Pendampingan Calon Guru Besar Selesai, Menulis Artikel Butuh Integritas Akademik

Berita 3 menit baca 32 kali dilihat
Pendampingan Calon Guru Besar Selesai, Menulis Artikel Butuh Integritas Akademik

Jambi — Hari kelima sekaligus penutup Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menjadi penegasan bahwa kualitas publikasi ilmiah tidak hanya ditentukan oleh kebaruan temuan, tetapi juga oleh ketepatan penyajian hasil, kedalaman pembahasan, serta integritas akademik penelitinya.

Materi penutup disampaikan oleh Prof. Dr. Shofia Amin, S.E., M.Si. mengangkat tema Penguatan Substansi Artikel: Sinkronisasi Tujuan–Metode–Hasil–Pembahasan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa sebuah artikel ilmiah yang layak dipublikasikan harus memiliki benang merah yang utuh sejak rumusan tujuan penelitian hingga pembahasan hasil.

Kalimat yang berulang kali ditekankan Prof. Amin, “The facts and nothing but the facts,” menjadi prinsip utama dalam menyusun bagian hasil penelitian. Menurutnya, bagian results harus memuat fakta-fakta yang diperoleh dari analisis data penelitian sendiri, disajikan secara sistematis, dan dikaitkan secara langsung dengan tujuan maupun pertanyaan penelitian.

“Hasil penelitian bukan tempat membahas temuan peneliti lain. Sajikan hanya apa yang benar-benar ditemukan dari penelitian kita,” tegasnya.

Adapun pada bagian pembahasan, Prof. Amin mengingatkan pentingnya menginterpretasikan hasil penelitian, bukan sekadar mengulang data. Ia mengutip prinsip penulisan ilmiah, “Interpret your results: Compare, contrast, and explain what they mean in the broader context of the field.” Dengan demikian, peneliti perlu membandingkan, mengontraskan, sekaligus menjelaskan posisi temuannya terhadap penelitian-penelitian terdahulu sehingga kontribusi ilmiahnya menjadi jelas.

Dalam sesi tersebut, Prof. Amin juga menguraikan sejumlah persoalan yang paling sering menyebabkan artikel ilmiah sulit diterima jurnal bereputasi. Di antaranya, hasil penelitian yang tidak diikuti diskusi, pembahasan yang masih bersifat permukaan, penyajian hasil yang tidak terstruktur atau tersebar, hasil yang tampak bertolak belakang tanpa penjelasan memadai, bagian hasil yang justru diawali uraian metode, pembahasan yang hanya mengulang pemikiran penulis lain tanpa interpretasi, serta penyajian angka, tabel, dan gambar yang belum mengikuti kaidah ilmiah.

Ia menegaskan bahwa penulisan artikel ilmiah juga harus berlandaskan integritas akademik. Tiga bentuk pelanggaran etik yang wajib dihindari ialah Fabrikasi, yakni menciptakan data yang sebenarnya tidak pernah ada, misalnya membuat responden fiktif; Falsifikasi, yaitu memanipulasi atau mengubah data penelitian, termasuk menghapus data yang tidak sesuai dengan hipotesis; serta Plagiasi, yaitu menggunakan karya orang lain tanpa memberikan atribusi atau sitasi yang semestinya.

Menurut Prof. Amin, pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan bentuk ketidakjujuran akademik yang dapat merusak kredibilitas peneliti sekaligus mencederai kepercayaan terhadap dunia ilmu pengetahuan.

Ia juga membagikan strategi agar artikel memiliki peluang lebih besar diterima jurnal internasional bereputasi. Salah satunya ialah menggunakan atau mengadaptasi instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan telah melalui proses validasi. Praktik tersebut dinilai lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan menggunakan instrumen yang belum pernah diuji.

Pada penutupan kegiatan, Sekretaris LPPM, M. Husnul Abid, menegaskan bahwa pelatihan penulisan artikel telah menjadi agenda rutin LPPM. Namun, ukuran keberhasilan bukanlah terselenggaranya pelatihan semata, melainkan lahirnya artikel-artikel ilmiah yang berhasil dipublikasikan oleh para peserta.

Ia menambahkan, tujuan yang lebih besar dari publikasi ilmiah adalah menjadi bagian dari komunitas akademik sebuah jurnal. Menurutnya, seorang peneliti tidak cukup hanya mengirimkan artikel, tetapi juga harus terus membaca jurnal tersebut, mengikuti perkembangan isu-isu keilmuan yang diangkat, serta berkontribusi dalam percakapan ilmiah yang dibangun oleh komunitas akademiknya.

“Ketika kita menjadi bagian dari komunitas akademik sebuah jurnal, kita bukan hanya penulis yang mengirim naskah, tetapi juga ilmuwan yang terus belajar, mengikuti perkembangan disiplin ilmunya, dan pada akhirnya memperoleh pengakuan dari komunitas akademik tersebut,” ujarnya.

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari itu menjadi bekal penting bagi para dosen dan peneliti untuk meningkatkan kualitas artikel ilmiah, baik dari aspek metodologi, penyajian hasil, etika penelitian, maupun strategi publikasi pada jurnal nasional dan internasional bereputasi.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Lihat semua

Pengumuman

Lihat semua

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.