Jambi, 27 November 2025 — UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi kembali menunjukkan perannya dalam mendorong ruang aman dan inklusif melalui penyelenggaraan Diskusi Publik 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) yang berlangsung di Ruang Amphitheater kampus. Kegiatan ini merupakan bagian dari Aksi Kolaborasi Poros Jambi bersama CSO, jurnalis, komunitas, dan mahasiswa, dengan mengangkat tema besar kampanye 2025: “Tubuhku, Suaraku, Hakku! Hapuskan Kekerasan! Wujudkan Ruang Aman dan Inklusif bagi Perempuan.”
Acara dibuka oleh Ketua LPPM UIN Jambi, Dr. Fridiyanto, M.Pd.I., yang menekankan pentingnya memahami budaya kekerasan yang kerap dianggap sepele di lingkungan kampus. Ia merujuk pada gagasan Pierre Bourdieu tentang kekerasan simbolik, yakni bentuk kekerasan halus yang berlangsung dalam relasi kuasa, termasuk candaan bernada merendahkan, komentar verbal, maupun perilaku fisik yang dibungkus humor. Menurutnya, lingkungan akademik harus menjadi ruang yang bebas dari praktik semacam ini.
Dalam sambutannya, Dr. Fridiyanto juga menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran nilai dan budaya yang aman. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak menormalisasi perilaku yang dapat melahirkan ketidaksetaraan, terutama terhadap perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok adat. UIN Jambi, sudah memulai itu, LPPM lewat Pusat Gender, Anak dan Disabilitas sudah berkomitmen memutus mata rantai kekerasan melalui kebijakan, edukasi, dan keterlibatan mahasiswa.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kemitraan Partnership melalui Yasir Insani yang menyampaikan apresiasi atas peran UIN Jambi sebagai tuan rumah diskusi publik ini dengan keterlibatan peserta yang cukup banyak. Ia menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan concern dunia dan tidak terbatas pada wilayah atau institusi tertentu. Kolaborasi kampus dengan masyarakat sipil seperti ini, menurutnya, menjadi langkah penting untuk memperkuat gerakan anti-kekerasan di Provinsi Jambi.
Sesi diskusi panel menghadirkan Wenny Irawati, M.IP, aktivis perempuan dan akademisi, yang membahas definisi dan bentuk-bentuk kekerasan seksual, serta tren data terkini terkait kekerasan di Jambi. Ia menyoroti bahwa angka kekerasan fisik, psikis, seksual, serta kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terus meningkat, termasuk di kalangan mahasiswa. Keterlibatan kampus dalam edukasi dianggap menjadi faktor penting pencegahan.
Peran UIN Jambi dalam membangun ruang aman diperjelas melalui paparan Nisaul Fadillah, Korpus Gender, Anak, dan Disabilitas (GAD) UIN Jambi. Ia menjelaskan berbagai inisiatif kampus, mulai dari penguatan Satgas PPKS, layanan pendampingan korban, advokasi isu KBGO, hingga kampanye edukatif yang melibatkan mahasiswa. Upaya ini sejalan dengan tujuan 16 HAKTP, yakni mendorong ruang belajar yang setara, aman, dan inklusif.
Kegiatan ini juga memberi ruang bagi pengalaman kelompok rentan melalui kesaksian Siska, remaja dari Suku Anak Dalam (SAD), yang menceritakan bagaimana ia menjadi korban kekerasan online akibat dikaitkan dengan kasus hilangnya Bilqis. Pengalaman tersebut memperlihatkan tantangan berat yang dihadapi perempuan adat, khususnya terkait stigma digital, diskriminasi, dan minimnya perlindungan dalam ruang daring.
Selain itu, Ketua Satgas PPKS UIN Jambi, Nailul Husna, M.A., dan perwakilan perempuan dari Suku Talang Mamak turut memberikan tanggapan. Mereka menyoroti pentingnya pedoman kampus yang responsif, akses pendampingan, serta penguatan kapasitas masyarakat adat dalam menghadapi kekerasan. Keterlibatan mereka menegaskan bahwa penyelesaian isu kekerasan harus berperspektif interseksi dan melibatkan banyak pihak.
Acara ditutup dengan sesi Butterfly Hug sebagai bentuk refleksi bersama, serta penampilan lagu bertema anti-kekerasan oleh Ismet Raja Tengah Malam. Melalui kegiatan ini, UIN Jambi kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kampus aman dan memimpin kolaborasi lintas komunitas dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal di Provinsi Jambi.
Editor: Doni