LPPM  Kupas Peramalan Konsumsi Energi dengan Model ARIMA

LPPM  Kupas Peramalan Konsumsi Energi dengan Model ARIMA

Berita 3 menit baca 54 kali dilihat

JAMBI – Peningkatan konsumsi energi menuntut perencanaan yang lebih akurat agar kebutuhan energi masa depan dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Pemodelan statistik menjadi salah satu pendekatan untuk membaca tren tersebut sekaligus menyediakan dasar bagi perumusan kebijakan energi.

Isu itu dibahas dalam webinar penelitian bertajuk “Pemodelan ARIMA, Meramal Tren Energi untuk Kebijakan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat secara daring, Jumat (9/10/2026).

Webinar menghadirkan Bella Arisha, M.Sc., dosen Universitas Jambi yang menekuni bidang matematika optimasi, matematika ekonomi, dan statistika. Diskusi dipandu Nurrahma Sari Putri, M.BA., dosen Program Studi Manajemen Keuangan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN STS Jambi.

Dalam paparannya, Bella menjelaskan penggunaan metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) untuk meramalkan konsumsi energi per kapita di Indonesia berdasarkan data historis periode 1965–2023.

Penelitian tersebut menggunakan sejumlah tahapan analisis, mulai dari prapemrosesan data, pengujian stasioneritas dengan Augmented Dickey-Fuller Test, hingga identifikasi model melalui pemeriksaan Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF). Model kemudian dievaluasi dengan mempertimbangkan nilai Akaike Information Criterion (AIC) untuk menentukan model yang paling sesuai.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ARIMA (2,2,1) memberikan kecocokan yang memadai terhadap data serta mampu menangkap fluktuasi dalam tren jangka panjang,” ujar Bella.

Berdasarkan hasil peramalan, konsumsi energi per kapita Indonesia diproyeksikan meningkat secara moderat hingga mencapai 11.208 kWh pada 2030. Proyeksi tersebut, menurut Bella, dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam merencanakan penyediaan energi, menjaga keamanan pasokan, dan meningkatkan efisiensi dalam jangka panjang.

Ia menilai, kecenderungan peningkatan konsumsi energi perlu diantisipasi melalui pengembangan sumber energi terbarukan dan penguatan program konservasi energi.

“Mengintegrasikan hasil peramalan ini ke dalam strategi energi nasional akan mendukung komitmen Indonesia dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan dan transisi energi,” katanya.

Selain membahas kebijakan energi, webinar juga mengangkat relevansi pemodelan statistik bagi penelitian ekonomi syariah. Bella menjelaskan, metode ARIMA tidak terbatas pada peramalan konsumsi energi, tetapi dapat diterapkan untuk menganalisis berbagai indikator ekonomi, termasuk inflasi dan pertumbuhan pembiayaan.

Penerapan metode tersebut dapat membantu peneliti membaca kecenderungan data historis dan menyusun proyeksi yang mendukung analisis ekonomi. Meski demikian, hasil peramalan tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan asumsi model, karakteristik data, serta kemungkinan perubahan kondisi ekonomi.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah mahasiswa Ekonomi Syariah mengajukan pertanyaan mengenai penerapan ARIMA dalam penelitian ekonomi syariah dan relevansinya bagi perencanaan kebijakan energi nasional.

Antusiasme peserta menunjukkan pentingnya penguasaan metode kuantitatif bagi mahasiswa, terutama untuk menghubungkan kajian akademik dengan persoalan pembangunan. Melalui kegiatan ini, LPPM mendorong penguatan kapasitas riset yang tidak hanya menghasilkan analisis statistik, tetapi juga dapat menjadi masukan bagi pengambilan keputusan berbasis data.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.