Duta Gender dan Anak UIN STS Jambi Gelar Sharing Session Pengalaman Bersama Mahasiswa Disabilitas Selama Ramadan

Duta Gender dan Anak UIN STS Jambi Gelar Sharing Session Pengalaman Bersama Mahasiswa Disabilitas Selama Ramadan

Berita 3 menit baca 375 kali dilihat

Jambi, 20 Maret 2025 –Duta Gender dan Anak UIN STS Jambi sukses menggelar sharing session yang membahas “Pengalaman Mahasiswa Disabilitas selama Bulan Ramadan”. Acara yang berlangsung secara online via Zoom ini dibuka oleh Nisaul Fadilah, PhD selaku Korpus Gender Anak dan Disabilitas, UIN STS Jambi. Kegiatan berlangsung dengan lancar, dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa disabilitas dan non-disabilitas, juga untuk umum. Event ini juga dilengkapi dengan Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Dalam acara tersebut, dua narasumber utama berbagi pengalaman mereka, yaitu Putri Fatimah Azzahrah, seorang penyandang Tuli, mahasiswa Program Studi Ilmu pemerintahan. Selain Putri, ada Neval Rismanda, mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang penyandang disabilitas netra. Keduanya mengungkapkan pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan ibadah Ramadan dan bagaimana mereka berusaha mengatasi hambatan tersebut di tempat ibadah dan fasilitas umum.

Salah satu topik utama yang dibahas adalah pentingnya aksesibilitas di tempat ibadah dan fasilitas umum. Sebagai contoh positif, Putri bercerita bahwa Masjid Al Azhar di kawasan Jelutung telah menyediakan akses bagi penyandang disabilitas dengan adanya pendakwa yang mampu berbahasa isyarat. Meskipun demikian, penyandang disabilitas masih memerlukan akses lebih luas di berbagai tempat seperti masjid, kantor, dan fasilitas umum lainnya.

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas, beberapa kebutuhan akses yang penting perlu dipenuhi. Sebagaimana diungkapkan oleh para narasumber, kebutuhan tersebut meliputi adanya pendakwa dan juru bahasa isyarat untuk memfasilitasi komunikasi yang efektif, informasi yang jelas dan mudah diakses untuk memudahkan navigasi, serta jalur khusus kursi roda untuk memastikan aksesibilitas fisik. Selain itu, pegangan tangan untuk tuna netra, toilet yang ramah disabilitas, dan teks petunjuk seperti poster informasi juga merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk memastikan bahwa penyandang disabilitas dapat berpartisipasi secara aktif dan merasa nyaman dalam lingkungan tersebut.

Selama Ramadan, para penyandang disabilitas biasanya proaktif meminta bantuan jika menghadapi hambatan saat beribadah bersama. Untuk mengatasi kendala tersebut, mereka sering mengajak panitia atau pengurus masjid berdiskusi, dengan pendampingan juru bahasa isyarat. Putri berbagi bagaimana ia aktif mencari bantuan untuk memastikan ia bisa mengikuti aktivitas ibadah tanpa hambatan. Sementara Neval menekankan pentingnya pegangan tangan dan informasi yang jelas dalam membantu tuna netra menjalankan ibadah dengan nyaman.

Contoh lainnya adalah komunitas Cahaya Islam JAMI dan BAZNAS yang membantu teman tuli belajar Al-Qur’an di kantor GERKATIN, menunjukkan semangat tinggi dalam menjalankan ibadah di bulan suci. Selain itu, kedua narasumber menegaskan pentingnya saling menghargai antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Diskusi mengenai aksesibilitas perlu dilakukan sebelumnya agar semua pihak dapat berpartisipasi secara maksimal dalam kegiatan ibadah dan sosial.

Peserta juga diajak untuk belajar bahasa isyarat, yang merupakan salah satu akses penting bagi penyandang Tuli. Edukasi mengenai bahasa isyarat dan kebutuhan penyandang disabilitas lainnya sangat penting untuk meningkatkan inklusi di lingkungan kampus dan masyarakat. Lebih jauh, Putri dan Neval sepakat bahwa edukasi tentang penyandang disabilitas harus lebih ditingkatkan. Masyarakat diharapkan lebih terbuka dan siap membantu penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjalankan ibadah Ramadan.

Acara ini menjadi langkah awal yang penting dalam mendorong terciptanya lingkungan inklusif di kampus UIN STS Jambi dan masyarakat luas. Program Duta Gender dan Anak berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan yang memperkuat inklusi dan keberagaman, membawa dampak positif bagi semua kalangan masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan saling menghargai, diharapkan lingkungan inklusif dapat terwujud, memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi semua individu, tanpa terkecuali.(USS)

Editor: Doni

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.