Nisan Islam dan Jejak Keragaman Budaya Jambi–Sumatera Selatan

Nisan Islam dan Jejak Keragaman Budaya Jambi–Sumatera Selatan

Berita 5 menit baca 54 kali dilihat

Hasil Riset Litapdimas 2025#1

LPPM akan merilis ringkasan riset Litapdimas tahun 2025 secara ilmiah populer. Pada #1 ini adalah riset yang diketuai oleh Titin Agustin Ningsih, PhD.

Nisan bukan sekadar penanda makam. Benda yang berdiri di atas pusara itu menyimpan jejak sejarah tentang cara masyarakat memaknai kematian, mengembangkan tradisi, serta membangun hubungan kebudayaan dari satu wilayah ke wilayah lain. Melalui bentuk, bahan, dan konteks arkeologisnya, nisan Islam dapat menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan masyarakat Muslim di Sumatra bagian selatan.

Persoalannya, apakah nisan-nisan Islam di Jambi dan Sumatera Selatan memperlihatkan corak yang sama, atau justru menunjukkan variasi budaya yang khas di setiap wilayah? Pertanyaan inilah yang menjadi perhatian penelitian berjudul “Variasi Regional Tipologi Nisan Islam: Kajian Arkeologi Komparatif di Jambi dan Sumatera Selatan”, yang diketuai Titin Agustin Nengsih dengan anggota Benny Agusti Putra.

Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa peninggalan arkeologis tidak hanya penting karena usianya, tetapi juga karena kemampuannya menjelaskan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Nisan, misalnya, dapat ditelaah melalui bentuk fisik, material yang digunakan, serta hubungannya dengan lingkungan dan situs tempat benda tersebut ditemukan.

Dengan pendekatan itu, nisan tidak diperlakukan sebagai benda mati yang terpisah dari masyarakatnya. Sebaliknya, nisan dibaca sebagai bagian dari budaya material yang merekam praktik sosial, tradisi pemakaman, dan keragaman ekspresi kebudayaan Islam.

Membaca sejarah melalui bentuk nisan

Dalam kajian arkeologi, tipologi merupakan cara mengelompokkan benda berdasarkan kesamaan dan perbedaan karakteristik tertentu. Pada nisan Islam, pengelompokan dapat dilakukan dengan memperhatikan morfologi atau bentuk fisik, material, serta ciri-ciri artefak lainnya.

Klasifikasi tersebut membantu peneliti mengenali pola persebaran dan variasi peninggalan di berbagai lokasi. Ketika nisan dari sejumlah situs dibandingkan, peneliti dapat melihat apakah terdapat tipe yang dominan, bentuk yang hanya ditemukan pada lokasi tertentu, atau perbedaan komposisi tipologi antardaerah.

Namun, kesamaan bentuk tidak serta-merta membuktikan bahwa dua komunitas memiliki hubungan langsung. Demikian pula, perbedaan bentuk tidak selalu berarti keduanya berkembang secara terpisah. Untuk memahami hubungan kebudayaan secara lebih utuh, karakteristik nisan perlu dibaca bersama konteks arkeologis, geografis, dan kronologisnya.

Karena itu, penelitian Titin Agustin Nengsih dan Benny Agusti Putra menempatkan perbandingan sebagai langkah penting untuk mengidentifikasi variasi regional tanpa mengabaikan keterbatasan bukti yang tersedia.

Membandingkan 90 catatan makam dari 21 situs

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif komparatif dengan mengkaji 90 catatan makam dari 21 situs di Jambi dan Sumatera Selatan. Data tersebut terdiri atas 35 catatan makam dari Jambi dan 55 catatan dari Sumatera Selatan.

Analisis dilakukan melalui klasifikasi tipologi nisan, perbandingan karakteristik artefak, dan penelaahan informasi geografis untuk memahami konteks persebaran situs.

Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa tipe Demak–Troloyo menjadi kategori nisan kepala yang paling banyak tercatat, yakni sebanyak 55 makam. Sementara itu, tipe Batu Aceh tercatat pada sembilan makam.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, tipe Demak–Troloyo ditemukan pada 40 makam di Sumatera Selatan dan 15 makam di Jambi. Angka tersebut memperlihatkan bahwa tipe yang sama hadir di kedua wilayah, tetapi jumlah catatannya berbeda.

Temuan ini penting karena menunjukkan adanya variasi komposisi tipologi dalam himpunan data yang diteliti. Nisan Demak–Troloyo merupakan tipe yang dominan dalam inventarisasi tersebut, sedangkan tipe Batu Aceh juga menjadi bagian dari keragaman peninggalan yang tercatat.

Meski demikian, angka-angka itu perlu dibaca secara cermat. Jumlah catatan makam dari Sumatera Selatan lebih banyak dibandingkan dengan Jambi. Perbedaan jumlah data tersebut dapat memengaruhi gambaran mengenai dominasi suatu tipe. Oleh sebab itu, jumlah temuan tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu wilayah memiliki tradisi nisan tertentu yang lebih kuat daripada wilayah lainnya.

Keragaman regional dan batas penafsiran

Salah satu sumbangan penting penelitian ini ialah memperlihatkan bahwa kajian nisan Islam perlu memperhatikan karakteristik lokal sekaligus kemungkinan keterhubungan antardaerah. Jambi dan Sumatera Selatan berada dalam kawasan geografis yang berdekatan, tetapi kedekatan geografis tidak otomatis menghasilkan keseragaman budaya material.

Variasi bentuk nisan dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri perkembangan tradisi pemakaman dan ekspresi budaya Islam di setiap wilayah. Namun, penjelasan mengenai asal-usul bentuk, jalur persebaran, ataupun hubungan antarkomunitas membutuhkan bukti tambahan.

Penelitian ini sendiri mengakui adanya keterbatasan dalam informasi klasifikasi dan kronologi, selain ketimpangan jumlah situs yang tercakup dalam data. Keterbatasan tersebut membuat hasil penelitian belum dapat digeneralisasi untuk menggambarkan keseluruhan tradisi nisan Islam di Jambi dan Sumatera Selatan.

Dalam arkeologi, kehati-hatian semacam ini merupakan bagian penting dari kerja ilmiah. Data yang tersedia harus dibedakan dari interpretasi yang dibangun berdasarkan data tersebut. Temuan mengenai jumlah dan persebaran tipe nisan merupakan hasil inventarisasi, sedangkan penjelasan tentang proses sejarah yang melatarbelakanginya masih memerlukan pengujian lebih lanjut.

Dengan demikian, penelitian ini tidak berhenti pada upaya mengelompokkan nisan berdasarkan bentuk. Lebih jauh, kajian tersebut menyediakan dasar empiris untuk mengembangkan pertanyaan baru mengenai hubungan antara budaya material, ruang geografis, dan sejarah masyarakat Muslim di Sumatra bagian selatan.

Menjaga warisan, memperluas pengetahuan

Nisan Islam memiliki nilai penting bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan bagi generasi sekarang. Melalui dokumentasi dan klasifikasi yang sistematis, benda-benda tersebut dapat membantu menjelaskan keragaman tradisi Islam yang berkembang di berbagai lingkungan masyarakat.

Penelitian komparatif seperti ini juga menunjukkan pentingnya inventarisasi situs secara berkelanjutan. Dokumentasi yang lebih lengkap, konsistensi dalam klasifikasi tipologi, serta penentuan kronologi yang lebih kuat akan membantu peneliti menguji apakah pola yang ditemukan pada sejumlah situs juga berlaku dalam cakupan wilayah yang lebih luas.

Pada saat yang sama, konteks setiap situs perlu tetap diperhatikan. Nisan tidak cukup dipahami hanya melalui bentuk fisiknya. Hubungannya dengan lingkungan makam, lokasi geografis, dan bukti arkeologis lain merupakan bagian penting untuk menyusun penafsiran sejarah yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, kajian variasi regional tipologi nisan Islam di Jambi dan Sumatera Selatan mengingatkan bahwa sejarah kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk narasi tertulis. Sebagian jejaknya tersimpan pada benda-benda yang selama ini berada di sekitar masyarakat, tetapi belum sepenuhnya dibaca sebagai sumber pengetahuan.

Melalui penelitian yang sistematis dan komparatif, nisan dapat membantu membuka pemahaman tentang keragaman budaya material Islam di Sumatra bagian selatan. Bukan untuk memaksakan kesimpulan mengenai hubungan sejarah yang belum terbukti, melainkan untuk membangun landasan ilmiah yang lebih kuat dalam memahami warisan arkeologis dan menjaga keberlanjutannya sebagai sumber pengetahuan.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.