknya bisa untuk ndongengi tamu ketika membersamai mereka.

Rumput hijau menghampar, hujan masih ada satu-satu jatuh di kepala, mendung masih bergelayut layut, sinar matahari masih malas-malasan menjatuhkan panas, aroma hutan menusuk hidung yang terbiasa dengan asap kota,”Segar sekali ya disini, masih alami”, ujar Pak Muktiono yang sudah mulai berkeringat setelah menyusuri setapak kerikil yang cukup membantu mencegah becek ketika hujan dan sangat mendukung aktivitas jalan kaki sambil merenung mikiri kredit dan persoalan-persialan hidup yang tak kunjung usai.

Tak terasa, sebagian candi dan stupa-stupa sudah dikunjungi. Langkah kaki diarahkan ke kawasan Pojok Kopi Dusun yang sudah menjadi situs tersendiri dan harus dikunjungi pengunjung untuk melepas lelah setelah berkeliling candi.

Suasana khas Melayu Jambi sangat mencolok, pemandangan pondok, dan rumah papan khas masyarakat Jambi, plus disambut musik daerah Jambi yang nampaknya diputar non stop.

Kopi hitam gula aren, goreng pisang lilin, bakwan jagung, tahu goreng menjadi pesanan kami. Disajikan dengan cangkir kaleng hijau membuat pengunjung menerawang pikirannya serasa di dusun-dusun di Jambi.

Sebenarnya rasa kopinya biasa saja, tidak ada racikan khusus, yang membuatnya menjadi istimewa adalah suasana dusun dan tentunya karena beranda di situs candi. Aroma kopi aren menyebar mengalahkan aroma tanah selepas hujan, gorengan satu persatu habis disantap.

Pak Ananto terlihat sangat dalam menghisap asap Dji Sam Soe nya, tiba-tiba datang satu cangkir kopi lagi, pasanan siapa? “Saya yang pesan, nambah lagi, mau nyoba kalau yang kopi susu gimana rasanya, hehehe”, katanya sambil hirup kopi susu pesanan keduanya,”Rasanya masih enak yang kopi aren, terlampau manis yang ini”, komentarnya sambil terus mengeluarkan asap kretek.

“Ini lagu apa ya, rasanya agak aneh mendengarnya…” tanya Pak Ananto ketika mendengar rintihan pilu musik Krinok. “Owww ini musik Krinok Pak, khas Bungo”, jawab saya. “Ini semacam musik sedih ya”, tanyanya kembali sangat penasaran. “Ya bisa jadi Pak, biasanya bisa disenandungkan di ladang atau pas istirahat di rumah di malam hari. Bisa sebagai ekspresi bahagia bisa juga ungkapan kenestapaan mikiri tagihan numpuk Pak…” jawab saya sambil guyon. Obrolan – obrolan ringan dan berat mewarnai aroma kopi dan gorengan.

Tak terasa hari mulai mau maghrib, kami meninggalkan piring dan cangkir kopi yang sudah diselesaikan secara adat, lumayan mata kembali menjadi segar setelah terdampak kopi hitam gula aren versi panas.

Kami menuju parkiran melewati lorong-lorong dan rumah penduduk. Obrolan tentang isu demokrasi dan ham masih berlanjut sambil menuju parkiran mobil. Pak Muktiono menjelaskan tentang aktivitas dan program Sepaham yang mulai dari advokasi sampai menggarap jurnal ilmiah yang sudah terindeksasi Scopus.

“Bagaimana sosok almarhum Munir mempengaruhi dalam gerakan pegiat HAM?”, tanya saya sambil menghirup asap Dunhill putih dan menghembuskannya ke ruang hampa. “Almarhun Munir selalu menjadi spirit para pegiat HAM, sekarang di fakultas kami ada Museum Munir”, saya kembali bertanya,”Ooww bukannya Museum Munir ada di Kota Batu, saya pernah berkunjung kesana”. Sambil menges-menges berjalan Pak Mukti menjawab,”Benar dulu di Kota Batu, sekarang sudah dipindahkan ke Fakuktas Hukum UB”, jelasnya. Ia juga menjelaskan bahwa untuk menghormati perjuangan Munir berbagai event dibuat,misalnya lomba karya tulis isu HAM untuk pelajar, dan berbagai kegiatan lain yang didedikasikan untuk Munir.

“Menurut Bapak sebagai pegiat HAM, bagaimana isu HAM di era Presiden Prabowo saat ini”, tanya saya sambil melihat pepohonan hijau menghijau. Pak Mukti berhenti langkahkan kaki,”Sebentar ya ….” ia sambil membenahi posisi ikat pinggangnya. “Begini …. jelasnya tidak senikmat Pojok Kopi tadi lah, terpojokkan…”

Langkah kami terhenti di mobil, setapak-setapak candi telah dilalui, setapak perjuangan demokrasi dan HAM masih sangat panjang . Mobil kami merayap meninggalkan situs sejarah kebanggaan Jambi. Rasa kopi tadi masih melekat, tapi tetap saja sejarahnya terus misterius…..

Penulis: Fridi

Editor: Doni

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899