Perspektif Gender dalam Krisis Iklim: Kolonialisme Hijau dan Tantangan Keadilan Ekologis
Jambi, 17 Juli 2025 — Krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan ketimpangan struktural yang berakar pada kolonialisme dan patriarki. Dalam serial webinar “Suara Perempuan untuk Keadilan Iklim”, Risma Umar—Wakil Direktur Eksekutif Aksi for Gender, Social and Ecological Justice—menyampaikan bagaimana proyek-proyek yang disebut sebagai solusi iklim justru memperparah ketidakadilan sosial dan gender. Proyek geothermal, REDD+, food estate, hingga ekstraksi mineral atas nama energi hijau, dinilai telah menggusur ruang hidup masyarakat adat, menghilangkan sumber penghidupan perempuan, dan menciptakan konflik lingkungan yang tidak partisipatif.
Risma menekankan bahwa perempuan, khususnya dari komunitas adat dan petani kecil, merupakan kelompok paling terdampak dari transisi energi yang tidak adil. Mereka kehilangan akses terhadap tanah, air, hutan, serta sumber pangan, namun kerap diabaikan dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Ia juga mengkritik skema pendanaan iklim global seperti Green Climate Fund (GCF) yang lebih mudah diakses oleh lembaga besar atau swasta, alih-alih komunitas terdampak secara langsung.
Webinar ini merupakan bagian pertama dari serial “Suara Perempuan untuk Keadilan Iklim” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi bekerja sama dengan Beranda Perempuan. Acara berlangsung secara daring melalui Zoom, diikuti oleh dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Ketua LPPM UIN STS Jambi, Dr. Fridiyanto, M.PdI., mewakili Rektor UIN STS Jambi, menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini dan menyatakan bahwa isu strategis seperti keadilan iklim berbasis gender perlu mulai dirambah sebagai bagian dari penguatan kajian-kajian akademik di lingkungan kampus, termasuk di UIN Jambi.
Senada dengan itu, Direktur Beranda Perempuan, Zubaidah, menyatakan bahwa kerja sama ini memiliki makna penting karena membuka peluang kolaboratif antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil dalam tugas pendampingan masyarakat terdampak krisis iklim. Ia juga menekankan bahwa narasumber yang dihadirkan memiliki kompetensi tinggi dan pengalaman panjang dalam mengadvokasi isu-isu keadilan ekologis dan gender.
Serial ini dirancang untuk berlangsung sebanyak empat kali sepanjang akhir Juli 2025, dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menuju Webinar Internasional tentang Perempuan dan Keadilan Iklim yang dijadwalkan pada Agustus mendatang. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen UIN STS Jambi dalam membangun ruang akademik yang responsif terhadap isu perubahan iklim, gender, dan keadilan sosial-ekologis.
Editor: Doni
Bagikan: