FGD Hasil Penelitian Mora Air Funds Tim Arfan Azis, Ph. D: Telusuri Potensi Tumbuhan Obat untuk Formulasi Skincare Eksim
JAMBI – Pengetahuan masyarakat lokal tentang tumbuhan obat menjadi salah satu pintu masuk penelitian untuk menemukan bahan aktif perawatan kulit. Melalui riset yang didanai program MoRA Fund, tim peneliti menelusuri potensi fitosterol dari tumbuhan lokal di sejumlah taman nasional di Provinsi Jambi untuk dikembangkan sebagai kandidat bahan aktif dalam formulasi skincare bagi penderita eksim.
Penelitian berjudul, “Bioprospeksi Fitosterol dari Tumbuhan Lokal Taman Nasional Jambi Berdasarkan Kajian Etnobotani dan Eksplorasi sebagai Kandidat Bahan Aktif dalam Formulasi Skincare bagi Penderita Eksema dipimpin oleh Arfan Azis, Ph.D. Hasil penelitian tersebut dibahas dalam FGD di M Stand Cafe, Jumat (9/10/2026).
Arfan mengatakan, penelitiannya berupaya mengidentifikasi tumbuhan obat yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan bahan perawatan kulit bagi penderita eksim. Eksplorasi dilakukan dengan mengacu pada pengetahuan lokal dan potensi keanekaragaman hayati di empat kawasan taman nasional, yakni Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Taman Nasional Berbak (TNB), dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Menurut Arfan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim peneliti ialah semakin terbatasnya regenerasi orang-orang yang menguasai pengetahuan tradisional tentang peracikan tumbuhan obat.
“Sudah sulit menemukan penerus para pendahulu untuk menjadi peracik tanaman obat,” kata Arfan.
Kondisi tersebut, menurut tim peneliti, menunjukkan pentingnya mendokumentasikan pengetahuan masyarakat lokal sebelum semakin banyak yang hilang. Kajian etnobotani dalam penelitian ini menjadi salah satu cara untuk memahami hubungan masyarakat dengan tumbuhan di lingkungan mereka, termasuk pemanfaatannya sebagai obat tradisional.
Dalam pemaparan hasil penelitian, tim juga menekankan bahwa riset bioprospeksi tidak hanya berkaitan dengan pencarian senyawa alami yang berpotensi dikembangkan menjadi produk perawatan kulit. Penelitian ini sekaligus mengangkat kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitar kawasan taman nasional di Provinsi Jambi.
Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan tradisional diharapkan dapat dikaji secara ilmiah dan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai potensi fitosterol sebagai kandidat bahan aktif dalam formulasi skincare. Meski demikian, potensi tersebut tetap memerlukan pembuktian melalui pengujian ilmiah untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Penelitian ini merupakan riset multiyears yang berlangsung selama tiga tahun dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Indonesia Bangkit, yang dikenal sebagai MoRA Fund.
FGD tersebut dihadiri Ketua LPPM, serta para ahli dari berbagai kalangan. Forum ini menjadi ruang untuk memperoleh masukan, memperkaya analisis, dan menyempurnakan hasil penelitian.
Masukan para ahli diharapkan dapat memperkuat kualitas penelitian, baik dari sisi kajian etnobotani, eksplorasi tumbuhan, maupun pengembangan kandidat bahan aktif untuk produk perawatan kulit. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kontribusi ilmiah, tetapi juga membantu menjaga pengetahuan tradisional masyarakat Jambi tentang pemanfaatan tumbuhan obat.
Bagikan: