UIN Jambi Ikut Semarakkan Pekan Tuli Internasional dan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026

UIN Jambi Ikut Semarakkan Pekan Tuli Internasional dan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026

Berita 4 menit baca 19 kali dilihat

JAMBI – Pekan Tuli Internasional (PTI) dan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) Tahun 2026 digelar di Aula Rumah Dinas Wali Kota Jambi, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Panitia PTI & HBII 2026 Jambi tersebut mengangkat tema PTI, “Merayakan Identitas, Budaya, dan Hak”, serta tema HBII, “Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk Tuli.”

Kegiatan ini menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai identitas, budaya, bahasa, serta hak-hak masyarakat Tuli. Selain itu, PTI dan HBII juga menjadi momentum untuk memperkenalkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif, setara, dan ramah bagi masyarakat Tuli.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan persiapan peserta dan panitia, kemudian dilanjutkan dengan pawai menuju Aula Rumah Dinas Wali Kota Jambi. Acara dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua DPD Gerkatin Provinsi Jambi, dan perwakilan Wali Kota Jambi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dede Asnazela dan Fauzi Ibnu Gama, Duta Gender dan Anak UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, sebagai perwakilan UIN Jambi. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari partisipasi generasi muda dalam mendukung isu kesetaraan, penghormatan terhadap hak, dan penguatan lingkungan yang inklusif.

Korpus Gender, Anak, dan Disabilitas (GAD) UIN STS Jambi, Nisaul Fadillah, mengatakan bahwa keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seperti PTI dan HBII penting untuk memperluas pemahaman mengenai kehidupan dan hak masyarakat Tuli.

“Inklusivitas tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi juga membutuhkan pemahaman dan kemauan untuk berkomunikasi dengan cara yang beragam. Bahasa isyarat merupakan bagian penting dari akses komunikasi bagi masyarakat Tuli. Karena itu, semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang mengenal bahasa isyarat dan memahami budaya Tuli, semakin terbuka pula ruang interaksi yang setara,” ujar Nisa.

Menurutnya, kegiatan PTI dan HBII juga relevan dengan upaya UIN Jambi dalam membangun lingkungan kampus yang semakin ramah bagi mahasiswa difabel. Pengenalan bahasa isyarat tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari budaya inklusif di lingkungan pendidikan.

“Di lingkungan kampus, kita ingin mahasiswa difabel, termasuk mahasiswa Tuli, dapat belajar, berkomunikasi, dan berpartisipasi secara setara. Karena itu, membangun kesadaran teman sebaya dan sivitas akademika menjadi bagian yang tidak kalah penting dari penyediaan aksesibilitas fisik,” tambahnya.

Dalam kegiatan PTI dan HBII 2026, peserta juga mendapatkan berbagai pengalaman edukatif dan interaktif. Salah satunya melalui penampilan teater Tuli oleh Tim Teman Tuli, yang menjadi ruang ekspresi sekaligus memperkenalkan pengalaman dan perspektif masyarakat Tuli melalui seni.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi dari Bank Indonesia Provinsi Jambi dan Pusbisindo Pusat dengan tema “Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk Tuli.” Materi tersebut membahas pentingnya penghormatan terhadap hak masyarakat Tuli serta perlunya memastikan akses dan kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial.

Pada sesi berikutnya, peserta mengikuti kuis Bahasa Isyarat yang memberikan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan bahasa isyarat secara langsung. Kegiatan juga diisi dengan pemutaran film pendek serta sesi foto bersama.

Keterlibatan Duta Gender dan Anak UIN Jambi dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif generasi muda terhadap berbagai isu kesetaraan dan keberagaman. Duta GAD diharapkan tidak hanya menjadi representasi dalam kegiatan, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai inklusivitas ke lingkungan kampus dan masyarakat.

PTI dan HBII 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih jauh BISINDO, budaya Tuli, identitas Tuli, serta hak-hak masyarakat Tuli kepada masyarakat luas. Pemahaman tersebut penting untuk mengurangi hambatan komunikasi, kesalahpahaman, dan stigma yang masih dapat dialami oleh masyarakat Tuli.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat bahwa inklusivitas merupakan tanggung jawab bersama. Kesetaraan tidak hanya berkaitan dengan pemberian kesempatan, tetapi juga memastikan setiap orang dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, berpendidikan, berpartisipasi, dan mengekspresikan diri tanpa menghadapi hambatan maupun diskriminasi.

Kegiatan PTI dan HBII 2026 ditutup dengan sesi pesan dan kesan dari peserta. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat untuk terus membangun lingkungan yang terbuka terhadap keberagaman serta menghargai hak setiap individu, termasuk masyarakat Tuli.

Bagi UIN Jambi, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus memperkuat perspektif gender, anak, dan disabilitas serta membangun budaya kampus yang lebih inklusif dan ramah bagi seluruh sivitas akademika.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.