Menelusuri Dinamika Pergerakan Nasional

Menelusuri Dinamika Pergerakan Nasional

Berita 4 menit baca 22 kali dilihat

JAMBI — LPPM kembali menggelar Webinar #128 dengan tema “Dinamika Gerakan Nasional: Menelusuri Jalan Menuju Kemerdekaan Indonesia.”

Webinar menghadirkan Johan Septian Putra, S.Hum., M.Hum., sebagai narasumber dan Dr. Benny Agusti Putra, S.Hum., M.A., sebagai moderator. Diskusi mengulas perjalanan gerakan nasional Indonesia, mulai dari perubahan pola perjuangan pada awal abad ke-20 hingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Johan menjelaskan, kolonialisme di Indonesia pada mulanya berkaitan dengan kepentingan perdagangan. Kekayaan rempah-rempah mendorong bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara. Namun, kepentingan ekonomi tersebut kemudian berkembang menjadi upaya penguasaan dan monopoli atas wilayah serta sumber daya.

Memasuki awal abad ke-20 terjadi perubahan penting dalam pola perjuangan masyarakat Indonesia. Kebijakan Politik Etis menjadi salah satu momentum yang ikut membuka ruang bagi lahirnya kelompok terdidik dan menggeser perjuangan dari perlawanan bersenjata menuju gerakan politik dan pendidikan.

“Awal abad ke-20 menjadi titik perubahan pola perjuangan, dari perjuangan yang berdarah-darah menuju perjuangan melalui politik dan pendidikan,” kata Johan dalam paparannya.

Johan membagi faktor yang mendorong munculnya gerakan nasional ke dalam faktor eksternal dan internal.

Dari luar negeri, kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 menunjukkan bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan kekuatan Eropa. Perubahan di Turki pada awal abad ke-20 juga menjadi salah satu perkembangan global yang ikut memengaruhi kesadaran politik masyarakat di berbagai wilayah Asia.

Sementara dari dalam negeri, eksploitasi kolonial yang berlangsung dalam waktu panjang menimbulkan ketidakpuasan. Kondisi tersebut, ditambah munculnya kelompok terpelajar, menjadi salah satu dasar tumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Organisasi modern seperti Boedi Oetomo yang berdiri pada 1908 kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan nasional. Namun, Johan mengingatkan bahwa penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional masih menjadi bahan perdebatan dalam perspektif sejarah.

Boedi Oetomo pada fase awal memiliki basis keanggotaan yang kuat dari kalangan elite dan bangsawan serta perhatian yang lebih banyak tertuju pada pendidikan di Jawa dan Madura.

Kondisi tersebut berbeda dengan Sarekat Islam yang menurut Johan memiliki orientasi perjuangan lebih luas. Di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, Sarekat Islam membawa gagasan mengenai perjuangan politik yang melampaui batas kelompok etnis tertentu.

“Nasional dalam konteks ini bermakna hak rakyat untuk membentuk dan mengatur pemerintahan mereka sendiri atau setidaknya didengar suaranya dalam urusan politik,” ujarnya.

Dari Pendudukan Jepang ke Proklamasi

Webinar juga membahas masa pendudukan Jepang yang dimulai pada 8 Maret 1942. Johan menilai janji Jepang sebagai “cahaya Asia” tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

Masyarakat mengalami berbagai bentuk penderitaan selama pendudukan Jepang, antara lain melalui kerja paksa atau romusa. Para pekerja dipaksa bekerja dalam kondisi berat dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Perempuan juga mengalami kekerasan dan eksploitasi seksual oleh tentara Jepang.

Situasi berubah setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 mempercepat berakhirnya perang di kawasan Asia Pasifik.

Pada September 1944, Jepang sebelumnya telah menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Namun, perkembangan perang kemudian membuat posisi Jepang semakin terdesak hingga akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Momentum tersebut melahirkan peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Sehari kemudian, pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Johan menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak semestinya dipahami sebagai hadiah dari bangsa penjajah.

“Pergerakan nasional adalah pergerakan organisasi untuk menuju kemerdekaan. Kita merdeka bukan karena pemberian penjajah. Bangsa kita adalah bangsa yang kuat,” tuturnya.

Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan panjang yang melibatkan tokoh-tokoh pergerakan, termasuk generasi muda dan kaum terpelajar. Mereka menggunakan strategi dan taktik untuk membangun kesadaran kebangsaan hingga terbentuk momentum politik menuju kemerdekaan.

Di akhir pemaparan, Johan mengajak peserta melihat kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap 17 Agustus.

Kemerdekaan merupakan tanggung jawab yang harus diteruskan oleh setiap generasi melalui bentuk perjuangan yang sesuai dengan zamannya.

“Every generation carries its own way of fighting for the nation—through knowledge, integrity and honest contribution to society,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan zaman. Jika generasi pergerakan memperjuangkan kemerdekaan melalui organisasi, pendidikan, dan politik, generasi sekarang dapat meneruskan perjuangan melalui pengetahuan, integritas, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.