Catatan Penutup Retret dari Pantai Mangrove

Catatan Penutup Retret dari Pantai Mangrove

Berita 3 menit baca 28 kali dilihat

Pagi di Hotel Ar Riyadh, Kuala Tungkal, selalu dimulai dengan bunyi yang sama: ketukan jemari di laptop. Di sebuah ruangan sederhana, dua puluh dosen UIN Jambi duduk khusuk menghadap layar laptop masing-masing. Tidak ada suara riuh, hanya sesekali terdengar pertanyaan tentang research gap, novelty, atau bagaimana merangkai argumen agar layak menembus jurnal bereputasi internasional.

Sejak 28 Juli hingga 3 Agustus 2026, ruangan itu menjadi laboratorium gagasan. Kata demi kata ditimbang, data dipertanyakan, dan setiap kalimat diuji kekuatannya. Bagi mereka, menulis bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan proses menemukan kembali cara berpikir yang jernih.

Retret Penulisan Artikel Ilmiah Bereputasi Internasional yang digagas oleh LPPM memang memiliki target yang jelas. Setiap peserta harus pulang dengan satu draf artikel yang siap disempurnakan menuju jurnal Scopus. Target itu terdengar sederhana, tetapi jalan menuju ke sana dipenuhi diskusi, revisi, dan perdebatan ilmiah yang panjang.

“Ini bukan sekadar diklat. Ini ikhtiar agar pena dosen UIN STS Jambi mendunia. Kami ingin setiap peserta pulang dengan draft yang utuh, bukan hanya kenangan,” ujar Korpuslit.

Setelah berjam-jam berkutat dengan teori dan referensi, para peserta diajak meninggalkan ruang belajar. Sore itu peserta menuju Pantai Manggrove Kuala Tungkal.

Di sana, tidak ada layar komputer. Tidak ada komentar reviewer atau daftar pustaka yang harus diperiksa. Yang terdengar hanya desir angin laut, langkah kaki di jembatan kayu, dan gemerisik akar-akar bakau yang memeluk tepian pantai.

Beberapa peserta memilih berjalan perlahan. Sebagian lain hanya duduk memandang air pasang yang bergerak tenang. Percakapan yang semula dipenuhi istilah metodologi berubah menjadi obrolan ringan tentang keluarga, perjalanan akademik, hingga kenangan masa kuliah.

“Di kelas kami bertarung dengan teori. Di manggrove kami berdamai dengan pikiran. Begitu kembali ke Ar- Riyadh, nalar mereka kembali tajam, siap memburu novelty yang sempat tersembunyi,” kata salah satu peserta.

Malam menghadirkan suasana yang berbeda lagi. Pujasera Kota Kuala Tungkal menjadi tempat berkumpul. Secangkir kopi dan hidangan khas pesisir menemani obrolan yang mengalir tanpa sekat. Tidak ada lagi batas antara narasumber dan peserta. Semua saling bertukar pengalaman tentang proses publikasi, menghadapi komentar editor jurnal, hingga kegagalan yang justru menjadi guru terbaik dalam perjalanan akademik.

Barangkali, di meja-meja sederhana itulah lahir keberanian baru. Bahwa artikel ilmiah tidak hanya dibangun oleh teori yang kuat, tetapi juga oleh semangat untuk terus belajar dan saling menguatkan.

Ketika hari terakhir tiba, layar-layar laptop yang sebelumnya dipenuhi halaman kosong kini telah berisi gagasan yang utuh. Dua puluh draf artikel berhasil diselesaikan. Isinya beragam, mulai dari ekonomi syariah, Islamic fintech, hingga kearifan Melayu Jambi yang diangkat sebagai khazanah ilmu pengetahuan.

Perjalanan peserta tentu belum selesai. Sebuah draf masih harus melewati proses penyempurnaan, pendampingan, hingga penilaian para reviewer. Namun langkah pertama telah dituntaskan dengan baik.

Di balik setiap artikel yang kelak terbit, ada jejak aroma Kota Tungkal yang mungkin tak pernah tercatat dalam halaman jurnal: kopi yang menemani diskusi, angin Pantai Manggrove yang mengusir penat, tawa di Pujasera Kuala Tungkal, serta keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akan terus bergerak selama ada orang-orang yang bersedia menulisnya.

Mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari sebuah retret. Ia bukan hanya melahirkan artikel ilmiah, tetapi juga merawat harapan bahwa gagasan yang lahir dari Tungkal suatu hari akan dibaca, dikutip, dan berdampak bagi masyarakat.
(ANI)

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.