LPPM UIN Jambi Bedah 10 Riset Pendidikan, Soroti AI hingga Branding Madrasah
JAMBI — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tantangan pendidikan Generasi Z, dan strategi membangun citra madrasah menjadi sejumlah isu yang dibahas dalam Research Week hari ketiga di Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Rabu (28/10/2026).
Melalui Panel Expose Sesi V Hasil Penelitian Litapdimas Tahun 2025, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menghadirkan 10 tim peneliti untuk mempresentasikan hasil riset di bidang pendidikan. Berbagai penelitian tersebut menyoroti tantangan lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan teknologi, kurikulum, dan karakter peserta didik.
Panel ini menghadirkan dua penelaah, yakni Dr. Sintha Sih Dewanti, S.Pd.Si., M.Pd.Si., akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki kepakaran dalam pendidikan matematika dan evaluasi pembelajaran, serta Dr. Rian Vebrianto, S.Pd., M.Ed., akademisi UIN Sultan Syarif Kasim Riau dari Program Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Tadris IPA.
Sepuluh penelitian yang dipresentasikan memperlihatkan beragam persoalan pendidikan, mulai dari transformasi kurikulum dan penguatan identitas kelembagaan hingga pemanfaatan teknologi digital dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Pada aspek kurikulum dan kelembagaan, penelitian membahas pendidikan karakter di Sekolah Penggerak untuk meningkatkan daya saing global, implementasi asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah, serta pengalaman dan tantangan guru Bahasa Inggris dalam merancang pembelajaran berbasis technological pedagogical content knowledge (TPACK).
Penelitian mengenai strategi branding madrasah di MTs Darul Arifin, Kabupaten Muaro Jambi, juga menjadi bagian dari pembahasan. Kajian ini menempatkan identitas dan citra lembaga pendidikan sebagai persoalan penting di tengah perubahan ekspektasi masyarakat terhadap madrasah.
Di bidang teknologi pembelajaran, peneliti mengkaji pengawasan etis penggunaan AI di kalangan mahasiswa, pengaruh Google Translate terhadap kualitas terjemahan Bahasa Arab mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) se-Provinsi Jambi, serta pengembangan media pembelajaran berbasis gamifikasi melalui platform digital untuk meningkatkan keterlibatan siswa SMA.
Kajian lainnya menyoroti gaya kepemimpinan guru dalam mengajar Generasi Z pada mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah Islam. Sementara itu, dua penelitian lain membahas kontribusi komitmen dan motivasi kerja guru Bahasa Arab di sekolah dasar Islam (SDI) se-Provinsi Jambi serta efektivitas penggunaan warna untuk meningkatkan motivasi belajar anak usia dini di Kota Jambi.
Ragam topik tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi. Kualitas interaksi antara guru dan peserta didik, motivasi belajar, karakter, serta kemampuan lembaga membangun identitas juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditangani melalui penelitian.

Dorong Luaran Riset yang Lebih Luas
Dalam sesi evaluasi, Sintha mengapresiasi kerja para peneliti. Menurut dia, tim peneliti telah menunjukkan kinerja yang melampaui ekspektasi, meskipun didukung pendanaan yang terbatas.
“Semua tim saya nilai sudah baik, dengan dana yang terbatas sudah melampaui apa yang diharapkan, Bapak/Ibu tim peneliti sudah sangat hebat,” ujar Sintha.
Apresiasi tersebut menjadi catatan positif bagi pelaksanaan penelitian Litapdimas. Namun, kualitas penelitian juga perlu diikuti dengan penguatan luaran agar hasilnya dapat dimanfaatkan lebih luas, baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan masyarakat.
Rian mendorong para peneliti untuk tidak membatasi luaran penelitian pada publikasi artikel jurnal. Menurut dia, hasil penelitian juga dapat diarahkan pada perlindungan kekayaan intelektual, termasuk instrumen yang dikembangkan selama proses penelitian.
“Sebaiknya yang di-HKI-kan salah satunya dalam bentuk instrumen penelitiannya,” kata Rian.
Ia juga mengapresiasi upaya UIN STS Jambi dalam mendorong publikasi hasil penelitian pada jurnal bereputasi. Meski demikian, ia menilai penguatan publikasi perlu berjalan beriringan dengan hilirisasi hasil penelitian.
Menurut Rian, hasil riset idealnya tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dikembangkan menjadi produk atau inovasi yang memiliki manfaat praktis dan nilai ekonomi.
“Riset yang dihilirisasikan dan punya nilai ekonomi, pada akhirnya akan kembali untuk kesejahteraan para dosen itu sendiri,” ujarnya.
Melalui panel kelima ini, LPPM melanjutkan rangkaian Research Week sebagai ruang pemaparan dan evaluasi hasil penelitian Litapdimas Tahun 2025. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat mutu penelitian, mendorong perlindungan kekayaan intelektual, dan memperluas pemanfaatan hasil riset di lingkungan pendidikan Islam.
Bagikan: