LPPM Monev Riset Penelusuran Jejak Makam Kesultanan Sumatera Berbasis GIS
JAMBI — Upaya mengungkap jejak sejarah Kesultanan di Pulau Sumatera melalui pendekatan teknologi digital dan kajian multidisipliner terus menunjukkan perkembangan. Hal itu terungkap dalam kegiatan monitoring dan evaluasi penelitian yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi terhadap riset yang diketuai oleh Dr. Titin Agustin Ningsih bersama tim peneliti lintas lembaga dan lintas disiplin.
Penelitian tersebut mengusung judul “Inovasi Model Prediktif Penelusuran Jejak Makam Kesultanan di Pulau Sumatera Berbasis GIS dan Model Regresi Logistik”. Riset ini berupaya mengembangkan model ilmiah untuk mengidentifikasi dan memetakan keberadaan situs makam kesultanan dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS) serta pendekatan statistik melalui model regresi logistik.
Dalam sesi presentasi, Ketua Tim Peneliti, Dr. Titin Agustin Ningsih, memaparkan sejumlah temuan lapangan yang diperoleh selama proses penelitian. Ia juga menjelaskan perkembangan luaran penelitian, termasuk proses penyusunan dan pengiriman artikel ilmiah ke jurnal akademik.
“Penelitian ini tidak hanya menghasilkan pemetaan lokasi dan identifikasi situs, tetapi juga membuka peluang pengembangan model prediktif yang dapat digunakan dalam penelusuran situs-situs sejarah lainnya di masa mendatang,” ungkapnya.

Paparan kemudian dilanjutkan oleh anggota tim yang berasal dari beragam disiplin ilmu. Perspektif sejarah digunakan untuk merekonstruksi konteks kemunculan dan perkembangan kesultanan di Sumatera. Kajian geografi memberikan dukungan dalam pemetaan spasial dan analisis lingkungan. Sementara itu, aspek epigrafi berfokus pada pembacaan dan interpretasi inskripsi pada nisan maupun artefak terkait, sedangkan pendekatan arkeologi digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan nilai historis situs makam yang diteliti.
Diskusi yang dipandu Koordinator Pusat Penelitian, Tasnim, berlangsung dinamis. Berbagai masukan disampaikan guna memperkaya perspektif penelitian yang menggabungkan pendekatan teknologi, sains, dan ilmu humaniora tersebut.
Ketua LPPM, Fridiyanto, menilai penelitian tersebut memiliki nilai kebaruan yang tinggi karena mengintegrasikan teknologi modern dengan kajian sejarah dan warisan budaya. Menurutnya, penelitian akan semakin kaya apabila diperkuat dengan perspektif antropologi.
“Riset ini sangat menarik karena memadukan teknologi dan kajian sejarah dalam upaya menelusuri jejak peradaban kesultanan di Sumatera. Akan lebih komprehensif apabila ditambahkan sentuhan antropologi untuk melihat hubungan antara situs makam dengan praktik budaya masyarakat yang berkembang di sekitarnya,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris LPPM, Husnul Abid. Ia menekankan pentingnya memberikan dimensi makna (meaning) terhadap data yang dihasilkan melalui perangkat teknologi dan pendekatan saintifik.

“Penelitian yang banyak menggunakan teknologi dan pendekatan sains perlu diimbangi dengan pemaknaan sosial dan kultural. Kehadiran makam tidak hanya sebagai objek fisik atau data spasial, tetapi juga memiliki hubungan dengan masyarakat, tradisi lokal, serta aktivitas para peziarah yang terus berlangsung hingga saat ini,” katanya.
Menurut Husnul, penguatan aspek sosial-humaniora akan membantu menghasilkan pemahaman yang lebih utuh mengenai fungsi dan makna situs makam kesultanan sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat.
Kegiatan monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian penting dalam menjaga mutu penelitian sekaligus memastikan bahwa hasil riset tidak hanya menghasilkan inovasi metodologis, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pelestarian warisan budaya, pengembangan ilmu pengetahuan, serta penguatan identitas sejarah masyarakat Sumatera.