Cadar populer di Indonesia: Praktik, Dinamika, dan Pemaknaan.

Berita 3 menit baca 319 kali dilihat
Cadar populer di Indonesia: Praktik, Dinamika, dan Pemaknaan.

Akhir-akhir ini pengguna cadar di Indonesia semakin beragam, dulu orang hanya menggunakan cadar berwarna hitam, sekarang mereka menggunakan cadar lebih berwarna atau colourful. Para pengguna cadar konvensional membataasi diri untuk berinteraksi hanya dengan komunitas yang sejenis, namun sekarang pengguna cadar banyak melakukan aktivitas yang melibatkan banyak komunitas sosial dan media sosial. Hal ini yang menimbulkan rasa keingintahuan Perdana Aisyah Puteri mengenai baaimana pengguna cadar bisa berekspresi demikian.

Dalam webinar hasil penelitian yang diadakan Lembaga Peneliti dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) pada tanggal 14 April 2022, di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Perdana Aisyah Puteri menyatakan “Larangan menggunakan cadar masuk ke beberapa instansi pemerintah dan pendidikan, salah satunya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengguna cadar kerap kali dikaitkan dengan keterlibatan kasus terorisme, gerakan anti pemerintah, kelompok anti pancasila, dan simbol arabisasi. Makin maraknya tindakan kriminal di Indonesia yang dilakukan oleh orang menggunakan cadar, melahirkan pelarangan mengenakan cadar di kampus dan kantor pemerintah karena dianggap mengancam keamanan Indonesia.”

“Pada dasarnya cadar dimaknai sebagai sebuah budaya Timur, pengenal dan upaya menjaga keselamatan. Perempuan menggunakan cadar sebagai suatu usaha mereka untuk melindungi diri agar terhindar dari sexual harrassment dan praktek kedekatan ibadah kepada Allah. Mereka merasa lebih nyaman dan aman dari gangguan lawan jenis saat cadar menutupi bagian dirinya.” Kata Perdana Aisyah Puteri.

Kaum pelajar menganggap cadar sebagai bentuk resistensi diri perempuan dari hegemoni dan dominasi barat. Mereka menganggap bahwa barat telah mengeksploitasi perempuan, laki-laki selalu mendominasi dalam berbagai aspek, dengan menggunakan cadar mereka memiliki kapasitas dan kesempatan melakukan  aktivitas dalam diskursus maupun struktur kekuasaan.

Cadar populer membentuk wajah baru, memberi warna untuk lepas dari identitas cadar lama yang dominan warna gelap, hanya mata yang nampak, saat berfoto wajahnya di-blured, dan hanya berkumpul bersama sesama. Pengguna cadar populer berfikir lebih modern, tidak membatasi diri dari komunitas luar baik terhadap perempuan atau laki-laki lain yang bukan anggota komunitasnya, maupun kegiatan yang menempatkan diri sebagai figur central bagi kaum laki-laki. Pertanyaan yang berkembang apakah menggunakan cadar hanya sekedar fashion atau berdasarkan pengetahuan agama?

Ada relasi kuasa pengetahuan dibalik penggunaan cadar, agama ditransfer melalui simbol, agama dilakukan dalam praktek beragama. Cadar populer di Indonesia mengalami sebuah proses rekonstruksi makna yang telah mapam, dari warna hitam sebagai sesuatu yang normal, memberikan makna baru dengan menggoyahkan struktur normatifnya. Cadar populer yang lebih berwarna lebih inklusif, membuat mereka lebih dekat dengan orang lain, tidak membuat orang sekitar takut, mereka lebih terbuka untuk mau bergaul dengan laki-laki, seperti selebgram Diana dari Makassar.

Perdana Aisyah Puteri mengatakan “Diana Nuliana tetap eksis di media sosial dan ikut bergabung dengan klub skateboard, ia merasa dengan menggunakan cadar banyak memberikan manfaat secara sosial dan ekonomi, menjadi orang yang terkenal sebagai selebgram dan memiliki usaha sendiri. Dalam konteks ini cadar tidak menempatkan seseorang dalam posisi yang diskriminatif justru menginspirasi anak muda dekat dengan agama dan sukses dunia, menjadi terkenal sebagai pengguna cadar membuatnya menerima banyak endors dari berbagai produk untuk dipromosikan.”

Kenyataannya, pengguna cadar populer di Indonesia tidaklah anti dengan budaya luar atau budaya pop dan aktif di media sosial. Mereka memiliki kapasitas untuk membangun otoritas agama, melalui syiar agama dan berbagi motivasi yang mereka sampaikan dalam forum pertemuan maupun secara online. Menggunakan cadar bukan berarti mengekang perempuan, sebaliknya mereka menemukan kebebasan untuk melakukan pilihan dan kenyamanan untuk beraktivitas.

 

Bagikan:

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Lihat semua

Pengumuman

Lihat semua

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.