Bikers Subuhan sebagai Infrastruktur Ideologis Pop-Islamisme
JAMBI — Hobi berkendara dan aktivitas komunitas dapat berkembang menjadi ruang pembentukan identitas keagamaan sekaligus mobilisasi ideologis. Fenomena tersebut dibahas dalam webinar bertajuk “Riding to Paradise, Pop-Islamisme Muslim Biker di Jawa Tengah” dengan narasumber Muhammad Rosyid dan moderator Muhammad Iqbal Rahman.
Dalam pemaparannya, Muhammad Rosyid menjelaskan bahwa hobi dapat berfungsi sebagai infrastruktur ideologis melalui aktivitas komunitas, jaringan pertemanan, dan penggunaan media sosial. Salah satu contoh yang dikaji ialah komunitas Bikers Subuhan.
Bikers Subuhan pertama kali terbentuk di Lampung pada 2017. Komunitas ini menghimpun pengendara sepeda motor yang mempromosikan kebiasaan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid. Berdasarkan penelitian yang dipaparkan, komunitas tersebut kemudian berkembang hingga mencapai 108 cabang di berbagai kota di Indonesia.
Pertumbuhan komunitas didorong oleh jejaring interpersonal, aktivitas touring atau Safar Ride, serta keterlibatan intensif melalui media sosial. Safar Ride umumnya dilakukan pada akhir pekan dan menjadi salah satu aktivitas utama komunitas.
Menurut Rosyid, Bikers Subuhan memiliki karakter organisasi yang relatif cair. Komunitas ini tidak menempatkan struktur formal sebagai prasyarat utama. Prinsip yang berkembang ialah setiap anggota dapat menjadi pemimpin, sedangkan orang yang pertama kali menginisiasi komunitas disebut awwalun.

Keanggotaan juga tidak dibatasi persyaratan formal. Prinsip sederhananya adalah kesediaan untuk melaksanakan shalat. Sementara itu, agenda komunitas dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya, bergantung pada konteks lokal.
Kegiatan Bikers Subuhan juga memperoleh dukungan dari takmir masjid setempat. Dukungan tersebut memberikan legitimasi sosial dan keagamaan bagi aktivitas komunitas.
Namun, Rosyid menegaskan bahwa temuan tersebut merupakan hasil penelitian di Solo sehingga tidak serta-merta dapat digeneralisasi kepada seluruh komunitas Bikers Subuhan di Indonesia. Karakter komunitas di wilayah lain dapat memiliki perbedaan.
Penelitian juga menemukan sejumlah dinamika internal, mulai dari pembentukan Islamic brotherhood, orientasi politik di antara anggota, penerapan syariah, hingga kecenderungan sebagian komunitas untuk mengambil posisi apolitis.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya populer tidak selalu berhenti sebagai komoditas hiburan atau gaya hidup. Dalam konteks tertentu, budaya populer dapat menjadi infrastruktur mobilisasi sosial, keagamaan, bahkan ideologis.
Kajian mengenai Bikers Subuhan, kata Rosyid, memperluas pemahaman tentang aktivisme Islam dengan menunjukkan bagaimana praktik yang berangkat dari hobi, hiburan, dan gaya hidup dapat berkembang menjadi ruang pembentukan identitas keagamaan serta mobilisasi massa.
Webinar tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa aktivitas komunitas berbasis gaya hidup perlu dilihat secara lebih luas. Di balik aktivitas touring dan kebersamaan, terdapat proses pembentukan jejaring sosial, identitas keagamaan, dan dalam konteks tertentu, orientasi ideologis.