Membaca Sisi Lain Proyek Islamisasi Ilmu di Indonesia
Dalam upaya menguatkan wacana keilmuan yang berakar pada nilai-nilai Islam, Program Studi Studi Agama-Agama bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menyelenggarakan sebuah webinar bertajuk “Memperjuangkan Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Indonesia” pada Rabu, 16 Juli 2025.
Dengan pemateri seorang dosen dan peneliti yang kompeten di bidang ini, yaitu Yanuardi Syukur.
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) merupakan organisasi sosial-intelektual yang lahir dari keprihatinan terhadap arus pemikiran sekuler dan liberal yang dinilai dapat menggerus akar-akar keislaman dalam masyarakat Indonesia.
Dalam rangka meng-counter wacana yang terus dikembangkan Jaringan Islam Liberal anak-anak muda intelektual muslim berupaya mengambil jalan untuk menepis dan menandingi gerakan mereka. Berbasis pada semangat persahabatan keagamaan, INSISTS membangun jalinan antar individu dan komunitas yang memiliki kesamaan visi dalam memperjuangkan Islam sebagai wordview baik dalam dimensi keilmuan, sosial, maupun budaya.
Kemunculan INSISTS sebagai aktor intelektual tak lepas dari intensitas interaksinya dengan wacana Islam Liberal yang dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Pertemuan dan perdebatan antara keduanya bukan semata kontestasi ide, melainkan sebuah bentuk konter wacana yang dilandasi oleh sejumlah motif mendasar. Di antaranya ialah kekhawatiran terhadap bahaya dekonstruksi nilai-nilai Islam oleh pemikiran liberal, keyakinan akan kapasitas aktor INSISTS dalam melawan hegemoni narasi tersebut, serta kepercayaan kolektif akan pentingnya perjuangan bersama demi menjaga otoritas keilmuan Islam yang orisinal. Bahkan, muncul kebutuhan akan aliansi strategis antar aktor untuk melawan “musuh bersama” yang dianggap mengancam integritas Islam.
Interaksi antar aktor baik sesame INSISTS, maupun yang berbeda pandangan berlangsung dalam berbagai bentuk: verbal (melalui diskusi publik, seminar, dan debat akademik), non-verbal (melalui penerbitan buku, artikel ilmiah populer, dan opini di media), serta virtual (melalui media sosial dan platform digital). Mekanisme interaksi ini berjalan dengan corak kerja sama dan akomodasi, terutama dengan komunitas dan institusi yang memiliki visi serupa. Koalisi ini memungkinkan pertukaran gagasan, distribusi sumber daya intelektual, dan perluasan pengaruh INSISTS ke ruang-ruang publik yang lebih luas.
Sebagai organisasi yang menjadikan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” sebagai agenda utama, INSISTS menunjukkan konsistensi dalam menyebarluaskan gagasannya melalui berbagai medium. Forum-forum akademik terbuka, pertemuan intelektual terbatas, serta publikasi buku dan majalah ilmiah populer menjadi sarana untuk menengahkan narasi alternatif yang berakar pada tradisi keilmuan Islam. Langkah ini tidak hanya bertujuan membentuk individu yang berpikiran Islamis, tetapi juga merawat ekosistem keilmuan yang kritis dan mandiri dari pengaruh sekularisasi Barat.
Dalam konteks Islamisasi ilmu pengetahuan, dampak interaksi terhadap aktor dan INSISTS mencakup: membentuk individu berpikiran Islamis, yang memiliki kesadaran epistemologis atas pentingnya worldview Islam dalam membentuk ilmu, membentuk komunitas intelektual, sebagai wadah reproduksi dan distribusi pengetahuan Islam, membangun otoritas intelektual di berbagai bidang, agar narasi Islam memiliki legitimasi ilmiah dan sosial, dan mendorong kerja sama lintas sektor antara komunitas ilmiah, pemerintah (penguasa), dan sektor swasta (pengusaha) dalam menghidupkan kembali tradisi ilmu dalam kerangka peradaban Islam.
Dengan demikian, INSISTS tampil sebagai “organisasi pejuang Islamisasi ilmu”, yang tidak hanya menyusun kritik terhadap dominasi epistemologi Barat, tetapi juga membangun alternatif yang berakar pada khazanah keilmuan Islam klasik dan kontemporer. Dampak dari dinamika interaksi tersebut terasa nyata, baik bagi INSISTS sebagai institusi maupun para aktor yang terlibat di dalamnya. Bagi aktor-aktor INSISTS, intensitas keterlibatan dalam wacana publik telah mendorong peningkatan kemampuan berpikir kritis, penguatan argumen berbasis tradisi keilmuan Islam, dan terbukanya akses terhadap jaringan intelektual internasional. Sementara itu, bagi INSISTS sendiri, interaksi ini memperkuat posisinya sebagai motor gerakan intelektual Islam di Indonesia yang konsisten, artikulatif, dan strategis dalam menghadapi tantangan zaman.
Penulis: M. Rafii (Dosen Studi Agama-agama FUSA)
Editor: Doni
Bagikan: