Kopi Mael, Laut, dan Artikel Tak Kunjung Usai

Kopi Mael, Laut, dan Artikel Tak Kunjung Usai

Berita 4 menit baca 78 kali dilihat

KUALA TUNGKAL — Menjelang pagi, Kota Kuala Tungkal masih menyisakan kesejukan khas kawasan pesisir. Aroma laut menyeruak, di antara jembatan, pelabuhan, dan lalu-lalang warga yang mulai beraktivitas, para peserta Retret memulai hari dengan berjogging ria. Jogging penting agar tetap sehat menjalani pelatihan panjang untuk menaklukkan lembar demi lembar naskah artikel.

Usai jogging, peserta berhenti di Warung Kopi Haji Mael, warung kopi legendaris di Kuala Tungkal. Di warkop sederhana itu, secangkir kopi hitam dan aneka kudapan menjadi penghangat pagi. Traktiran dari Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Ayub Mursalin, bukan hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga menjadi jeda sebelum peserta kembali bergelut dengan argumen, metodologi, dan revisi artikel.

Aroma Kopi Mael sepertinya terus menemani peserta hingga larut malam. Di ruang pelatihan Hotel Ar-Riyadh, lampu-lampu tetap menyala ketika sebagian besar kota mulai beristirahat. Laptop masih terbuka, catatan berserakan di meja, dan diskusi-diskusi hangat terdengar di beberapa sudut ruangan.

“Sepertinya kopi Mael tadi masih ngefek,” celetuk salah seorang peserta sambil tersenyum ketika jarum jam terus bergerak menuju larut malam.

Namun, semangat yang bertahan bukan semata karena secangkir kopi. Sejak pagi, peserta telah memperoleh bekal penting dari para instruktur, yang mengatakan bahwa menulis artikel ilmiah sesungguhnya adalah pekerjaan menyusun cara berpikir.

Menurut Pak Agus, setelah peneliti memperoleh data, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menuliskan hasil penelitian, melainkan mengorganisasikan seluruh temuan agar mampu menjawab pertanyaan penelitian.

“It’s time to put some order on what you’ve found,” ujarnya, mengingatkan bahwa data yang baik akan kehilangan maknanya jika tidak disusun secara logis.

Ia menekankan bahwa organisasi data harus selalu berpijak pada solusi atas research question. Dengan begitu, setiap bagian artikel memiliki arah yang jelas dan seluruh pembahasan tetap berpegang pada argumen utama yang telah dibangun sejak awal penelitian.

Bagi Agus, pendahuluan bukan sekadar pembuka. Di sanalah fondasi artikel dibangun melalui tiga unsur utama: persoalan penelitian (research problem), argumen penelitian (research argument), dan metodologi. Ketiganya menjadi peta yang akan mengarahkan pembaca memahami keseluruhan isi artikel.

Pesan yang paling membekas justru datang ketika pembahasan bergeser pada proses penyempurnaan naskah.

“Inti dalam menulis artikel adalah revisi, revisi, revisi.”

Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa artikel ilmiah bereputasi tidak lahir dalam sekali duduk. Ia dibangun melalui proses panjang, penuh koreksi, perbaikan, dan keberanian menerima masukan. Revisi bukan tanda kegagalan, melainkan jalan menuju kualitas.

Peserta juga diajak melatih kemampuan menyintesis berbagai kajian pustaka. Seorang penulis artikel ilmiah, menurut Agus, tidak cukup hanya mengutip pendapat para ahli. Ia harus mampu merangkai berbagai literatur menjadi argumen baru dengan sikap akademik yang rendah hati, menghargai penelitian terdahulu sembari menunjukkan kontribusi riset yang sedang dikerjakan.

Memasuki siang, ruang pelatihan berubah menjadi ruang kerja bersama. Tidak ada lagi paparan materi. Peserta diberi waktu mandiri untuk menata ulang artikel masing-masing, memperbaiki alur tulisan, mempertajam argumen, dan memastikan setiap bagian saling terhubung.

Malam harinya, kegiatan kembali dimulai dengan arahan Pak Ayub yang menjelaskan bagaimana menyusun abstrak secara sistematis. Setelah itu, peserta bergiliran melakukan konsultasi langsung dengan para instruktur. Setiap meja menjadi ruang diskusi kecil; setiap paragraf diperdebatkan, diperbaiki, lalu ditulis ulang.

Di retret, kopi memang membantu mata tetap terbuka. Namun, yang benar-benar membuat peserta bertahan hingga larut malam adalah tumbuhnya kesadaran bahwa artikel ilmiah bukan sekadar syarat akademik. Ia merupakan hasil dari proses berpikir yang runtut, keberanian membangun argumen, serta kesediaan untuk terus merevisi hingga menghasilkan karya yang layak dipublikasikan.

Malam pun semakin larut. Gelas-gelas kopi buatan pegawai hotel Ar-Riyadh mulai kosong, tetapi semangat peserta belum surut. Di Kuala Tungkal, secangkir Kopi Mael menjadi saksi bahwa artikel-artikel ilmiah yang kelak terbit di jurnal bereputasi tidak hanya lahir dari data penelitian, melainkan juga dari ketekunan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa setiap revisi adalah langkah menuju karya terbaik.

Tapi nampaknya artikel-artikel peserta belum kunjung usai. Masih perlu bergelas-gelas kopi lagi, mungkin dituntaskan di Jambi bukan lagi ditemani Kopi Mael, tetapi cukup dengan AAA atau Paman, karena artikel menuntut untuk dituntaskan.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.