Buka Konsolidasi Nasional PSGA, Dirjen Pendis: “Kampus Harus Hadir Berkontribusi Nyata terhadap Agenda Nir Kekerasan”

Berita 3 menit baca 29 kali dilihat
Buka Konsolidasi Nasional PSGA, Dirjen Pendis: “Kampus Harus Hadir Berkontribusi Nyata terhadap Agenda Nir Kekerasan”

Cirebon — Komitmen membangun perguruan tinggi keagamaan Islam yang inklusif, adil gender, dan bebas dari segala bentuk kekerasan menjadi fokus utama Konsolidasi Nasional Kerja-kerja Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang berlangsung di UIN Siber Syekh Nur Jati Cirebon pada 30 Juni–3 Juli 2026. Mengusung tema Strengthening Gender Justice, Inclusion, and Violence-Free Campuses within the Islamic Higher Education System, kegiatan ini mempertemukan Ketua LPPM dan Kepala PSGA PTKIN dari seluruh Indonesia bersama jajaran pimpinan Kementerian Agama.

Rektor UIN Cirebon menegaskan bahwa penguatan keadilan gender merupakan bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin kelima tentang kesetaraan gender. Menurutnya, penyelenggaraan konsolidasi nasional ini menjadi bagian dari upaya nyata perguruan tinggi Islam dalam mewujudkan agenda tersebut.

Ia menambahkan, komitmen terhadap kesetaraan gender dan kampus nir kekerasan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan seluruh PTKI. Kampus, kata Prof. Aan, tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang aman yang menjunjung tinggi martabat setiap warga akademik.

Direktur PTKI, Prof. Dr, Phil. Sahiron berharap konsolidasi nasional mampu membenahi sekaligus meningkatkan kinerja PSGA di lingkungan PTKI. Ia menilai keberadaan PSGA harus semakin strategis dalam membangun budaya akademik yang berkeadilan dan bebas kekerasan.

Menurut Prof. Sahiron, semangat kampus nir kekerasan sejalan dengan gagasan Kurikulum Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni menghadirkan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang terhadap sesama ciptaan Tuhan. Karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika PTKI untuk menolak segala bentuk kekerasan, baik di lingkungan kampus, keluarga, maupun masyarakat.

“Kita ingin kampus menjadi ruang yang damai. Jangan ada konflik, mari bersatu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Suyitno menjelaskan bahwa dipilihnya Cirebon sebagai lokasi konsolidasi nasional bukan tanpa alasan. Kota ini dinilai memiliki tradisi panjang dalam pengembangan pemikiran keadilan gender, salah satunya melalui kiprah Kiah Soleh.

Dalam arahannya, Dirjen Pendis mengingatkan agar kerja-kerja PSGA tidak berhenti pada produksi karya ilmiah. Menurutnya, pusat studi harus mampu menghasilkan praktik-praktik terbaik yang memberi dampak nyata dan dapat direplikasi dalam penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat.

Ia juga menyoroti masih terjadinya kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Fenomena tersebut, katanya, seharusnya tidak lagi terjadi di institusi pendidikan yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, PSGA diharapkan mengambil peran lebih aktif dalam pencegahan, pendampingan korban, hingga penguatan sistem perlindungan di kampus.

Dirjen Pendis menegaskan, PTKI tidak akan mampu memberikan solusi terhadap persoalan kekerasan seksual di masyarakat apabila belum berhasil menuntaskan persoalan serupa di lingkungan internal kampus. Selain isu kekerasan seksual, ia juga mengajak kalangan akademisi merespons meningkatnya angka perceraian, fenomena child free, serta masih berkembangnya tafsir-tafsir misoginis di kalangan umat Islam melalui pendekatan ilmiah yang solutif.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menghadirkan kampus berbasis kasih sayang sebagai implementasi nilai-nilai Islam. Menurutnya, pendekatan yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi pembelajaran akan memperkuat budaya saling menghormati dan menekan berbagai bentuk kekerasan.

“Kampus harus hadir memberikan kontribusi nyata terhadap agenda nir kekerasan. Program-program PSGA jangan berhenti pada kegiatan seremonial,” tegasnya.

Menutup arahannya, Prof. Suyitno juga meminta seluruh PTKI mengintegrasikan agenda ekoteologi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan.

Konsolidasi nasional ini turut dihadiri Direktur PTKI, Kasubdirektorat Litapdimas, serta sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Agama. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan penguatan jejaring antarlembaga sekaligus memperkokoh peran PSGA sebagai motor penggerak terciptanya perguruan tinggi Islam yang adil gender, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.