Pekan Lingkungan UIN Jambi 2025 sebagai Gerakan Ekoteologi Kementerian Agama
Senin (20/10/2025) berlangsung Seminar Nasional,”Batang Hari: Kini, Dulu, dan Esok” sebagai pembuka kegiatan Pekan Lingkungan 2025 yang diselenggarakan oleh Pusat Lingkungan Hidup dan SDGs LPPM UIN STS Jambi. Kegiatan Pekan lingkungan merupakan wujud nyata dalam menerapkan Ekoteologi Kementerian Agama dan Green Campus UIN STS Jambi.
Rektor UIN STS Jambi, Prof. Dr. Kasful Anwar, M.Pd menyampaikan apresiasi terhadap Korpus Lingkungan dan SDGs LPPM, Dr. Irmawati Sagala yang menyelenggarakan kegiatan Pekan Lingkungan dan dibuka dengan Seminar Nasinal,”Batang Hari: Dulu, Kini, dan Esok”. Rektor mengatakan bahwa program LPPM ini sangat relevan dengan program Ekoteologi Kementerian Agama dan Agenda Green Kampus di UIN Jambi.”Semoga dengan kegiatan Pekan Lingkungan ini menjadi pengingat bagi civitas academica untuk memiliki kepedulian dalam menjaga lingkungan”, ujarnya.
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Prof. Gusti Asnan mempresentasikan materi berjudul,”Peranan Batang Hari dalam Sejarah Peradaban Jambi.” Asnan mengatakan bahwa ada tiga penamaan Batang hari: Pertama, Batang hari (penduduk tempatan); Kedua, Sungai Batang Hari (penamaan kontemporer); Ketiga, Djambi Rivier atau Sungai Djambi (orang Belanda).
Prof. Asnan menjelaskan bahwa Batang Hari berasal dari dua kata,’batang’ dan ‘hari’. ‘Batang’ sebutan orang Melayu Sumatera bagian tengah terhadap Sungai, dan ‘Hari’ satuan waktu yang terdiri dari siang dan malam,”Batang Hari yaitu aliran air yang senantiasa mengalir siang dan malam”, selain itu menurut Prof Asnan penyebutan ‘Sungai Batang Hari’ adalah sebutah yang salah kaprah, sebaiknya cukup menyebutnya dengan ‘Batang Hari’, karena kata ‘Batang’ sudah bermakna ‘Sungai’.
Prof. Asnan menjelaskan secara historis Batang Hari berperan besar dalam proses kedatangan nenek moyang,”Batang Hari dilalui nenek moyang dalam proses perpindahan mereka dari negeri asal”, Kawasan hilir kurang cocok dimukimi karena berawa maka mereka berhenti di daerah hulu.
Prof. Asnan juga menjelaskan bagaimana Batang Hari berperan dalam jalur mobilitas perniagaan dan pertukaran barang, penyebaran agama dan kepercayaan, serta dengan berbagai aktifitas politik,”Pusat politik (Kerajaan) di aliran Sungai, Kerajaan tumbuh, jaya dan besar karena menguasai Sungai, karena dapat mengendalikan daerah, cukai, sebagai jalan raya dan penghubung dengan luar negeri”, ujarnya.
Prof. Asnan menutup presentasinya dengan mengatakan bahwa Batang Hari bukan sekedar unsur geografis melainkan merupakan agen peradaban. Sejak masa kuno batng Hari menjadi elemen tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jambi,”Akar Sejarah batang Hari memberikan kekuatan dan landasan bagi Upaya pelestarian dan Pembangunan berkelanjutan”. Prof. Asnan menegeskan bahwa peranan historis Batang Hari harus dikawal oleh kebijakan yang menghormati warisan budaya dan lingkungan.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Agus Widiatmoko menyampaikan presentasi berjudul, “Merayakan Sungai Batanghari” yang membahas bagaiaman masyarakat dan Pemerintah Jambi harus mengembalikan Sungai sebagai ruang hidup dan penghidupan. Agus mengatakan beberapa yang harus dilakukan di antaranya: Revitalisasi pengetahuan tradisional perkapalan, Menghidupkan Gastronomi khas Jambi khususnya masyarakat daerah aliran Sungai, Pemberdayaan masyarakat dengan hasil non hutan.”Sungai sebagai ruang masyarakat dalam membangun ekonomi budaya yang inklusif serta tetap menjaga kelestarian lingkungan dan budaya,” kata Agus.
KKI Warsi, Rudi Syaf menyampaikan materi berjudul,”Masa Depan Sungai Batanghari antara Harapan dan Kemampuan”. Rudi Syaf menampilkan isu kritis pengelolaan dan pemulihan DAS Batanghari, di antaranya: Deforestrasi dan degradasi hutan daerah tangkapan air DAS Batanghari, Penurunan kualitas air sugai akibat cemaran pertambangan, limbah Perkebunan dan pertanian, Sedimentasi dan pendangkalan Sungai, Krisis sosial-ekonomi masyarakat yang bergantung di DAS Batanghari, dan Minimnya insentif ekonomi untuk konservasi.
Menurut Rudi Syaf Batanghari merupakan urat nadi kehidupan Sumatera bagian tengah. Meskipun menghadapi kerusakan hutan, pencemaran, dan degradasi ekologi, Batanghari belum kehilangan daya pulihnya,”di banyak titik, masyarakat mulai bangkit menanam Kembali hutan, menjaga sumber air, dan mengembangkan ekonomi hijau. Pemulihan DAS bukan mimpi, ia mungkin, jika ilmu, kebijakan dan kearifan lokal berjalan seirama”. Rudi Syaf menegaskan bahwa Batanghari bisa pulih, jika setiap orang di sepanjang alirannya merasa menjadi bagiannya.
Mantan Wakil Gubernur Provinsi Jambi, Antony Zeidra Abidin yang mengikuti seminar melalui zoom dalam kesempatanya berbicara menyampaikan apresiasi atas apa yang telah diinisiasi oleh LPPM UIN Jambi,”Saya sangat mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan UIN Jambi dengan Seminar tentang Sungai Batang Hari, tetapi saya meminta ini jangan sekedar omon-omon saja, kita harus memiliki aksi nyata untuk menjaga kelestarian Batang Hari, terutama Pemerintah daerah harus memiliki kebijakan yang kongkrit untuk ini” harapnya.
Korpus Lingkungan dan SDGs, Dr. Irmawati Sagala mengatakan bahwa Pekan Lingkungan 2025 terdiri dari kegiatan-kegiatan, di antaranya: Seminar Nasional Batang Hari, Bazaar, Lomba Puisi Lingkungan, Workshop pembuatan: manik-manik dari kertas bekas, pembalut kain, yogurt, sabun dari minyak bekas, kombucha, eco enzyme, Bersepeda dan Launching Sutha Eco-Ride, serta Gotong Royong dan Launching Gerakan Bawa Botol Minum. Ketua LPPM menyampaikan bahwa program Korpus Lingkungan dan SDGs ini merupakan salah satu program nyata untuk mewujudkan Ekoteologi Kementerian Agama dan Agenda Green Campus UIN STS Jambi.
BERIKUT LINK MATERI SEMINAR:
Sungai Batanghari Masa Lalu, KIni, dan Akan datang
Peranan Batang Hari dalam Sejarah Peradaban Jambi
Sungai Batanghari for UIN Sultan Taha
Editor: Doni