Pohon Matoa di Ujung Timur Sekolah
Pada ujung timur sekolah tumbuh subur pohon matoa,
Dedaunannya rindang macam atap rumah,
Di bawah kakinya anak-anak riang duduk bercerita,
Tentang guru yang macam serangga terbang pengisap darah,
Bila cuaca panas dan penantian bikin gerah,
Aku duduk sendiri di bawah kaki pohon matoa
Sambil membaca puisi: belajar percaya pada musim dan cuaca
Pada guru dan kurikulum, masih perlukah saya menaruh percaya?
Ke hutan, dua temanku berlarian meninggalkan sekolah
Berjatuhan jejak di jalan tanah….
*****
Puisi Gody Usnaat di atas sedikit menggambarkan posisi pepohonan matoa LPPM yang ditanam di sudut kampus.
Nampak, semak-semak mulai menyelimuti matoa yang kami tanam beberapa bulan lalu. Ramai-ramai menanamnya, kemudian meninggalkannya tanpa dipupuk, atau mungkin sekedar menyapanya dengan penuh cinta.
Pagi ini kami mengunjungi matoa-matoa yang sudah dikelilingi lalang. Parang dan cangkul mengayun, menebas hingga ada ruang bernafas bagi matoa-matoa yang syukurnya masih hidup sejak dititipkan pada tanah kampus yang basah.
Dedaunan matoa mulai nampak, badannya yang ringkih mulai nampak tegak,”Terimakasih sudah tidak hanya menanam kami, tapi juga merawat kami dengan penuh cinta”, bisik pepohonan matoa di tengah-tengah gema suara merdu Buya Yahya yang sedang menyampaikan kidung cinta di kampus tercinta UIN Jambi.
“Pada ujung Timur sekolah tumbuh subur pohon matoa”….. Seperti puisi inilah, harapan kami untuk matoa yang kita bersama-sama menanamnya.


Editor: Doni