dari Hutan Jambi untuk Kesehatan Kulit: Menelusuri Potensi Fitosterol sebagai Alternatif Terapi Eksema

dari Hutan Jambi untuk Kesehatan Kulit: Menelusuri Potensi Fitosterol sebagai Alternatif Terapi Eksema

Berita 8 menit baca 57 kali dilihat

Profil Riset Mora Fund#6

Pada Profil Riset Mora Fund#6 kali ini diambil dari periset UIN Jambi di tahun 2025. Arfan Azis, Ph. D sebagai ketua periset menggali pengetahuan tradisional dan kekayaan hayati Jambi membuka peluang pengembangan obat berbasis tumbuhan

Eksema bukan sekadar persoalan kulit yang memerah dan terasa gatal. Bagi penderitanya, penyakit ini dapat mengganggu tidur, membatasi aktivitas sehari-hari, dan menurunkan kualitas hidup. Pada anak-anak, eksema juga menjadi sumber kecemasan bagi orang tua, terutama ketika pengobatan harus dilakukan dalam jangka panjang. Di tengah persoalan tersebut, kekayaan hayati Indonesia, termasuk tumbuhan obat dari hutan-hutan Jambi, menyimpan peluang yang perlu diteliti lebih jauh.

Pada 2022, diperkirakan 223 juta orang di seluruh dunia hidup dengan eksema, dan sekitar 25 persen di antaranya merupakan anak-anak, menurut data International League of Dermatological Societies (ILDS, 2022). Angka ini memperlihatkan bahwa eksema merupakan persoalan kesehatan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Penyakit ini juga termasuk masalah kulit yang banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Eksema, khususnya dermatitis atopik, merupakan penyakit peradangan kulit kronis yang ditandai dengan kemerahan, rasa gatal, kulit kering, dan pada kondisi tertentu, penebalan atau perubahan tekstur kulit. Gejalanya dapat muncul berulang kali, sehingga penanganannya tidak cukup hanya berorientasi pada meredakan keluhan sesaat. Perawatan juga perlu mempertimbangkan kesehatan kulit dalam jangka panjang (Laughter et al., 2021; Afshari et al., 2024).

Selama ini, kortikosteroid topikal atau obat antiradang yang dioleskan pada kulit menjadi salah satu pilihan utama untuk menangani eksema. Obat ini memiliki peran penting dalam mengendalikan peradangan. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit, bagian tubuh yang terkena, kekuatan sediaan, dan lama pengobatan. Pemakaian yang tidak tepat, terutama dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti penipisan kulit atau atrofi (Born, 2025; Egeberg et al., 2024).

Persoalannya bukan terletak pada obat tersebut semata, melainkan pada bagaimana terapi digunakan secara tepat dan aman. Ketakutan terhadap efek samping dapat membuat sebagian pasien atau orang tua enggan menggunakan obat, bahkan ketika pengobatan diperlukan. Survei yang dikutip Albogami et al. (2023), misalnya, menunjukkan bahwa 66,6 persen orang tua yang memiliki anak dengan eksema merasa takut menggunakan kortikosteroid topikal.

Kekhawatiran ini perlu dijawab melalui edukasi dan pengembangan pilihan terapi yang didukung bukti ilmiah. Pasien tidak seharusnya dibiarkan memilih antara mengabaikan penyakit dan merasa cemas terhadap pengobatan. Di sinilah penelitian terhadap senyawa alami dari tumbuhan menjadi relevan.

Fitosterol: Peluang dari Dunia Tumbuhan

Salah satu kelompok senyawa yang menarik perhatian peneliti adalah fitosterol. Secara sederhana, fitosterol merupakan senyawa sterol yang secara alami ditemukan pada tumbuhan. Struktur kimianya memiliki kemiripan dengan kolesterol, tetapi keduanya tidak identik. Fitosterol telah banyak dikaji karena potensinya dalam berbagai fungsi biologis, termasuk pengaruhnya terhadap metabolisme kolesterol dan respons peradangan.

Dalam konteks kesehatan kulit, fitosterol menarik diteliti karena sejumlah penelitian menunjukkan potensi aktivitas antiradang. Beberapa mekanisme yang dikaji berkaitan dengan pengaturan respons inflamasi, termasuk jalur yang melibatkan enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan proses pengendalian ekspresi gen yang berhubungan dengan peradangan (Marahatha et al., 2021).

Mengapa hal ini penting? Peradangan merupakan salah satu unsur utama dalam dermatitis atopik. Ketika respons peradangan berlangsung berlebihan atau terus berulang, kulit dapat mengalami kemerahan, rasa gatal, dan gangguan pada lapisan pelindungnya. Senyawa yang berpotensi membantu mengendalikan peradangan, sekaligus mendukung pemeliharaan kondisi kulit, layak diteliti sebagai bagian dari upaya pengembangan terapi.

Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi manfaat senyawa berbasis tumbuhan dalam perawatan kulit, mulai dari membantu mengurangi kemerahan hingga mempertahankan kelembapan dan memengaruhi perubahan jaringan epidermis yang mengalami peradangan (Pacha dan Hebert, 2012; Kobayashi et al., 2023; Radhakrishnan et al., 2024).

Meski demikian, potensi biologis tidak serta-merta berarti suatu senyawa dapat langsung digunakan sebagai obat. Hasil penelitian pada model laboratorium atau kondisi eksperimental belum tentu menghasilkan manfaat yang sama pada manusia. Efektivitas, keamanan, dosis, stabilitas formulasi, dan kemungkinan interaksi dengan bahan lain tetap perlu diuji secara bertahap.

Karena itu, fitosterol sebaiknya dipahami sebagai kandidat bahan aktif yang menjanjikan, bukan sebagai pengganti kortikosteroid yang sudah terbukti secara klinis. Klaim bahwa senyawa ini lebih aman atau mampu mengurangi kebutuhan terhadap kortikosteroid masih memerlukan pembuktian yang sesuai dengan jenis senyawa, formulasi, dosis, dan kondisi pasien.

Pendekatan ilmiah seperti ini penting agar harapan terhadap obat alami tidak berubah menjadi klaim berlebihan. Bahan alami tidak otomatis bebas risiko. Keunggulan suatu bahan harus dibuktikan melalui penelitian, bukan semata-mata ditentukan oleh asalnya dari tumbuhan.

Hutan Jambi sebagai Laboratorium Alam

Pembicaraan mengenai fitosterol membawa kita pada kekayaan hayati Provinsi Jambi. Wilayah ini memiliki kawasan hutan dengan keanekaragaman tumbuhan yang berpotensi menjadi sumber senyawa bioaktif. Empat taman nasional yang disebut dalam kajian ini adalah Kerinci Seblat, Bukit Tiga Puluh, Bukit Dua Belas, serta Berbak dan Sembilang.

Berdasarkan data yang dikutip Gita et al. (2023), luas kawasan yang dicantumkan untuk keempat taman nasional tersebut mencapai sekitar 1,73 juta hektare. Hamparan kawasan konservasi ini tidak hanya penting bagi perlindungan ekosistem, tetapi juga menyimpan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk penelitian tumbuhan obat.

Namun, kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan pengetahuan ilmiah yang tersedia. Sebagian tumbuhan telah lama digunakan masyarakat untuk membantu mengatasi keluhan kesehatan, tetapi kandungan senyawa aktif, mekanisme kerjanya, dan tingkat keamanannya belum seluruhnya diketahui secara memadai.

Penelitian etnobotani yang dilakukan Asra et al. (2023) melaporkan bahwa 78 spesies tumbuhan dari berbagai wilayah di Provinsi Jambi diperjualbelikan di Pasar Angso Duo sebagai bahan obat tradisional. Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat dengan tumbuhan obat bukanlah sesuatu yang baru. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat.

Pengetahuan tersebut merupakan modal awal yang berharga bagi penelitian modern. Masyarakat lokal sering kali memiliki pengalaman panjang dalam mengenali tumbuhan, menentukan bagian yang digunakan, serta mengolahnya untuk keperluan tertentu. Pengalaman ini dapat membantu peneliti menyusun prioritas eksplorasi, sehingga penelitian tidak harus dimulai dari pencarian yang sepenuhnya acak.

Akan tetapi, pengetahuan tradisional tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Penggunaan suatu tumbuhan secara turun-temurun merupakan petunjuk awal yang penting, tetapi belum cukup untuk memastikan khasiat dan keamanannya. Diperlukan pengujian fitokimia, pengukuran aktivitas biologis, serta evaluasi toksisitas untuk mengetahui apakah tumbuhan tersebut benar-benar mengandung senyawa yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan obat.

Di sinilah pertemuan antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern menjadi penting. Etnobotani membantu menjawab pertanyaan mengenai tumbuhan apa yang layak diteliti, sedangkan fitokimia membantu mengidentifikasi kandungan senyawa di dalamnya. Pengujian biologis selanjutnya diperlukan untuk mengetahui apakah senyawa tersebut memiliki aktivitas yang relevan dengan kebutuhan terapi.

Dari Pengetahuan Lokal Menuju Fitofarmaka

Eksplorasi fitosterol dari tumbuhan di empat taman nasional Jambi dapat menjadi langkah awal untuk menghubungkan kekayaan biodiversitas dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Penelitian semacam ini tidak cukup berhenti pada pencatatan nama tumbuhan atau identifikasi kandungan kimia. Prosesnya perlu dilanjutkan secara sistematis, mulai dari pemilihan spesies, pengambilan sampel yang bertanggung jawab, ekstraksi, pemisahan senyawa, hingga karakterisasi struktur kimia.

Setelah senyawa potensial ditemukan, tahap berikutnya adalah menguji aktivitas biologisnya. Dalam konteks dermatitis atopik, pengujian dapat diarahkan pada aktivitas antiradang, pengaruh terhadap fungsi pelindung kulit, serta potensi iritasi atau toksisitas. Jika hasil awal menunjukkan prospek yang baik, penelitian dapat dilanjutkan ke pengembangan formulasi dan pengujian keamanan serta efektivitas yang lebih mendalam.

Rangkaian tersebut membutuhkan waktu, fasilitas laboratorium, keahlian lintas disiplin, dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan. Kerja sama antara peneliti bidang biologi, kimia, farmasi, kedokteran, dan ilmu sosial juga dapat memperkuat kualitas hasil penelitian.

Tujuan akhirnya adalah membuka peluang pengembangan bahan baku obat berbasis tumbuhan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam jangka panjang, hasil eksplorasi fitosterol berpotensi menjadi dasar pengembangan sediaan perawatan kulit atau kandidat fitofarmaka, apabila seluruh tahapan pembuktian yang diperlukan berhasil dilalui.

Peluang ini juga memiliki dimensi ekonomi. Jika suatu saat senyawa dari tumbuhan lokal berhasil dikembangkan menjadi produk yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan efektivitas, rantai nilai yang terbentuk dapat melibatkan penelitian, budidaya tanaman, pengolahan bahan baku, hingga industri farmasi. Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu dirancang agar tidak mengorbankan kelestarian ekosistem maupun hak masyarakat yang memiliki pengetahuan tradisional terkait.

Konservasi dan Etika Penelitian

Eksplorasi tumbuhan obat dari taman nasional harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kawasan konservasi bukan sekadar gudang bahan baku. Hutan merupakan ekosistem yang menopang kehidupan berbagai spesies, menjaga keseimbangan lingkungan, dan menyediakan manfaat ekologis bagi masyarakat.

Karena itu, penelitian perlu memperhatikan perizinan, perlindungan spesies, serta metode pengambilan sampel yang tidak merusak populasi tumbuhan. Jika spesies yang diteliti memiliki persebaran terbatas atau berstatus terancam, pendekatan konservasi harus menjadi pertimbangan utama. Pengembangan melalui budidaya atau metode produksi yang lebih berkelanjutan dapat dipertimbangkan apabila bahan tersebut terbukti memiliki potensi.

Aspek lain yang tidak kalah penting ialah penghormatan terhadap pengetahuan tradisional. Masyarakat yang selama ini menjaga dan memanfaatkan tumbuhan obat tidak semestinya hanya menjadi sumber informasi bagi peneliti. Mereka perlu dilibatkan secara bermakna, sementara pemanfaatan pengetahuan dan sumber daya genetik harus memperhatikan persetujuan, ketentuan hukum, pembagian manfaat, serta kepentingan masyarakat pemilik pengetahuan tersebut.

Dengan demikian, penelitian tumbuhan obat tidak hanya berbicara tentang penemuan senyawa baru, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dijalankan secara adil. Kemajuan riset seharusnya memberikan manfaat bagi kesehatan manusia sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Merawat Harapan dengan Bukti Ilmiah

Potensi fitosterol dari tumbuhan di kawasan hutan Jambi menunjukkan bahwa upaya mencari alternatif terapi dapat dimulai dari kekayaan alam yang berada di sekitar kita. Pengetahuan tradisional dapat menjadi pintu masuk, sementara penelitian modern membantu menguji, menjelaskan, dan mengembangkan potensi tersebut.

Bagi penderita eksema, harapan terhadap pilihan pengobatan yang aman dan efektif tentu penting. Namun, harapan itu harus dibangun di atas bukti. Fitosterol belum dapat dianggap sebagai pengganti kortikosteroid sebelum manfaat dan keamanannya dibuktikan melalui tahapan penelitian yang memadai. Pasien juga tidak seharusnya menghentikan atau mengganti pengobatan yang diresepkan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, tantangan penelitian bukan hanya menemukan senyawa yang berpotensi mengurangi peradangan kulit. Tantangan yang lebih besar ialah memastikan bahwa penemuan tersebut dapat dikembangkan secara bertanggung jawab, memenuhi standar ilmiah, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Hutan Jambi menawarkan peluang, pengetahuan lokal menyediakan petunjuk, dan ilmu pengetahuan membuka jalan untuk mengujinya. Ketiganya dapat menjadi fondasi bagi riset kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada penemuan, tetapi juga pada keselamatan manusia, kelestarian alam, dan keadilan dalam pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.