Cerita dari Coventry, Hokkaido, Canberra: Bersyukur menjadi Muslim di Indonesia

Berita 5 menit baca 225 kali dilihat

Menjalankan ibadah puasa serta menjadi Muslim di luar negri, bukanlah persoalan sederhana dan gampang, terlebih lagi hidup sebagai minoritas. Dalam kondisi berbeda ini, maka suasana keberagamaan dan kemeriahan Ramadan di Tanah Air menjadi sangat dirindukan oleh para mahasiswa Indonesia di luar negri. Demikian diungkapkan oleh tiga orang dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang sedang studi di luar negeri: Ulya Fuhaidah di Conventry University; Melda Taspika di Hokkaido; dan Muhammad Beni Saputra di Canberra

Menjadi Muslim di United Kingdom

Ulya Fuhaidah sedang menempuh pendidikan di Coventry University di United Kingdom (UK), untuk menyelesaikan studinya ia mengerjakan penelitian tentang salafi di Jambi.

Di UK mesjid-mesjid hampir merata berbasiskan komunitas, mesjid hanya dibuka saat berjemaah, tepatnya saat satu jam sebelum dan sesudah shalat, setelah itu mesjid akan kembali ditutup. Mayoritas mesjid di UK khususnya dari komunitas IPB (India, Pakistan, Banglades) tidak menerima jemaah dari kalangan Muslimah. Semua mesjid di UK hampir semuanya memiliki website yang memberikan informasi jadwal shalat.Ulya mengatakan bahwa di UK terkait makanan halal kita tidak perlu khawatir, karena terdapat banyak toko halal yang dipantau langsung oleh Halal Monitoring Community (HMC) United Kingdom.

Kemudian Ulya sampaikan bahwa mengenai pengaturan jadwal Ramadan di UK diatur oleh the Muslim Country of Britain (MCB), untuk tahun ini Ramadan di UK lebih cepat satu hari dari Indonesia.

Kemudian untuk pembayaran zakat fitrah dan lainnya terdapat LAZISNU UK, dan juga ada London Indonesia Islamic Centre (IIC), katanya. Sementara untuk menjalankan shalat Idul Fitri biasanya diselenggarakan di lapangan, misalnya di “War Memoria Park Coventry”. Selain itu Idul Fitri bukanlah hari libur nasional, Jadwal solat Ied bisa berbeda antar komunitas, anak-anak diberi waktu libur di sekolah, dan pekerja bisa mengambil jadwal libur.

Menurut Ulfa bahwa Islamophobia di UK tidak seintens sebagaimana terjadi di negara-negara Eropa lainnya,”Berdasarkan pengalaman saya, Islamopohobia tidak seintens di negara Eropa Lainnya,” Ulya menceritakan ketika pengalaman di Portugal ia dipinta melepaskan jilbab oleh seorang lelaki, dan pengalaman ini membuat ia sangat shock. Pengalaman ini menurut Ulya tidak pernah ia alami Ketika di UK.

Ulya mengatakan bagi rekan-rekan Muslim di Indonesia jangan khawatir untuk melanjutkan studi di UK.

Setelah beberapa lama hidup di UK Ulya mengungkapkan rasa syukurnya menjadi seorang Muslim Indonesia. Umat Islam di Indonesia terkenal sangat “guyub” beda dengan Muslim dari negara lain yang jarang melakukan pertemuan-pertemuan religius. Hidup menjadi Muslim di UK pun juga sangat individualis, dalam perjalanannya selama di UK membuat ia menyimpulkan bahwa,”Muslim Indonesia is the best Muslim in the world,” Ulya kemudian mengatakan,”Hidup di Indonesia merupakan suatu anugrah.”

Ramadan di the Wonderful Land, Hokkaido

Melda Taspika sedang menyelesaikan studi di Hokkaido University di Jepang.

Hokkaido dikenal sebagai the Wonderful Land, Hokkaido juga dikenal sebagai, “Parade Penguin”. Musim dingin di Hokkaido sangat indah dalam beberapa hari pertama, sajq”Salju di Hokkaido sangat indah dengan bentuk-bentuk kristalnya, sebagaimana kita lihat di film-film,”. Namun Melda mengatakan indahnya salju kristal, dalam beberapa hari kemudian akan membuat hidup keseharian menjadi sangat rumit, kita akan menemukan tumpukan es, suhu yang drastis turun, dan cuaca yang mudah berubah. Kita akan sangat gampang terpeleset, jatuh, bahkan untuk berjalan pun penuh perjuangan.Melda menceritakan berpuasa di Hokkaido menjadi tantangan tersendiri, terutama di musim dingin, kita bisa terancam dehidrasi, namun puasa di Hokkaido relatif lebih pendek.
Selama menjalankan Ramadan dan menjadi Muslim di Hokkaido, Melda menyampaikan refleksi betapa bersyukurnya menjadi Muslim Indonesia,”Ketika menjadi Muslim di Indonesia kita tidak menyadari betapa indahnya, tapi Ketika di negara orang, barulah kita menyadari tidak seindah di Indonesia. Saya merasa Indonesia dengan segala kekurangannya merupakan negara yang terbaik, ada banyak hal yang lupa kita syukuri ketika di Indonesia.”

Berpuasa di Canberra, “Ibu Desanya” Australia

Muhammad Beni Saputra sedang menempuh Pendidikan di Australian National University di Canberra.

Canberra merupakan sebuah kota kecil, Ibu Kota yang sangat sepi, dan lengang, bahkan jika kita keluar rasanya kita hanya ketemu orang-orang itu saja, kata Beni. Luas Canberra: 814. 2 KM, dengan jumlah penduduk 477, 567 orang. Jika dibandingkan dengan Jambi yang luasnya 205.4 KM dengan jumlah penduduk 633. 650 orang.Di Canberra yang sangat alami, terdapat banyak pepohonan, sangat berbeda dengan kota besar seperti Sydney dan Melbourne,”Jika menjalankan puasa kita seperti kesepian menjalani hidup,” kata Beni.
Beni bercerita, sebagai Muslim yang menjalankan ibadah puasa ia merasakan beberapa hal yang,”the Bad” di Canberra, khususnya, yaitu: 1) Cuaca yang terlampau panas dan terlampau dingin; 2) Campuss dan coffee, Ketika sedang di kampus terutama di perpustakaan aroma kopi menyeruak dan sangat menyengat hidung, selain itu banyak orang makan dengan sangat lahap, hal ini cukup menjadi cobaan; 3) Minimnya bus dan mesjid, setidaknya hanya ada dua atau tiga mesjid saja di Canberra; 4) di atas jam lima, toko sudah tutup semua, hingga akan mengalami kesulitan jika perlu sesuatu terutama bahan makanan; 5) Halal bukan gaya hidup; 6) Mahalnya biaya hidup, Beni bercerita ketika ia ingin minum kelapa muda, dan makan rebung ia harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit bagi seorang mahasiswa yang hanya mengandalkan beasiswa.
“Jika ditanya bersyukur, saya lebih bersyukur di Indonesia, namun menjadi Muslim di di luar negri bisa menjadi ruang refleksi sebagai Muslim. Saya sampai pada puncak pemikiran bahwa saya sangat bersyukur menjadi Muslim di Indonesia, setelah hidup menjadi minoritas, saya sangat bersyukur.”Dari cerita yang disampaikan oleh tiga orang dosen UIN Jambi di webinar #Ramadan Bersama LPPM, dapat dilihat bahwa menjadi seorang Muslim di luar negeri tidaklah gampang, mereka harus menghadapi beragam keadaan, mulai dari cuaca, perbedaan budaya, sosial politik, diperlukan semangat tinggi dan daya tahan untuk menghadapi beragam tantangan tersebut hingga dapat menyelesaikan studi.

Webinar ini merupakan Kerjasama antara LPPM dan Program Studi Manajemen Dakwah UIN STS Jambi. Diskusi dipandu oleh Andeka Widodo. Diujung diskusi, Dr. Arfan Azis, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, serta para peserta webinar mendoakan agar tiga dosen terbaik UIN Jambi tersebut tetap dalam keadaan sehat dan segera dapat menyelesaikan studi, kemudian kembali ke kampus tercinta untuk memberikan kontribusi terbaik.

Admin LPPM

Bagikan:

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.