Optimalisasi Website LPPM: Berita Substantif Jadi Wajah Akuntabilitas dan Produksi Pengetahuan
JAMBI — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi terus memperkuat tata kelola informasi publik melalui optimalisasi website lembaga. Dalam kegiatan yang berlangsung di ruang eks Senat LPPM, Selasa (7/7/2026), seluruh staf koordinator pusat (Korpus) dibekali kemampuan mengelola pemberitaan sekaligus diberi tanggung jawab untuk menghidupkan laman masing-masing melalui publikasi kegiatan yang rutin, informatif, dan kegiatan atau program berkualitas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya LPPM membangun dokumentasi kelembagaan yang lebih tertib sekaligus memperkuat transparansi penyelenggaraan program penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta kegiatan akademik lainnya.
Ketua LPPM, Fridiyanto, mengatakan, penguatan pengelolaan website merupakan respons atas tuntutan akuntabilitas kinerja yang semakin menekankan pentingnya bukti pelaksanaan setiap kegiatan. Karena itu, seluruh proses administrasi dan dokumentasi harus dilakukan secara sistematis dan terekam secara baim.
“Setiap kegiatan yang dilaksanakan harus terdokumentasi dengan baik. Website LPPM tidak hanya menjadi arsip digital, tetapi juga menjadi bukti kinerja lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Menurut Fridiyanto, pemberitaan melalui website memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar mengabarkan kegiatan. Publikasi tersebut menjadi media untuk merekam perjalanan institusi sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat dan dilaksanakan secara terbuka.
“Website menjadi ruang transparansi sekaligus pertanggungjawaban publik atas program-program yang dijalankan LPPM,” katanya.
Dalam sesi pelatihan, Sekretaris LPPM, M. Husnul Abid, yang bertindak sebagai pemateri, mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap berita di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, sebagai institusi yang memproduksi ilmu pengetahuan, perguruan tinggi semestinya menghadirkan berita yang juga memuat gagasan, temuan, serta substansi keilmuan, bukan sekadar laporan seremonial.

Ia mengkritisi kecenderungan pemberitaan kampus yang masih berorientasi pada aktivitas pimpinan dengan judul-judul seperti “Rektor Memimpin Rapat”, “Rektor Menghadiri”, atau “Rektor Membuka”. Model pemberitaan seperti itu, menurutnya, belum mampu menangkap nilai utama dari sebuah kegiatan akademik atau substansi sebuah kegiatan yang dihadiri.
Sebaliknya, berita perguruan tinggi seharusnya mengangkat pokok-pokok pemikiran, hasil diskusi, inovasi, ataupun kebijakan yang lahir dari suatu forum sehingga pembaca memperoleh pengetahuan baru, bukan hanya mengetahui bahwa sebuah acara telah berlangsung.
“Perguruan tinggi adalah ruang produksi ilmu pengetahuan. Karena itu, berita yang dipublikasikan juga harus menghadirkan informasi, gagasan, dan pengetahuan yang dihasilkan sivitas akademika,” jelas Husnul.
Dalam paparannya, ia juga membagikan berbagai teknik menyusun berita yang menarik, mulai dari menentukan sudut pandang (angle), memilih fakta yang paling bernilai berita, menyusun judul yang menonjolkan substansi, hingga mengembangkan narasi yang mampu menjelaskan manfaat sebuah kegiatan bagi masyarakat maupun pengembangan akademik.
Pelatihan tersebut sekaligus menegaskan komitmen LPPM untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang komunikasi publik. Selama beberapa tahun terakhir, lembaga ini secara rutin menyelenggarakan pelatihan penulisan berita bagi seluruh tim agar setiap program penelitian, pengabdian, dan publikasi ilmiah dapat terdokumentasikan dalam bentuk berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai jurnalistik serta memperkuat diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Melalui optimalisasi website dan penguatan budaya menulis tersebut, LPPM berharap setiap pusat di lingkungan lembaga mampu menjadi produsen informasi akademik yang kredibel. Dengan demikian, website LPPM tidak hanya berfungsi sebagai etalase kegiatan, tetapi juga sebagai ruang dokumentasi pengetahuan, media akuntabilitas publik, dan sarana memperluas dampak hasil kerja sivitas akademika.
Bagikan: