Retret Penulisan Artikel Berakhir, Peserta Didorong Bangun Tradisi Dialog Ilmiah
Kuala Tungkal — Retret Penulisan Artikel Ilmiah yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat memasuki penghujung kegiatan dengan meninggalkan pesan penting bagi para peserta: menulis bukan sekadar memenuhi tuntutan akademik, melainkan membangun tradisi dialog ilmiah yang hidup dan berkelanjutan.
Selama beberapa hari pelaksanaan retret, para dosen peserta dibimbing menyusun artikel ilmiah yang ditargetkan mampu menembus jurnal bereputasi internasional. Penutupan kegiatan menjadi ruang refleksi bersama antara instruktur, peserta, dan pimpinan universitas mengenai pentingnya membangun ekosistem akademik yang bertumpu pada budaya menulis dan kolaborasi riset.
Instruktur, M. Husnul Abid, menyampaikan bahwa keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian pelatihan, tetapi juga dari lahirnya penulis-penulis yang terus berkembang setelah kegiatan berakhir.
“Mudah-mudahan seluruh materi dapat dipahami dengan baik. Saya yakin para peserta akan menjadi penulis yang hebat. Jurnal merupakan forum komunikasi para ilmuwan, tempat berbagai gagasan dipertemukan sekaligus diuji melalui kritik akademik,” ujarnya.
Senada dengan itu, instruktur Agus Salim, Ph.D mengajak peserta memandang menulis sebagai proses berpikir yang terus berkembang. Menurutnya, budaya akademik hanya dapat tumbuh apabila ruang diskusi dan pertukaran gagasan terus dipelihara.
“Saya sangat senang dapat berbagi pengalaman sekaligus belajar bersama. Interaksi seperti inilah yang harus semakin banyak di kampus karena jantung perguruan tinggi adalah ilmu pengetahuan. Menulis pada hakikatnya adalah berdialog dengan pembaca dan dengan diri sendiri melalui tulisan,” katanya.
Ia menambahkan, banyak penulis gagal memulai karena menunggu tulisan menjadi sempurna. Padahal, menurutnya, memperbaiki tulisan jauh lebih mudah dibandingkan terus menyempurnakan gagasan di dalam pikiran.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Kesempurnaan justru lahir melalui proses revisi. Berakhirnya retret ini bukan berarti komunikasi kita selesai. Para peserta tetap dapat mendiskusikan perkembangan artikelnya bersama para instruktur,” ujarnya.
Rektor UIN Jambi diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Ayub Mursalin, mengapresiasi penyelenggaraan retret sebagai bagian dari strategi kampus dalam memperkuat budaya riset. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar memenuhi agenda administratif, tetapi menjadi investasi intelektual bagi pengembangan kualitas dosen.

“Alhamdulillah kita dapat berkumpul dalam forum yang luar biasa untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Pimpinan universitas akan terus memberikan dukungan terhadap program seperti ini karena peningkatan kualitas karya ilmiah merupakan bagian penting dari pembangunan akademik kampus,” katanya.
Ayub menekankan bahwa menulis karya ilmiah merupakan tanggung jawab akademik setiap dosen. Ia bahkan menyebut aktivitas tersebut sebagai fardhu ain dalam kehidupan akademik karena menjadi bagian dari kewajiban mengembangkan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, artikel ilmiah yang baik tidak berhenti sebagai monolog penulis, melainkan menghadirkan dialog dengan berbagai teori, temuan penelitian, dan pandangan para ilmuwan lain sehingga mampu melahirkan argumen yang kuat serta memberi jawaban atas persoalan yang dikaji.
“Setiap tulisan harus memiliki arah yang jelas, menawarkan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus terbuka untuk diperdebatkan secara akademik. Dari situlah ilmu pengetahuan berkembang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi dalam penelitian. Karya ilmiah yang berkualitas, menurutnya, lahir dari proses diskusi yang intens, bukan semata-mata hasil kerja individual.
“Kita harus membangun budaya riset kolaboratif. Semangat yang diperoleh selama retret hendaknya ditularkan kepada rekan-rekan dosen lainnya. Saya berharap seluruh peserta segera menyelesaikan dan mengirimkan artikelnya ke jurnal bereputasi sebagai langkah memperluas peluang menuju guru besar,” katanya.

Apresiasi juga datang dari salah seorang peserta, Idariyanti yang mengaku memperoleh kembali semangat untuk menulis setelah mengikuti retret. Menurutnya, pendampingan para instruktur memberikan pemahaman baru mengenai cara menyusun artikel ilmiah yang sistematis dan argumentatif.
“Meski usia kami tidak lagi muda, kegiatan ini membangkitkan kembali semangat untuk menghasilkan artikel yang berkualitas. Terima kasih kepada para instruktur yang telah membimbing dan memberikan motivasi. Kami berharap dapat mengamalkan ilmu yang diperoleh serta mengikuti jejak para instruktur dalam menghasilkan karya ilmiah yang bermutu,” ujarnya.
Ketua LPPM dan Korpus Penelitian mengucapkan terimakasih kepada peserta dan para instruktur yang penuh komitmen dan dedikasi mengikuti acara sampai selesai, “Tentunya hasil akhir dari acara ini adalah kami LPPM menunggu munculnya 20 artikel layak publish di jurnal bereputasi” ujar Korpuslit, Tasnim.
Bagikan: