Tunda Beli Alat Bantu Dengar demi Kuliah, Cerita Mahmud Ikuti SSE UM-PTKIN UIN Jambi
JAMBI – Pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) di UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi pada Selasa (9/6/2026) menghadirkan cerita tersendiri. Di antara ribuan peserta, terdapat seorang calon mahasiswa difabel bernama Mahmud Hidayah yang menjadi satu-satunya peserta berkebutuhan khusus dalam seleksi jalur SSE di kampus tersebut. Selain jalur ini, ada khusus Mandiri Jalur Difabel. Tapi Mahmud memilih jalur ini.
Mahmud datang jauh dari Rantau Rasau, sebuah desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Setibanya di Jambi, alumni Madrasah Aliyah ini diantar oleh kerabatnya yang sudah lebih dulu menetap di Kota Jambi.
Penundaan Alat Bantu Dengar Demi Kuliah
Sebagai anak tunggal, Mahmud memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Sang ibu pun ikut mendampinginya langsung ke Kota Jambi untuk memberikan dukungan.
Keluarga Mahmud bukan berasal dari kalangan yang berkecukupan. Sebenarnya, ibunya sedang menabung dan berencana membelikan Mahmud alat bantu dengar pada tahun ini. Sejak mengalami kecelakaan saat berusia 9 tahun, kondisi pendengaran Mahmud menjadi tidak menentu—terkadang ia bisa mendengar dengan cukup jelas, namun di waktu lain pendengarannya menurun drastis.
Namun, karena Mahmud bersikeras ingin kuliah, sang ibu akhirnya memutuskan untuk menunda pembelian alat bantu dengar tersebut. Uang tabungan yang ada dialihkan terlebih dahulu untuk membiayai persiapan dan kebutuhan pendaftaran kuliah Mahmud.

Fasilitas dan Sambutan Hangat dari Kampus
Setibanya di lokasi ujian, Kampus II UIN STS Jambi di Desa Simpang Sungai Duren, Mahmud langsung disambut oleh Salsa, seorang mahasiswa yang bertindak sebagai volunteer pendamping difabel. Salsa menemani Mahmud mulai dari gerbang kedatangan hingga menuju ruang ujian khusus di Gedung UT-IPD lantai 3 Gedung Eks Rektorat, yang disiapkan untuk memberikan aksesibilitas yang lebih baik.
Di dalam ruangan, petugas IT dan tim pendamping, termasuk Ketua Koordinasi Pusat Kajian Gender, Anak, dan Disabilitas (GAD) UIN STS Jambi, Nisaul Fadillah, M.Si., Ph.D, sudah siap siaga membantu proses jalannya ujian.
Sebelum ujian dimulai, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN STS Jambi, Dr. Pahmi Sy, M.Si., bersama Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. H. Helmi, M.Ag., menyempatkan diri untuk menyambangi Mahmud.
Dalam dialog tersebut, Dr. Pahmi menanyakan kondisi kesehatan dan kesiapan Mahmud, serta memastikan bahwa fasilitas khusus yang dibutuhkannya tersedia dengan baik.
“Kami ingin memastikan seluruh peserta dapat mengikuti ujian dengan nyaman. Jika ada kebutuhan yang diperlukan, silakan disampaikan agar dapat kami bantu,” ujar Dr. Pahmi Sy.
Harapan pada Prodi Ilmu Perpustakaan
Kepada pimpinan kampus, Nisaul Fadillah menjelaskan latar belakang hambatan pendengaran yang dialami Mahmud akibat kecelakaan sembilan tahun lalu. Meski dengan kondisi pendengaran yang pasang surut dan keterbatasan ekonomi, semangat Mahmud untuk kuliah tidak surut.
Pada seleksi UM-PTKIN ini, Mahmud menempatkan Program Studi Ilmu Perpustakaan sebagai pilihan pertamanya. Kehadiran pimpinan kampus dan kesiapan fasilitas di UIN Jambi menjadi bentuk komitmen nyata dalam menyediakan ruang pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua kalangan, tanpa diskriminasi.