Hari Ketiga Retret, Celah Riset dan Membangun Argumen

Hari Ketiga Retret, Celah Riset dan Membangun Argumen

Berita 3 menit baca 33 kali dilihat

KUALA TUNGKAL – Memasuki hari ketiga pelaksanaan Retret Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Kamis (30/7/2026), para peserta semakin diperdalam kemampuannya dalam menyusun artikel ilmiah bereputasi internasional. Fokus pembelajaran diarahkan pada penguatan argumen ilmiah, penyusunan struktur artikel, hingga kemampuan menemukan research gap sebagai fondasi penelitian yang berkualitas.
Kegiatan diawali dengan sesi review materi sebelumnya mengenai penyusunan abstrak dan pendahuluan. Para narasumber menegaskan bahwa kekuatan utama artikel ilmiah internasional tidak hanya terletak pada kelengkapan data, tetapi juga pada kemampuan penulis menghadirkan argumen yang orisinal.
Dalam sesi tersebut, peserta diingatkan untuk menerapkan prinsip make your own argument, yakni membangun argumentasi sendiri berdasarkan analisis terhadap literatur, bukan sekadar mengulang pandangan peneliti lain. Argumen yang kuat bahkan harus sudah tampak sejak bagian abstrak, karena menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk memahami kontribusi ilmiah sebuah artikel. Salah satu bentuk argumentasi yang dinilai paling kokoh adalah argumen historis yang mampu menjelaskan perkembangan suatu fenomena secara komprehensif.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai penyusunan bagian-bagian artikel ilmiah. Narasumber menjelaskan bahwa struktur artikel harus dibangun berdasarkan argumen utama yang ingin disampaikan. Setiap bagian berfungsi mendukung argumen tersebut sehingga alur tulisan menjadi logis dan mudah dipahami. Umumnya artikel terdiri atas tiga hingga enam bagian utama di luar pendahuluan dan penutup, dengan prinsip bahwa struktur yang sederhana justru lebih efektif dalam menyampaikan gagasan ilmiah.
Pada sesi berikutnya, Agus Salim, Ph. D memberikan penguatan mengenai strategi menembus jurnal bereputasi internasional. Ia mengingatkan peserta agar tidak berkecil hati ketika artikel memperoleh penolakan dari jurnal.
Menurutnya, masukan dari reviewer merupakan bagian penting dari proses penyempurnaan naskah. Penulis juga harus mampu membangun our voice atau suara ilmiah sendiri setelah melakukan telaah pustaka secara mendalam, sehingga artikel memiliki identitas akademik yang jelas.
Selain itu, peserta didorong untuk meningkatkan kemampuan membaca celah penelitian dan merumuskannya menjadi research question yang relevan serta belum banyak dijawab oleh penelitian sebelumnya. Setelah pertanyaan penelitian dirumuskan, peneliti harus menentukan instrumen dan metode yang paling tepat untuk menjawabnya. Kesesuaian antara substansi artikel dengan ruang lingkup jurnal tujuan juga menjadi aspek penting yang harus diperhatikan sebelum naskah dikirimkan.
Sementara itu, Dr. Ayub Mursalin menyoroti sejumlah kelemahan yang masih ditemukan pada abstrak dan pendahuluan artikel peserta. Berdasarkan hasil telaah terhadap naskah yang telah disusun, sebagian besar peserta masih mengalami kesulitan dalam menentukan fenomena penelitian yang benar-benar layak diangkat sebagai fokus kajian.
Menurutnya, ketepatan dalam mengidentifikasi fenomena merupakan fondasi utama bagi lahirnya argumen ilmiah yang kuat. Tanpa fenomena yang jelas, artikel akan kehilangan arah dan sulit menunjukkan kontribusi kebaruannya.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.