Workshop Inovasi Kalkon: dari Laboratorium ke Peluang Bisnis
JAMBI, (13/10/ 2026) Tim riset Dr. Tanti, M.Si selenggarakan workshop bertajuk “Chalcone Innovation: From Laboratory Synthesis to Business Opportunity”, secara daring.
Workshop Busines Plan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan hasil riset laboratorium dengan potensi pengembangan produk bernilai ekonomi. Penelitian berjudul “Sintesis Senyawa Turunan Kalkon dari Asetilpiridin dan Uji Aktivitas Anti-Inflamasi secara In Vitro, In Vivo, dan In Silico” ini didanai melalui program MoRA The AIR Funds Kementerian Agama Republik Indonesia.
Tim peneliti berhasil menyintesis 17 senyawa turunan kalkon dan mengujinya secara bertahap sebagai kandidat anti-inflamasi baru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa senyawa C13 menjadi kandidat yang menjanjikan karena kemampuannya menghambat denaturasi protein mendekati ibuprofen, dengan tingkat toksisitas yang masih berada pada kategori sedang.

Temuan tersebut diperkuat melalui kajian komputasi yang mencakup Density Functional Theory (DFT), molecular docking, dan simulasi dinamika molekuler. Meski demikian, senyawa C13 masih memerlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diarahkan menjadi produk farmasi yang aman dan layak dipasarkan.
Ketua tim peneliti, Dr. Tanti, M.Si., mengatakan penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah.
“Penelitian ini tidak boleh berhenti di jurnal atau di rak laboratorium. Obat anti-inflamasi yang ada saat ini masih memiliki efek samping jangka panjang, dan kami ingin senyawa kalkon yang kami kembangkan menjadi alternatif yang lebih aman. Melalui workshop business plan ini, kami mulai memetakan jalan dari laboratorium menuju produk, mulai dari perlindungan kekayaan intelektual, uji praklinis lanjutan, hingga kemitraan dengan industri,” ujarnya.
Menurut Tanti, orientasi hilirisasi perlu dibangun sejak tahap perencanaan penelitian. Dengan demikian, peneliti tidak hanya memikirkan aspek kebaruan dan publikasi, tetapi juga peluang pengembangan produk, kebutuhan pasar, perlindungan kekayaan intelektual, serta kemungkinan kerja sama dengan dunia usaha.

Dr. Tanti sebagai Ketua Tim riset berharap kegiatan workshop dapat mendorong semakin banyak peneliti di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi untuk merancang riset yang memiliki arah pengembangan produk dan peluang komersialisasi.
Dalam workshop bertema “Hilirisasi Senyawa Kalkon sebagai Produk Inovatif Bernilai Ekonomi” tersebut, Dr. apt. Uce Lestari, S.Farm., M.Farm., hadir sebagai pemateri dengan moderator Dr. Deliza, S.Si.
Uce menekankan pentingnya memastikan hasil penelitian dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekaligus memiliki peluang untuk dikomersialisasikan. Menurutnya, hilirisasi menjadi tahapan penting agar pengetahuan dan temuan ilmiah tidak berhenti pada pengembangan di lingkungan akademik, tetapi dapat diarahkan menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Pengembangan senyawa kalkon menjadi peluang bagi tim peneliti untuk mulai menyusun peta jalan bisnis, termasuk mengidentifikasi tahapan pengembangan produk, kebutuhan pendanaan, perlindungan kekayaan intelektual, calon mitra industri, serta persyaratan pengujian dan perizinan yang harus dipenuhi.
Namun, peluang komersialisasi tersebut tetap bergantung pada hasil pengujian lanjutan, pembuktian keamanan dan khasiat, serta kelayakan teknis dan ekonomi. Karena itu, penyusunan business plan menjadi salah satu langkah awal untuk menjembatani hasil penelitian dengan tahapan pengembangan produk yang lebih terukur.
Ketua LPPM, Fridiyanto, mengatakan kampus UIN Jambi telah lama menantikan hasil penelitian dosen yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk dan dikomersialisasikan.

“Kampus UIN Jambi sudah lama menunggu hasil riset dosen yang dapat menghasilkan produk dan dapat dikomersialisasi. Semoga workshop yang dilakukan oleh tim Dr. Tanti ini dapat mewujudkan hilirisasi hasil riset ke dalam skema bisnis,” ujarnya.
Menurut Fridiyanto, hilirisasi perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan riset perguruan tinggi agar investasi penelitian dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas. Kolaborasi antara peneliti, pengelola riset, dunia usaha, dan industri dibutuhkan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan sekaligus menjembatani berbagai tahapan menuju komersialisasi.
Melalui workshop ini, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi berupaya memperkuat hubungan antara penelitian ilmiah dan pengembangan bisnis. Riset kalkon menjadi salah satu contoh bagaimana temuan laboratorium dapat mulai dipetakan menuju produk inovatif, dengan tetap menempatkan pembuktian ilmiah, keamanan, dan kelayakan produk sebagai prasyarat sebelum memasuki pasar.
Bagikan: