Prodi Tadris Fisika FTK dan LPPM Bedah Riset Strategi Mengatasi Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika

Prodi Tadris Fisika FTK dan LPPM Bedah Riset Strategi Mengatasi Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika

Berita 3 menit baca 19 kali dilihat

JAMBI – Miskonsepsi dalam pembelajaran fisika tidak cukup diatasi dengan menambah penjelasan atau memberikan rumus. Pendidik perlu memahami cara berpikir siswa, mengidentifikasi letak kesalahan konsep, lalu membimbing mereka membangun pemahaman ilmiah yang lebih mendalam.

Persoalan tersebut dibahas dalam webinar nasional bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika: Dari Miskonsepsi Menuju Pemahaman Mendalam” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat  bekerja sama dengan Program Studi Tadris Fisika, Jumat (9/10/2026). Kegiatan berlangsung secara daring.

Webinar dibuka oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi, Dr. Boby Sefrinando. Diskusi dipandu Susy Pransiska, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN STS Jambi.

Dua guru besar di bidang pendidikan fisika dihadirkan sebagai narasumber, yakni Prof. Drs. Maison, M.Si., Ph.D., Guru Besar Pendidikan Fisika sekaligus Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pascasarjana Universitas Jambi, serta Prof. Dr. Achmad Samsudin, M.Pd., Guru Besar Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA).

Dalam pemaparannya, Maison menjelaskan bahwa siswa dapat terlihat memahami materi ketika mampu menggunakan rumus matematis, tetapi belum tentu menguasai konsep yang mendasarinya. Ketidakkonsistenan itu terlihat ketika siswa diminta menjelaskan fenomena fisika melalui representasi atau situasi fisis yang berbeda.

“Siswa bukan wadah yang diisi, melainkan pembangun pengetahuan aktif. Oleh karena itu, kita perlu mengubah struktur kognitif, bukan sekadar menambah informasi,” ujar Maison.

Menurut dia, kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan rumus tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran pemahaman. Pendidik perlu mengetahui apakah jawaban tersebut lahir dari penguasaan konsep atau sekadar penerapan prosedur matematis.

Untuk itu, diagnosis miskonsepsi harus dilakukan menggunakan instrumen yang tepat dan akurat. Salah satu instrumen yang dapat digunakan ialah Five-Tier Diagnostic Test, yaitu tes diagnostik lima tingkat yang membantu mengidentifikasi pola pemahaman siswa, termasuk miskonsepsi, pemahaman konsep, dan kemungkinan jawaban yang didasarkan pada tebakan.

Sementara itu, Achmad Samsudin menekankan bahwa miskonsepsi tidak semata-mata menunjukkan kegagalan siswa dalam belajar. Sebaliknya, pemahaman yang keliru dapat menjadi pintu masuk bagi guru untuk mengetahui bagaimana siswa menafsirkan suatu konsep.

“Miskonsepsi merupakan jendela untuk memahami cara berpikir siswa,” ujarnya.

Ia mengatakan, pembelajaran yang efektif semestinya dimulai dari pengetahuan awal siswa, bukan semata-mata dari materi yang hendak disampaikan guru. Karena itu, kemampuan mendiagnosis dan merespons miskonsepsi menjadi kompetensi penting bagi pendidik fisika profesional.

Setelah miskonsepsi teridentifikasi, guru perlu melakukan remediasi melalui Conceptual Change Model (CCM) atau model perubahan konseptual. Pendekatan ini membantu siswa mengevaluasi pemahaman awalnya dan membangun penjelasan baru yang lebih sesuai dengan konsep ilmiah.

Achmad menjelaskan, perubahan konsepsi tidak berlangsung hanya dengan memberikan informasi baru. Siswa perlu menyadari keterbatasan pemahaman awalnya, kemudian memperoleh penjelasan alternatif yang dapat dipahami, masuk akal, dan bermanfaat untuk menjelaskan fenomena yang dipelajari.

“Perubahan konsepsi tidak terjadi melalui pemberian informasi semata, tetapi melalui proses dari ketidakpuasan, dapat dipahami, masuk akal, dan akhirnya bermakna,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa guru tidak cukup berperan sebagai penyampai materi. Pendidik perlu menciptakan ruang belajar yang memungkinkan siswa menguji gagasan, mempertanyakan pemahaman, dan menemukan hubungan antarkonsep melalui proses berpikir aktif.

Menutup paparannya, Achmad menyampaikan pesan reflektif tentang peran pendidik dalam membangun pengetahuan siswa. “We cannot teach people anything, we can only help them discover it within themselves.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa transformasi pembelajaran fisika membutuhkan pergeseran pendekatan, dari sekadar mengejar penyelesaian soal menuju upaya memahami proses berpikir siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menggunakan rumus, tetapi berkembang menjadi pemahaman konsep yang mendalam dan bermakna.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.