Empat Tips Meningkatkan Kolaborasi dan Network Internasional
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Dr. Farid F. Saenong menjadi pemateri pada Rapat Kerja UIN STS Jambi pada 06 Februari 2025. Tema yang diangkat pada sesi bersama Dr. Saenong adalah “Penguatan Kolaborasi dan Networking di Regional Asia Tenggara.” Dalam sesi ini Koordinator Stafsus Menteri Agama memberikan tips dan trik membangun Kerjasama internasional. Berikut beberpa tips tersebut:
Network itu Bermula secara Individual
Dr. Saenong menekankan pentingnya peran individu dalam membangun kerjasama internasional. Koordinator Stafsus berpendapat: “Semua kerjasama yang terjadi, biasanya bermula dari komunikasi organik yang diinisiasi person to person.” Lebih lanjut ia menekankan bahwa komunikasi tersebut harus dimulai sedini mungkin. Oleh karenanya dosen-dosen yang tengah berkuliah di luar negeri (LN), serta alumni LN yang telah kembali mengajar, mempunyai tugas mulia untuk memulai berkomunikasi dengan almamater di luar negeri.
Harus ada Champion atau Pelaksana di Tingkat Prodi
Yang paling sulit dikerjakan adalah menindaklanjuti MoU yang sudah terbangun. Oleh karena itu perlu adanya komitmen di tingkat bawah untuk melaksanakan perjanjian-perjanian kerjasama tersebut. Ia berdalih “tidak zamannya lagi kita membuat MoU lalu hilang tidak ada kegiatan. Kesannya hanya seremonial untuk mengejar akreditasi saja. Sehingga sekarang banyak kampus luar yang tidak berkenan lagi menandatangani MOU karena tidak pernah ada tindak lanjut.”
Memanfaatkan Momentum
Sekarang tidak ada lagi alasan keterbatasan anggaran untuk kolaborasi internasional. Saat ini banyak kampus-kampus besar yang sering mendatangkan atau kedatangan tamu dari luar negeri. Dr. Saenong menyampaikan dalam sesi “Kampus UIII, UIN Jakarta, UIN Yogjakarta sering mendapat visiting professor. UIN Jambi bisa memanfaatkan itu, hanya butuh tiket pesawat, hotel, dan sedikit honor. Sehingga tidak perlu membayar tiket pesawat dari negara asal. Kuncinya adalah komunikasi dan pendekatan personal dengan kampus-kampus di pulau Jawa.”
Kompetisi yang Sehat untuk Berkembang Bersama
“Banyak di antara kita itu kalau ada yang muda mau maju, kita hambat. Budaya-budaya seperti ini, perploncoan itu sudah bukan lagi zamannya.” Ujar Dr. Farid. Lebih lanjut ia berharap dosen-dosen harus proaktif mencari funding internasional. Ia banyak mencontohkan dosen-dosen di luar negeri itu semua bersemangat dalam mendapatkan funding penelitian. Ia juga berharap banyak dosen yang aktif dalam kegiatan konferensi internasional, ia berpendapat “Dosen kalau menjadi presenter konferensi, jangan hanya sekedar memaparkan makalah. Namun harus gencar membangun jaringan.” Kunci utama sukses kolaborasi adalah teamwork, kolaborasi, dan gotong royong. Bukan saatnya lagi saling menjatuhkan, saling bersaing tidak sehat.

Tips dalam membangun kolaborasi dan networking ini tentu sejalan dengan program-program kerja LPPM, lebih spesifik pada Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI). Saran-saran dari Koordinator Stafsus Menteri Agama ini, tentu akan ditindaklanjuti, agar melahirkan kolaborasi internasional menuju UIN berdaya saing global di Tingkat Asia Tenggara.
Editor: Doni
Bagikan: