LPPM Dorong Inovasi Berbasis Potensi Lokal, Monev KKN Reguler Soroti Sabun Organik dan Briket Ramah Lingkungan

LPPM Dorong Inovasi Berbasis Potensi Lokal, Monev KKN Reguler Soroti Sabun Organik dan Briket Ramah Lingkungan

Berita 3 menit baca 161 kali dilihat

MUARO JAMBI — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menemukan beragam inovasi berbasis potensi lokal dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Reguler Gelombang I di Kabupaten Muaro Jambi. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang berlangsung selama dua hari, 25–26 Juli 2026, tim LPPM menilai mahasiswa tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga menghadirkan solusi yang berpeluang meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa.

Monitoring dipimpin langsung oleh Koordinator Pusat Pengabdian kepada Massyarakat, Mukhlis, M.Pd.I., bersama tim. Selama dua hari, tim mengunjungi 14 desa yang menjadi lokasi KKN Reguler untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai rencana sekaligus mengevaluasi dampaknya bagi masyarakat.

Pada Sabtu (25/7), tim melakukan monitoring di delapan desa, di Kecamatan Kumpeh yakni Desa Kota Karang, Tarikan, Sungai Terap, Sumber Jaya, Arang-Arang, Sipin Teluk Duren, Ramin, dan Teluk Raya. Salah satu perhatian utama tertuju pada Posko 17 di Desa Kota Karang yang mengembangkan program pembuatan sabun cuci piring berbahan dasar daun pandan dan jeruk nipis.

Program tersebut dipraktikkan melalui sosialisasi dan demonstrasi di Gedung Olahraga Serbaguna Desa Kota Karang yang diikuti ibu-ibu PKK dan masyarakat setempat. Kegiatan ini bertujuan memberikan keterampilan mengolah bahan-bahan yang mudah diperoleh menjadi produk rumah tangga yang bernilai guna.

Ketua Posko 17, Fikri Humaidi, menjelaskan daun pandan dimanfaatkan sebagai pemberi aroma alami, sedangkan jeruk nipis berfungsi memberi kesegaran sekaligus membantu mengurangi bau pada peralatan dapur. Menurutnya, produk tersebut mudah dibuat dan berpotensi menjadi peluang usaha rumahan.

Sementara itu, Sekretaris Posko 17, Wafiatul, memaparkan tahapan pembuatan sabun mulai dari persiapan alat dan bahan hingga proses produksi sehingga masyarakat dapat mempraktikkannya secara mandiri.

Keesokan harinya, Minggu (26/7), tim LPPM melanjutkan monitoring ke enam desa di Kecamatan Taman Raja, yaitu Dusun Mudo, Teluk Jambu, Kemingking Dalam, Tebat Patah, Talang Duku, dan Kunangan. Dari kunjungan tersebut, tim mengapresiasi terhadap dua inovasi mahasiswa yang mengolah limbah pertanian menjadi briket ramah lingkungan.

Mahasiswa di Desa Tebat Patah memanfaatkan sekam padi sebagai bahan baku briket, sedangkan mahasiswa di Desa Kunangan mengembangkan briket berbahan kulit buah pinang. Inovasi tersebut disesuaikan dengan potensi ekonomi lokal karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani padi dan petani pinang.

Briket yang dihasilkan direncanakan dipasarkan kepada pelaku usaha kecil, seperti pedagang sate, sosis bakar, ikan bakar, dan jagung bakar sebagai alternatif bahan bakar yang lebih ekonomis sekaligus memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum bernilai.

Selain menghasilkan produk, mahasiswa juga memberi pelatihan kepada ibu-ibu PKK agar mampu memproduksi briket secara mandiri. Pendampingan tersebut diharapkan menjadi langkah awal pengembangan usaha berbasis masyarakat yang dapat berlanjut setelah program KKN berakhir.

Mukhlis, M.Pd.I., mengatakan monitoring dan evaluasi tidak hanya bertujuan menilai pelaksanaan program, tetapi juga memastikan setiap kegiatan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam memanfaatkan potensi lokal menjadi produk yang bernilai guna. Harapannya, program-program seperti ini tidak berhenti ketika KKN selesai, melainkan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat sehingga memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Mukhlis, inovasi berbasis potensi desa menjadi salah satu indikator keberhasilan KKN karena mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, LPPM akan terus mengawal kualitas pelaksanaan KKN melalui monitoring berkala agar setiap program pengabdian benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan warga.

Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, Korpus PKM menegaskan komitmennya menjadikan KKN sebagai ruang pembelajaran sekaligus pemberdayaan masyarakat. Beragam inovasi yang lahir dari desa-desa di Kabupaten Muaro Jambi menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga pada penciptaan solusi yang relevan, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.