Prodi PAI dan LPPM Bahas Budaya Akademik Dayah Salafiyah di Aceh
JAMBI – Budaya akademik Dayah Salafiyah yang bertahan di tengah perubahan zaman menjadi sorotan dalam webinar penelitian yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat bersama Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Rabu (7/10/2026).
Webinar bertajuk “Budaya Akademik dalam Sistem Pendidikan Dayah Salafiyah” berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan menghadirkan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Silahuddin, M.Ag., yang saat ini menjabat Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi. Diskusi dimoderatori Indah Nurul Hazairin dari Program Studi PAI UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Dr. Silahuddin mengatakan Dayah telah menjadi objek penelitian yang ia tekuni secara konsisten sejak pendidikan strata satu hingga strata tiga. Konsistensi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa Dayah sebagai institusi pendidikan Islam tradisional memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan zaman.
Penelitian yang dipaparkan berfokus pada tiga Dayah Salafiyah di Kabupaten Aceh Besar, yakni Dayah Ruhul Islam, Dayah Ruhul Falah, dan Dayah Maghfirah.
Silahuddin menjelaskan, budaya akademik di lingkungan Dayah dibangun di atas sejumlah nilai, antara lain kejujuran, keikhlasan, kebersamaan, kepatuhan, kedisiplinan, pengabdian, kemandirian, penghargaan terhadap pendapat orang lain, serta orientasi mencari keridaan Allah dan Tengku.

Nilai-nilai tersebut juga mendorong santri untuk terus menambah ilmu dan wawasan serta menjaga kebersihan lingkungan pendidikan.
Menurut Silahuddin, nilai budaya akademik itu terinternalisasi setidaknya dalam tiga dimensi. Pertama, dalam visi dan misi, tujuan pendidikan, program kerja, kurikulum, metodologi pembelajaran, dan pola manajemen organisasi.
Kedua, nilai tersebut memengaruhi budaya belajar, budaya menyampaikan pendapat, pengembangan keilmuan, serta budaya berorganisasi. Ketiga, nilai-nilai tersebut tercermin dalam sikap, perilaku, dan kebijakan pimpinan Dayah, Tengku, maupun santri.
Ia mengatakan budaya akademik Dayah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut memungkinkan karakter pendidikan Dayah tetap terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam aspek kurikulum, Dayah Salafiyah hingga kini masih mempertahankan tradisi keilmuan yang berfokus pada fikih bermazhab Syafi’i, ilmu tauhid beraliran Asy’ari, dan tasawuf yang merujuk pada pemikiran Al-Ghazali.
Sementara dalam proses pembelajaran, metode tradisional seperti dauroh dan halaqah masih menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan Dayah.
Namun, keberlangsungan tradisi tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan. Silahuddin menyebut persoalan materi pembelajaran, metodologi pengajaran, akses terhadap media dan teknologi, ketersediaan kitab dan referensi, hingga pengembangan bahasa sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Dari sisi kelembagaan, pengelolaan organisasi Dayah juga dinilai belum sepenuhnya menerapkan sistem manajemen yang sistematis.
Karena itu, webinar tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memahami karakter pendidikan Dayah, tetapi juga membuka diskursus mengenai arah pengembangannya.
Revitalisasi budaya akademik, menurut perspektif penelitian yang dipaparkan, perlu dilakukan dengan tetap menjaga karakter kesalafiyahan Dayah. Dengan demikian, pembaruan pendidikan tidak harus menghilangkan tradisi keilmuan yang telah menjadi bagian dari khazanah pendidikan Islam..
Bagikan: