Suara Dari Forum Inklusif : Menghimpun Aspirasi, Merumuskan Solusi bagi Mahasiswa Disabilitas

Suara Dari Forum Inklusif : Menghimpun Aspirasi, Merumuskan Solusi bagi Mahasiswa Disabilitas

Berita 3 menit baca 107 kali dilihat

Jambi – Kegiatan Disability Awareness yang diselenggarakan oleh Pusat Gender, Anak, dan Disabilitas LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi tidak hanya menjadi ruang peningkatan pemahaman mengenai isu disabilitas, tetapi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis sebagai bagian dari sesi Rencana Tindak Lanjut (RTL). Pada sesi ini, seluruh peserta dibagi ke dalam empat kelompok untuk melakukan analisis terhadap kondisi pelayanan bagi mahasiswa disabilitas di lingkungan UIN STS Jambi.

Melalui diskusi kelompok, peserta diminta mengidentifikasi berbagai hambatan yang masih dihadapi mahasiswa disabilitas sekaligus merumuskan alternatif solusi yang dapat diimplementasikan oleh berbagai unit di lingkungan kampus. Hasil diskusi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam membangun layanan pendidikan tinggi yang lebih inklusif.

Berdasarkan hasil analisis, peserta mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih perlu mendapat perhatian bersama. Salah satunya adalah masih adanya layanan akademik yang belum sepenuhnya ramah bagi mahasiswa disabilitas. Selain itu, standar penilaian akademik dinilai masih disamaratakan antara mahasiswa disabilitas dan non-disabilitas tanpa mempertimbangkan kebutuhan akomodasi yang layak. Peserta juga menyoroti masih terbatasnya interaksi dan komunikasi antara mahasiswa disabilitas dan mahasiswa non-disabilitas. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat terciptanya lingkungan kampus yang inklusif dan saling mendukung. Di bidang layanan kesehatan, pemanfaatan fasilitas kesehatan kampus oleh mahasiswa disabilitas juga dinilai belum optimal. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan aksesibilitas layanan serta sosialisasi yang lebih intensif agar seluruh mahasiswa dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara setara.

Aspek pembelajaran di kelas turut menjadi perhatian peserta. Dosen maupun mahasiswa disabilitas masih menghadapi berbagai kendala dalam proses belajar mengajar akibat keterbatasan assistive technology atau teknologi pendukung pembelajaran. Ketersediaan perangkat yang mendukung akses belajar masih menjadi kebutuhan mendesak untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan inklusif.

Selain itu, keterbatasan jumlah Juru Bahasa Isyarat (JBI) juga menjadi salah satu hambatan utama, khususnya dalam mendampingi mahasiswa tuli ketika mengakses berbagai layanan akademik maupun administrasi kampus. Peserta menilai keberadaan JBI merupakan salah satu bentuk akomodasi layak yang sangat dibutuhkan untuk menjamin hak mahasiswa disabilitas memperoleh layanan secara mandiri dan bermartabat.

Diskusi juga mengungkap bahwa kegiatan penguatan kapasitas yang mendukung layanan disabilitas masih relatif minim. Program-program seperti pelatihan bahasa isyarat, pelatihan relawan (volunteer) disabilitas, serta berbagai kegiatan peningkatan kesadaran sivitas akademika perlu diselenggarakan secara berkelanjutan agar budaya inklusif dapat tumbuh di lingkungan kampus.

Tidak berhenti pada identifikasi permasalahan, masing-masing kelompok juga menyusun berbagai rekomendasi solusi. Di antaranya adalah penyusunan standar layanan akademik yang inklusif, penyediaan akomodasi layak dalam proses pembelajaran dan penilaian, peningkatan pengadaan teknologi pendukung (assistive technology), penambahan dan pelatihan Juru Bahasa Isyarat, penguatan layanan kesehatan yang aksesibel, serta penyelenggaraan program pelatihan dan kampanye kesadaran disabilitas secara berkelanjutan bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan relawan.

Hasil diskusi kelompok ini menjadi salah satu luaran penting dari kegiatan Disability Awareness. Rekomendasi yang dihasilkan bukan dimaksudkan sebagai kritik terhadap layanan yang telah berjalan, melainkan sebagai bahan refleksi dan evaluasi bersama dalam mewujudkan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi sebagai kampus yang semakin inklusif, ramah disabilitas, dan mampu memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa. Melalui komitmen bersama seluruh sivitas akademika, diharapkan berbagai rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti secara bertahap sehingga pelayanan kepada mahasiswa disabilitas terus mengalami peningkatan, sejalan dengan prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap keberagaman, dan pemenuhan hak setiap warga kampus.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.