Bersamaan dengan Hari Buku Dunia, LPPM Luncurkan Tiga Buku Dosen UIN Jambi
Rabu (23 April 2025) merupakan Hari Buku Dunia, momentum ini dijadikan LPPM untuk meluncurkan tiga buku karya dosen UIN Jambi. Peluncuran buku ini diharapkan dapat memantik semangat dosen untuk menulis buku selain karya akademik seperti artikel jurnal.
Wakil Rektor 1, Dr. Ayub Mursalin berharap penerbitan buku dapat menjadi salah satu program unggulan LPPM,”Buku merupakan media bagi civitas academica untuk menyebarluaskan gagasan secara luas dan ke berbagai pihak. Semoga penerbitan buku bisa menjadi program unggulan LPPM, dan dapat mempromosikan sumber daya manusia yang dimiliki oleh UIN Jambi”, ujar WR 1. Dr. Ayub kemudian mengatakan penerbitan buku juga memiliki dampak praktis bagi kepangkatan dosen, dan juga bisa memiliki dampak finansial jika buku yang diproduksi adalah buku yang bermutu.
Ketua LPPM mengatakan bahwa tahun 2024 LPPM menerbitkan 50 judul buku, tiga buku yang diluncurkan adalah sampel saja. Ia menyampaikan tahun 2024 LPPM tetap berupaya menerbitkan buku karya dosen UIN Jambi,”Kita mengupayakan untuk tahun 2025 terbit 20 judul buku, kumlahnya berkurang karena adanya efisiensi anggaran. Tapi LPPM tetap ingin menjadikan penerbitan buku menjadi sebuah agenda rutin dan berkelanjutan”, ujarnya.
Dalam sesi presentasi , Prof. Dr. Bahrul Ulum menyampaikan buku,”Nalar Politik Hukum Islam”, Prof. Bahrul menjelaskan bahwa nalar politik Islam merupakan kumpulan artikel jurnal. Buku ini berbicara tentang dua kutub hukum islam. Sejak nabi wafat persoalan pertama yg muncul adalah politik, sempat terjadi penundaan pemakaman nabi, karena dominannya persoalan politik. Membicarakan Islam setidaknya dipahami adanya Islam normatif dan Islam historis. Prof. Bahrul mengangkat isu tentang fatwa MUI, presiden perempuan, sinergi ulama dan umara, hegemoni sosial politik dan putra daerah, serta bagaimana relasi hukum Islam dan adat.
Dr. Mohd. Arifullah memaparkan bukunya,”Simulakra Islam”, Arifullah menggunakan teori Jean Baudrillard untuk menjelaskan Simulakra Islam. Ia mengingatkan kembali di tahun 2023 yang sangat marak gerakan khilafah Islamiyah. Arifullah mempertanyakan mengapa ketika terdapat berita tentang Islam, media selalu memblow up dengan sangat kuat dan massif? apakah yang ingin dicitrakan tentang Islam? Atau hanya sekedar untuk meningkatkan rating media?
Arifullah mengumpulkan sejumlah pemberitaan yang ada di media, seperti: TV One, Kompas TV, dan Metro TV yang menayangkan berita yang menegatifkan Islam. Arifullah menyimpulkan terdapat kepentingan politik, ideologi dan ekonomi dari pihak media. Media seakan ingin melakukan pembedaan antara media dan kelompok Islam. Bahwa media adalah kelompok demokratis moderat, sedangkan kelompok Islam adalah radikal dan fundamentalis.
Arifullah dengan menggunakan Simulakrum Baudrillard menyampaikan tentang realitas semu dan realitas nyata. Menurutnya paling hanya segelintir orang saja yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyah,”Bagi umat Islam setelah runtuhnya kekhilafahan terakhir, maka sebenarnya cita-cita khilafatisme sudah selesai”.
Arifullah membantah framing negatif yang dilakukan oleh media yang menjadi sampel penelitiannya,”Manusia modern banyak terjebak dalam hyper realitas yang lebih menyukai hal yang imajiner dan semu, dan ini bisa berbahaya dalam kehidupan riil”, jelasnya.
Arfan Azis, Ph.D memaparkan bukunya yang berjudul,”Muda dan Anti Bid’ah” yang menjelaskan tentang gerakan anti bid’ah yang dilakukan kalangan kaum muda salafi di perguruan tinggi. Dalam pemaparannya Arfan Azis memberikan door prize buku bagi mahasiswa yang dapat menjawab pertanyaannya.
Peserta diskusi berasal dari kalangan mahasiswa, dosen UIN Jambi, dosen UNJA, dan para peneliti dari berbagai lembaga.
Editor: Doni
Bagikan: