Dirjen Pendis, Prof. Suyitno Sampaikan Arus Baru Pendidikan Islam di UIN Jambi
JAMBI, KOMPAS — Pendidikan tinggi Islam memasuki babak baru dengan penguatan pendekatan STREAM (Science, Technology, Religion, Engineering, Art, and Mathematics) sebagai arah pengembangan keilmuan di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN). Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam sains dan teknologi, tetapi juga memiliki fondasi keagamaan yang kuat serta kepekaan terhadap seni dan kemanusiaan.
Dalam arah kebijakan yang disampaikan kepada sivitas akademika, UIN masa depan dicita-citakan menjadi prototipe Baitul Hikmah Al-Ma’mun, pusat peradaban ilmu pengetahuan yang pada masa keemasan Islam menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin ilmu, tradisi intelektual, dan inovasi.
Gagasan tersebut menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi keagamaan Islam tidak cukup dilakukan melalui perubahan kelembagaan semata, melainkan harus diikuti penguatan budaya akademik yang integratif. Melalui pendekatan STREAM, ilmu agama diposisikan sebagai sumber nilai yang berdialog dengan perkembangan sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan seni.
Untuk mewujudkan visi tersebut, terdapat lima arah kebijakan yang menjadi fokus pengembangan perguruan tinggi keagamaan Islam. Pertama, mahadisasi, yakni penguatan sistem pembinaan karakter dan keagamaan mahasiswa melalui model pendidikan berbasis ma’had. Kedua, program double degree yang membuka peluang mahasiswa memperoleh kompetensi lintas bidang keilmuan.

Ketiga, program fast track yang memungkinkan mahasiswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih efisien. Keempat, studi di luar kampus utama sebagai upaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kolaborasi dengan berbagai institusi dan dunia kerja. Kelima, reformulasi pengembangan program studi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Selain penguatan akademik, perhatian juga diberikan pada pembentukan karakter religius sivitas akademika. Direktur Jenderal menegaskan pentingnya kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an sebagai identitas perguruan tinggi Islam. Karena itu, setiap unsur sivitas akademika didorong untuk memiliki tradisi mengaji yang kuat.
Menurutnya, kemajuan institusi tidak hanya diukur dari capaian akademik, publikasi ilmiah, atau prestasi kelembagaan, tetapi juga dari kemampuan menjaga nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi pendidikan Islam.
Dengan arah kebijakan tersebut, perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang modern, terbuka terhadap inovasi, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Transformasi itu menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang kompetitif di tingkat global tanpa kehilangan identitas keagamaan dan kebangsaan.
Editor: Doni