Melayu Jambi Itu Beragam

Melayu Jambi Itu Beragam

Berita 3 menit baca 485 kali dilihat

 

Kemelayuan di Jambi bukanlah realitas yang monolitik, melainkan bineka atau beragam. Di Jambi, Islam menjadi agama yang dominan dan menjadi ciri bagi kemelayuan, tetapi penafsiran atas agama tersebut oleh masyarakat Melayu Jambi tidak selalu sama.

Demikian disampaikan oleh Dr. Pahmi Sy dalam diskusi buku terbarunya, Islam Melayu di Jambi (Sutha Press, 2025), Senin (19/5) di Lobi Fakultas Kedokteran. Diskusi tersebut merupakan bagian dari kegiatan Bazar Buku Ranah Baca yang diadakan oleh CV. Ranah Baca dan didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Fakultas Sains dan Teknologi.

“Buku Islam Melayu di Jambi awalnya merupakan tesis saya di Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia (UI) Jakarta,” kata Pahmi. “Tesis itu merupakan riset etnografis di Senaning, sebuah desa tua di Kabupaten Batanghari, Jambi.”

 

 

Di Senaning, menurut Pahmi, terdapat setidaknya dua suku yang sering dianggap sebagai “asli”. Di samping Melayu Jambi, juga terdapat Suku Anak Dalam. Jika yang pertama memeluk Islam, yang terakhir merupakan pemeluk kepercayaan lokal atau nenek moyang.

”Islam datang dan kemudian bertemu dengan lokalitas. Keduanya berjumpa atau berinteraksi,” papar Pahmi. “Ada perspektif yang menyebut pertemuan itu sebagai akulturasi, ada pula yang mengatakannya sebagai asimilasi.”

Via Dicky, pendiri Yayasan Pusat Data Artefak dan Sejarah Nusantara (Pudas) Jambi, mengatakan bahwa Islam telah datang ke Jambi sejak awal sekali atau sekira Abad Ke-7. “Meskipun saat itu belum menjadi agama resmi kerajaan, Islam sudah banyak dipeluk oleh rakyat,” kata Via.

Belakangan, setelah menjadi agama resmi, kerajaan Melayu, yang kemudian menjadi kesultanan, melakukan dakwah Islam. Namun, karena berbagai hambatan, terutama jarak, dakwah tidak mencapai ke pedalaman. “Di daerah-daerah yang tidak terjangkau sepenuhnya, pengaruh dan praktik peninggalan lama tidak hilang,” tegas Via.

 

 

Di dalam buku Islam Melayu di Jambi, menurut Via Dicky, praktik dan pengaruh lama tersebut terlihat pada komunitas Suku Anak Dalam. Di samping itu, warisan Hindu-Buddha juga diserap dalam sebagian praktik keberislaman di Senaning.

Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Jambi, Aswan Hidayat Usman, mengatakan bahwa masyarakat Melayu sangat adaptif. Dia menunjukkan bahwa di dalam masyarakat Melayu, ada empat jenis adat yang sebetulnya berasal dari adaptasi Islam dengan budaya lokal.

“Selain adat yang Islam, atau disebut adat sebenarnya adat, juga ada adat istiadat, adat yang diadatkan, dan adat yang teradatkan,” kata Datuk Aswan.

Menurut Datuk Aswan, saat ini adat menghadapi tantangan yang tidak ringan. ”Siapa lagi di kalangan generasi muda yang sekarang mengenal dan mengetahui soal adat?” tanyanya. Karena itu, menurut Datuk Aswan, penting sekali forum-forum diadakan untuk membahas adat dan kemelayuan bagi generasi muda.

Diskusi buku Islam Melayu di Jambi dihadiri oleh perwakilan LAM, para dosen, serta mahasiswa. Banyak tanggapan dan pertanyaan diajukan oleh para peserta, membuat suasana diskusi menjadi sangat hidup.

Editor: Doni

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.