Hari Kedua Retret, Peserta Perdalam Penyusunan Abstrak dan Pendahuluan
KUALA TUNGKAL — Memasuki hari kedua pelaksanaan Retret Artikel Ilmiah, sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan intensif penyusunan abstrak dan pendahuluan artikel ilmiah di Hotel Ar Riyadh, Kuala Tungkal, Selasa (29/7/2026). Setelah pada hari pertama mempelajari teknik membangun argumen ilmiah, peserta kini diarahkan memahami struktur awal artikel yang menjadi penentu kualitas naskah ilmiah.
Instruktur retret, M. Husnul Abid menjelaskan bahwa abstrak dan pendahuluan merupakan bagian yang paling menentukan dalam menarik perhatian editor maupun pembaca jurnal ilmiah.
“Abstrak dan pendahuluan adalah wajah sebuah artikel. Jika disusun kurang tepat, pembaca dapat kehilangan minat sejak awal. Karena itu, perlu membahasnya secara bertahap, mulai dari penyusunan konteks penelitian, penegasan fokus masalah, penjelasan metode, hingga perumusan argumen utama,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap struktur tersebut menjadi fondasi penting agar artikel memiliki alur logis sekaligus menunjukkan kontribusi ilmiah yang jelas. Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima paparan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penyusunan abstrak dan pendahuluan berdasarkan naskah penelitian masing-masing.
Korpuslit, Tasnim, mengatakan retret dirancang sebagai program pendampingan intensif yang berorientasi pada hasil nyata. Setiap peserta diharapkan tidak sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi mampu menghasilkan draf artikel yang siap diajukan ke jurnal ilmiah.
Suasana pelatihan berlangsung serius namun tetap interaktif. Instruktur memberikan pendampingan secara bertahap dan membuka ruang diskusi sehingga peserta dapat saling memberikan masukan terhadap draf artikel yang sedang disusun. Pendekatan tersebut mendorong peserta lebih aktif mengevaluasi kekuatan maupun kelemahan tulisan.
Lutfi salah seorang peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai penyusunan argumen ilmiah yang membedakan hasil penelitian dari sekadar opini.
“Sebelumnya saya masih kesulitan membedakan argumen ilmiah dengan pendapat biasa. Setelah dibimbing menggunakan data dan teori, saya mulai memahami bahwa argumen harus menunjukkan kebaruan atau novelty penelitian,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga disampaikan Yerix. Ia menilai pendampingan yang sistematis membantunya memahami langkah-langkah menyusun pendahuluan secara runtut.
“Selama ini saya sering bingung memulai pendahuluan. Setelah dijelaskan tahap demi tahap, saya memahami bahwa pendahuluan harus dimulai dari konteks, dilanjutkan dengan perumusan masalah, kemudian mengarah pada argumen utama penelitian,” katanya.
Retret Artikel Ilmiah yang diselenggarakan oleh LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas dosen dan peneliti dalam menghasilkan publikasi ilmiah yang memenuhi standar jurnal bereputasi.
Bagikan: