Pelatihan Boleh Berakhir, Semangat menuju Guru Besar Terus Dinyalakan

Berita 3 menit baca 127 kali dilihat
Pelatihan Boleh Berakhir, Semangat menuju Guru Besar Terus Dinyalakan

Telanaipura – Jum’at pagi (03/06/2026) nampaknya adalah hari yang dimulai dengan berembun-embun, penuh gigil, suasana yang nampaknya lebih cocok untuk ngopi, leyeh-leyeh sambil WFA.

Tapi terdapat suasana panas yang menyala-nyala terdeteksi di salah satu koordinat di ruang Sutha Inn, Telanaipura. Sudah lima hari mulai dari tanggal 29 Juni – 3 Juli, Sutha Inn membara menyala karena semangat para dosen UIN Jambi yang sedang mengikuti pelatihan intensif penulisan artikel sebagai pemenuhan syarat guru besar.

Sudah lima hari dilewati oleh para peserta yang terlihat suntuk bergumul dengan teori praktik-teori praktik, demi mempersiapkan artikel terbaiknya agar dapat membobol dinding tebal Rezim Scopus. Kata lelah, jenuh, bosan bahkan memuakkan sejenak harus dicampakkan jauh-jauh. Tidak ada kata lain,”Lawan!”: lawan rasa malas meneliti, lawan rasa malas menulis, lawan kata menyerah karena stagnan menulis atau direject terus menerus dari jurnal yang ditargetkan.

Menjadi guru besar tentulah puncak karir dan keinginan setiap akademisi, namun dapatlah dipastikan bahwa gelar profesor itu tidak jatuh dari langit, ia juga tidak diperoleh dengan ngoceh-ngoceh kosong saja, tetapi diperoleh dengan begitu banyak perjuangan dan pengorbanan, keringat, biaya, dan sangat mungkin deraian air mata, begitulah kisah-kisah yang beredar dari orang-orang yang telah profesor yang tentu banyak kita dengar, tidak ada yang mudah dan tidak ada yang diperoleh dengan malas-malasan.

Salah satu peserta yang paling meletup-letup, Dr. Musyafa dari awal sesi pelatihan dengan semangat membara selalu mencecar setiap pemateri dengan beragam pertanyaan-pertanyaan yang menyala nyala. Sepertinya ia tidak ingin memberi ruang sedikitpun celah terhadap ketidaktahuannya untuk menjadi guru besar, baik itu persoalan administratif maupun persoalan artikel dan jurnal. Tentu saja semangat yang sama dapat dilihat dari para peserta lainnya.

Tim LPPM menyadari semangat menyala itu, dan akan terus hadir serta membersamai para dosen untuk mempersiapkan syarat khusus artikel. Semoga pendampingan dan pelatihan akan terus dapat diselenggarakan oleh LPPM, tentu saja asal peserta tetap berkomitmen untuk mengikuti secara penuh dan serius, karena setiap pelatihan membutuhkan dan menghabiskan anggaran yang tidak kecil, maka ia harus berdampak terhadap tujuan kegiatan.

Suara-suara ngaji dari mesjid-mesjid pelan-pelan merangkak masuk menyelusup dari labirin-labirin hotel dan tiba di ruang pelatihan, kegiatan “Pendampingan Calon Guru Besar” akhirnya ditutup, gelas-gelas kopi sudah mengering tiggalkan dedak menghitam lebam, panitia mulai beringkas-ringkas tangkas, peserta satu persatu melangkah senyap menuju pulang dengan beragam “novelty” dipikirannya, “Novelty ini akan segera terbit di Jurnal Terindeks Scopus!”, gumamnya dalam hati yang penuh api semangat menyala berkobar dan tersimpan rapi dalam folder alam bawah sadar ala Freud.

Pelatihan telah berakhir, semangat jangan diakhirkan, tujuan harus sampai ujung, sebagaimana judul novel yang sudah dimodif berikut,”Seperti novel Eka Kurniawan, Rindu menjadi Guru Besar Harus Dibayar Tuntas”. Terimakasih telah bersama-sama mengarungi gelombang cita.

Sampai ketemu di kegiatan pendampingan berikutnya, semoga kehendak Pak Rektor akan terdapat 40 guru besar bisa sama-sama kita manifestasikan, demi kemajuan dan keunggulan kampus kita tercinta UIN STS Jambi.

“Hasta la Victoria Siempre !”

(Tan)

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Lihat semua

Pengumuman

Lihat semua

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.