Arfan Azis: Ekspansi Industri Kelapa Sawit Rentan Konflik
Perkembangan industri kelapa sawit yang masif, terutama dalam tiga dasawarsa terakhir menimbulkan efek negatif bagi petani. Efek tersebut terkait dengan proses pembebasan tanah, monopoli penggunaan tanah oleh perusahaan, dan bagi hasil dalam sistem kemitraan yang tidak adil. Pada gilirannya, efek tersebut menimbulkan konflik berkepanjangan antara perusahan Kelapa Sawit dan warga sekitar atau petani.
Demikian dikemukakan oleh Dr. Aziz dalam acara Seminar yang diadakan Michigan State University (MSU) di MSU Museum pada Kamis 21 Maret 2024. Dosen UIN STS Jambi yang juga Dekan Sains dan Teknologi, Dr. Arfan Aziz diundang oleh MSU untuk memaparkan penelitiannya tentang Kelapa Sawit dan Konflik Sosial. Acara Seminar internasional terselenggara sebagai respon terhadap isu kelangkaan pangan yang terjadi di dunia. Tema besar yang adalah Food fight dan Palm Oil Pitfall atau perjuangan untuk memperoleh makanan dan Jebakan Kelapa Sawit. Kelangkaan pangan yang terjadi di dunia, terjadi dengan beberapa alasan. Salah satunya adalah hadirnya kelapa sawit yang secara pelan dan pasti tumbuh dan berkembang sangat pesat.

Kehadiran kelapa sawit, merubah mindset para petani yang sebelumnya menanam padi atau palawija, kini berubah menjadi petani sawit karena secara ekonomi lebih menguntungkan. Bukan hanya petani, perusahaan besar semakin bertumbuh dan berkembang. Hingga saat ini Indonesia menjadi salah satu eksportir dan penguasa kepala sawit terbesar di dunia.
Kehadiran perusahaan kelapa sawit meskipun secara ekonomi berdampak positif terhadap kehidupan sosial, namun ternyata kelapa sawit juga meninggalkan trauma negatif bagi penduduk. Hal inilah yang menjadi sorotoan utama penelitian Dr. Arfan Azis.
Dr. Arfan Aziz mengangkat isu bagaimana konflik masyarakat dan perusahaan kelapa sawit muncul. Penelitian yang ia angkat pada seminar ini adalah “The Impact of Sinar Mas’s Oil Palm Plantation toward Local Farmers in Desan Karang Mendapo, Sarolangun Regency, Jambi Indonesia.”
Dalam presentasinya, Dr. Azis memperkenalkan Jambi, serta potensi Kelapa Sawit yang ada di Jambi. Dekan Saintek UIN STS Jambi juga memaparkan video dan foto-foto konflik sosial antara petani dan salah satu persuahaan kelapa sawit.
Dr. Arfan Azis memberikan kesimpulan bahwa (1) industri Kelapa Sawit membawa pengaruh negatif terhadap petani di Jambi ketimbang potensi ekonomi seperti yang dijanjikan; (2) Dalam perspektif ekonomi global, keuntungan ekonomi dari industri Kelapa Sawit dinikmati oleh segelintir kaum yang bermodal; (3) Pembebasan lahan untuk perkebunan sawit oleh pihak perusahaan membawa trauma mendalam bagi petani, dan pemerintah tidak menunjukkan keberpihakan pada petani dan penduduk yang dirampas tanahnya.
Selian Dr. Arfan Azis, turut hadir pula Ibu Umi Syamsiatun, direktur NGO A-Hi Jambi. Jika Dr. Arfan mengangkat konflik perusahaan dan petani; Ibu Umi mengangkat konflik perusahaan Kelapa Sawit dan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba. Ibu Umi memberi penkanan bahwa meskipun Kelapa Sawit membawa potensi ekonomi yang besar bagi bangsa Indonesia, namun industri Kelapa Sawit selalu membawa konflik yang merugikan Suku Anak Dalam. Suku Anak Dalam yang tinggal nomaden di dalam hutan kini harus tergusur, karena tempat tinggalnya diambil paksa untuk dijadikan perkebuan kelapa Sawit. Sementara pemerintah terkesan tidak hadir untuk membela Suku Anak Dalam ketika terjadi konflik dengan Perusahaan Kelapa Sawit.
Seminar tersebut ditutup dengan paparan Jonatan Robin, penerima penghargaan Sejarawan, dan penulis Buku “Oil Palm: A Global History.” Dr. Robin, mengangkat isu sejarah kolonialisme yang kemudian membawa dan menyebarkan pengaruh perkebunan kelapa Sawit di Afrika dan kemudian menyebar ke Asia Tenggara. Ia berargumen bahwa Kelapa Sawit akan tetap tumbuh pesat, karena mayoritas makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat di Afrikan dan Asia sebaigan besarnya berbahan baku minyak goreng. Bukan hanya itu Kelapa Sawit juga dibutuhkan untuk Industri seperti pembuatan kosmetik, sabun, deterjen, dll. Ia juga menyoroti bahwa kelapa sawit juga sangat potensial menjadi bahan baku bio-diesel.
Acara yang diadakan secara Hybrid ini diikuti oleh peserta dari Amerika secara offline bertempat di gedung Museum MSU. Sementara peserta dan pemateri dari Indonesia mengikuti kegiatan ini secara online via Zoom.
