Menembus Sunyi di Lorong Kampus: Perjalanan Mila, Teman Tuli, dan Gerilya Inklusi UIN STS Jambi

Menembus Sunyi di Lorong Kampus: Perjalanan Mila, Teman Tuli, dan Gerilya Inklusi UIN STS Jambi

Berita 4 menit baca 192 kali dilihat

Siang itu sebuah pesan singkat masuk di layar ponsel saya sebagai Korpus Gender, Anak dan Disabilitas. Ringkas, namun sanggup meluruhkan seluruh rasa lelah yang menumpuk selama bertahun-tahun pendampingan:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Selamat pagi, Ibu. Alhamdulillah saya sudah selesai sidang akhir dan mendapatkan nilai yang sangat baik.🙏Makasih bynk buk sudah bantui saya buk.”

Pesan itu datang dari Mila Erdita. Hari ini, Mila resmi menyelesaikan perjalanannya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Ia lulus dari program studi Sistem Informasi dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,65—sebuah pencapaian luar biasa dengan predikat cumlaude.

Bagi orang awam, angka 3,65 mungkin sekadar deretan digit di atas lembar transkrip nilai. Namun bagi Mila, seorang mahasiswa Tuli, angka itu adalah bukti nyata bagaimana komitmen sebuah perguruan tinggi mampu meruntuhkan benteng keterbatasan dan stigma. Mila adalah produk UIN Jambi yang masuk lewat Jalur Difabel pada tahun 2022.

Sejak 2020: Visi Besar UIN STS Jambi Membuka Pintu Inklusi

Kisah sukses Mila adalah buah manis dari keberanian UIN STS Jambi. Sejak tahun 2020, kampus ini telah mengambil langkah progresif dengan secara resmi membuka pintu dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa difabel melalui jalur penerimaan khusus. UIN STS Jambi tidak sekadar menerima, tetapi bertanggung jawab penuh atas masa depan akademik mereka.

Sebagai wujud komitmen institusional tersebut, UIN STS Jambi membangun sistem pendampingan terstruktur sejak tahun 2022 melalui Pusat Studi Gender, Anak, dan Difabel (PGAD) serta penyediaan relawan Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Mendampingi mahasiswa Tuli seperti Mila tentu menghadirkan tantangan tersendiri (challenging). Bahasa akademik yang rumit, ritme perkuliahan yang cepat, hingga dinamika ujian sering kali menjadi tantangan besar. Namun berkat sistem yang dirancang UIN Jambi, Mila mendapatkan akses kesetaraan yang ia butuhkan.

Bagi Mila, kehadiran JBI yang disiagakan kampus sama pentingnya dengan jembatan yang menghubungkan dua daratan terpisah, atau bak oksigen yang memungkinkan seorang penyelam bertahan di kedalaman laut. Tanpa dukungan penuh dari UIN Jambi, ruang-ruang kelas dan ruang ujian bisa menjadi labirin yang menakutkan.

Mila memanfaatkan fasilitas pendampingan kampus ini pada momen-momen krusial dalam siklus akademiknya: mulai dari Seminar Proposal (Sempro), Ujian Kemampuan IT, hingga puncak perjuangannya di meja Sidang Munaqosyah.

Milla, Aji, Salsa, dan Gerilya di Balik Layar

Di balik senyum kemenangan Mila di ruang sidang, ada cerita “gerilya” dan kepedulian antar-mahasiswa yang dihidupkan oleh ekosistem inklusif UIN Jambi. Pendampingan ini tidak selalu berjalan mulus, mengingat para relawan JBI UIN Jambi adalah mahasiswa aktif yang pada saat bersamaan harus bertarung dengan kewajiban akademik mereka sendiri.

Kisah di balik Sidang Munaqosyah Mila menjadi buktinya.

Awalnya, Mila menghubungi Milla, salah satu relawan JBI kampus yang biasa mendampinginya. Namun di hari Senin yang sama, Milla ternyata juga dijadwalkan mengikuti Seminar Proposal. Sebagai sesama mahasiswa UIN Jambi, Milla tentu harus fokus pada langkah akademiknya sendiri dan memohon izin.

Kepanikan kecil mulai terasa. Tim pendamping kampus harus “bergerilya” mencari pengganti. Pilihan berikutnya jatuh pada Salsa, namun Salsa pun tengah berjibaku melengkapi berkas dan persyaratan yudisiumnya.

Di titik kritis itu, Aji (Ajisaka) menjadi tumpuan harapan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah, Aji dengan tulus bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi “penyambung suara dan jemari” bagi Mila di hadapan para penguji Munaqosyah. Proses ini tidak mudah karena ini lintas prodi dimana Aji harus membaca dan memahami skripsi Mila sebelum ujian berlangsung. Selain Milla, Aji, dan Salsa, ada pula relawan seperti Nabila dan Nala yang selama ini bergantian dalam barisan pendamping UIN Jambi untuk menemani langkah Mila mencapai target-target akademisnya.

Peran Luar Biasa UIN Jambi untuk Masyarakat Luas

Keseriusan UIN STS Jambi dalam melatih para JBI ini membuahkan hasil yang melampaui sekat-sekat akademik. Para relawan JBI yang dibina oleh UIN Jambi tumbuh menjadi tenaga ahli yang sangat mahir dan aktif.

Kiprah mereka kini tidak hanya berdampak di internal kampus, tetapi juga menjadi tumpuan bagi institusi publik di luar sana. UIN STS Jambi bangga karena relawan seperti Aji dan Salsa telah berulang kali dipercaya menjadi JBI resmi untuk mendampingi penyandang disabilitas di Polda Jambi, Ombudsman RI Perwakilan Jambi, Dinas Dukcapil, hingga ke kampus-kampus seperti Universitas Jambi (UNJA). Ini membuktikan bahwa visi inklusi UIN STS Jambi telah bertransformasi menjadi pilar pelayanan publik yang berdampak luas bagi Provinsi Jambi.

Kebanggaan Kampus, Wujud Nyata Impactful Campus

Hari ini, ketika foto Mila berjejer dengan tim penguji munaqosyah, JBI dan selempang kelulusannya terpampang, rasa bangga terasa luar biasa bagi seluruh civitas akademika UIN STS Jambi. Perjalanan Mila Erdita dari jalur masuk difabel hingga meraih gelar sarjana dengan IPK 3,65 adalah bukti nyata bahwa UIN STS Jambi telah berusaha hadir sebagai Kampus Berdampak.

UIN STS Jambi telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu mematikan azam yang kuat—selama perguruan tinggi hadir memberikan jaminan kesetaraan, keadilan, dan pendampingan yang humanis. Senyum keberhasilan Mila hari ini adalah kemenangan bagi UIN STS Jambi dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan dan inklusivitas di dunia pendidikan tinggi. (NF)

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.