Dari Relawan untuk Inklusi: Cerita di UIN STS Jambi

Dari Relawan untuk Inklusi: Cerita di UIN STS Jambi

Berita 4 menit baca 285 kali dilihat

Di tengah riuhnya kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi tahun 2025, selalu ada pemandangan yang berbeda. Delapan mahasiswa difabel baru melangkah penuh harapan ke dunia kampus: lima di antaranya penyandang Tuli, satu orang penyandang low vision, satu orang penyandang daksa, dan satu orang adalah slow learner. Mereka tersebar di beberapa prodi seperti Sistem Informasi, Ilmu Perpustakaan. Ilmu Pemerintahan dan Pendidikan Agama Islam. Mereka hadir dengan semangat yang sama seperti mahasiswa lainnya—ingin belajar, tumbuh, dan meraih cita-cita.

Namun perjalanan itu tentu tidak mudah. Di sinilah kehadiran para volunteer madif di bawah koordinasi Pusat Gender, Anak dan Disabilitas, LPPM-UIN Jambi begitu berarti. Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan jembatan yang membuat setiap langkah para mahasiswa difabel terasa lebih ringan. Bahkan sejak persiapan Pra PBAK, mereka para volunteer selalu terlibat dalam beberapa kali pertemuan koordinasi antara PGAD, Madif baru, dan para wali. Bagi sebagian besar mereka yang mayoritas menghabiskan pendidikan di eksklusif, sekolah luar biasa, tentu masuk ke pendidikan tinggi membaur dengan mahasiswa non-difabel (inklusif) adalah tantangan dan sedikit was-was. Namun, kehadiran para relawan berusaha menepis kekuatiran tersebut.

Salsabila Raudha, atau akrab disapa Salsa atau Lala adalah salah satu relawan tersebut. Mahasiswi Prodi Ilmu Perpustakaan semester tujuh asal Kerinci ini telah lama jatuh hati pada Bahasa Isyarat. Bahasa Isyarat menjadi Bahasa komunikasi universal bagi kelompok Tuli. “Sejak SMA aku sudah penasaran dengan bahasa isyarat. Tapi baru di semester empat aku benar-benar belajar serius, saat ikut pelatihan yang rutin diadakan oleh PGAD. Dari situ aku sadar, bahasa ini bukan sekadar isyarat tangan, tapi bahasa hati yang membuka jalan bagi kesetaraan,” kisahnya.

Selama PBAK, Salsa hadir setiap hari di tengah para madif ini. Ia menerjemahkan percakapan lisan ke Bahasa Isyarat, membimbing, bahkan sekadar menemani. Perannya sangat besar. “Aku ingin teman-teman difabel merasa bahwa mereka tidak sendiri. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka punya hak yang sama untuk menikmati dunia kampus,” ucap Salsa dengan mata berbinar.

Salsa tidak berjalan sendiri. Ada Milla, Naura, Chika, Rian, Marsal, Nabila, Artika, Shelly, Nasem, Etika, Alya dan Suci—para volunteer yang bersama-sama merenda inklusi di UIN STS Jambi. Kelompok mahasiswa yang mendedikasikan diri mereka mendampingi kegiatan akademik mahasiswa difabel yang membutuhkan dampingan, baik dalam kampus dan bahkan luar kampus. Sebagian dari mereka juga adalah Duta Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Jambi. Mereka bukan hanya mendampingi, tapi juga belajar. Belajar memahami bahwa setiap manusia berharga dengan cara yang berbeda.

Momen PBAK kali ini juga meninggalkan jejak yang mengharukan. Para mahasiswa difabel baru diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat mereka di hadapan ribuan mahasiswa baru, pejabat kampus, dosen hingga para tamu undangan. Ada yang membaca Al-Qur’an dengan bahasa isyarat, membaca puisi, melakukan catwalk dengan percaya diri, hingga mempersembahkan pantomim. Pertunjukan itu memukau penonton, membuat banyak orang terharu sekaligus bangga. Semua itu tidak lepas dari proses komunikasi intens para volunteer madif, termasuk Salsa, dengan panitia umum PBAK, agar panggung inklusi benar-benar terwujud.

Menjadi volunteer mengubah cara pandang Salsa terhadap kehidupan. “Dulu aku menganggap kampus hanya tempat belajar. Setelah terjun sebagai volunteer, aku sadar kampus juga adalah ruang tumbuh bersama. Setiap mahasiswa membawa kisahnya masing-masing, dan kita harus saling menopang,” ujarnya lirih.

Di balik kesibukan kuliah dan aktivitas organisasi, Salsa membawa harapan besar: kampus yang sungguh-sungguh inklusif. “Aku ingin kampus ini menyediakan ruang tanpa sekat, tanpa hambatan komunikasi. Semoga selalu ada volunteer yang siap mendampingi, ada fasilitas yang memadai, dan ada hati yang terbuka untuk saling menghargai,” ungkapnya.

Kisah Salsa adalah kisah tentang kepedulian kecil yang berdampak besar. Dengan kedua tangannya yang menari dalam bahasa isyarat, ia menyalakan cahaya harapan bagi mereka yang kerap dipandang berbeda. Bersama para volunteer madif lainnya, Salsa membuktikan: inklusi bukan sekadar wacana, melainkan perbuatan nyata.

Kini, Pusat Gender, Anak, dan Disabilitas (PGAD) UIN STS Jambi kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk bergabung sebagai volunteer madif. Dengan menjadi volunteer, kamu tidak hanya mendampingi mahasiswa difabel, tetapi juga ikut belajar bahasa isyarat, merasakan pengalaman berharga tentang arti kebersamaan, dan menjadi bagian dari gerakan yang memperjuangkan kesetaraan.

Lebih dari itu, para volunteer akan sekaligus berperan sebagai Duta Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Jambi 2025. Sebuah amanah mulia untuk menyuarakan keberpihakan pada kelompok rentan, serta memastikan kampus kita benar-benar menjadi ruang yang aman, ramah, dan inklusif bagi semua.

Mari bergabung. Jadilah bagian dari keluarga besar volunteer PGAD, karena setiap hati yang tulus, setiap langkah kecil, dan setiap uluran tangan akan menyalakan cahaya perubahan yang lebih besar.

📌 Daftar sekarang di: https://sutha.link/relawandifabel25

(Nisaul Fadillah)

Editor: Doni

Tags:

Bagikan:

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.