Kitab-Kitab Karya Ulama Jambi “Shalawat Badawi Kubro”
Banyak Ulama Jambi telah menulis karyanya dalam sebuah kitab yang memuat tauhid, aqidah, falaq, fiqh, tasawuf, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang sedang berkembang di masyarakat saat itu. Sebagian besar kitab ulama Jambi masih sangat orisinil, berbentuk tulisan tangan dan bahkan belum ada penerbit Jambi yang mencetaknya. Untuk itu krusial sebuah Lajnah untuk mampu menghimpun dan melestarikan karya-karya intelektual ulama Jambi.
Hal itu mengemuka pada sebuah webinar hasil penelitian ke-36 di UIN STS Jambi yang dilaksanakan pada hari Kamis 07 April 2022. Adi Asmuni mengatakan bahwa “Lajnah Turats Islami Jambi (LTIJ) berdiri dengan tujuan menghimpun kitab-kitab yang ditulis ulama Jambi agar tetap terjaga dan utuh”. LTIJ bertempat di Jambi didirikan pada tanggal 4 desemebr 2021 oleh Muhammad Azro’i yang berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Adi Asmuni Kabupaten Muaro Jambi, dan Angga Ade Saputra.
Ketiga pendiri LTIJ berasal dari almamater berbeda, Muhammad Azro’i adalah alumnus pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Adi Asmuni merupakan alumnus pondok pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, Angga Ade Saputra adalah alumnus pondok pesantren Gontor Tanjung Jabung Timur. Meskipun demikian mereka memiliki visi dan misi yang sama untuk mengungkap keberadaan ulama di suatu daerah yang selama ini mungkin tidak diketahui oleh masyarakat sekitar dan menghimpun kembali kitab yang pernah mereka tulis. Dan ketiganya telah menulis buku Shalawat Badawi Kubro dalam Literatur Ulama Jambi.
Muhammad Azro’i mengemukakan “Ada temuan kitab berbahasa Arab yang ditulis Ulama Indonesia membuktikan tidak selamanya kitab bahasa Arab selalu ditulis oleh orang Arab. Kami berusaha menggali kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Jambi kemudian mencetak ulang setelah memenuhi persyaratan. Sejuah ini kendala yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan izin dari para ahli waris.”
“Ada 70 kitab karya ulama Jambi yang sudah dikoleksi oleh LTIJ dan yang belum terhimpun sekitar 200 kitab jika dikumpulkan dari semua kabupaten. Bahkan sebuah kitab karya H. Hasan Yahya Al Jawi dari kabupaten Kerinci telah dicetak penerbit Hazanah Fataniah tahun 2019 di Malaysia, tanpa ada perubahan naskah mengenai ulama nusantara.” Kata Angga Ade Saputra
Penelusuran kitab bermula dari perpustakaan milik pondok pesantren Nurul Iman Seberang Kota Jambi. Muhammad Azro’i menyebutkan “Banyak teks khotbah yang ditulis oleh ulama Jambi dan surat-surat yang dititipkan kepada jamaah haji yang berangkat ke Mekkah, penulisannya menggunakan aksara Arab Melayu. Dapat dipastikan bahwa sekitar tahun 70an madrasah banyak menggunakan Arab Melayu, sedangkan yang menggunakan bahasa Arab adalah para ulama yang belajar di Mekkah dan kembali ke nusantara”.
“Mayoritas ulama Jambi menulis kitab menggunakan Arab Melayu. Hanya ada satu kitab bahasa Bugis yang ditulis dengan aksara Bugis yakni membahas tentang pedoman manasik haji bagi jamaah suku bugis. Bahasa yang disampaikan sesuai dengan penggunaan buku.” Ujar Angga Ade Saputra
Jejaring ulama Jambi terhubung dengan ulama di Mekkah. Menurut Adi Asmuni “Saat berangkat haji para ulama menimba ilmu dengan guru di Mekkah. Sebagian ulama Jambi menjadi Mudaris di Masjidil Haram bahkan wafat dan dimakamkan disana, sedangkan ulama yang kembali ke Nusantara mensyiarkan dakwah menggunakan bahasa Arab Melayu untuk lebih mudah dipahami karena objeknya adalah masyarakat di Jambi.”
“Salah satu ulama Jambi yang tidak pergi belajar ke Mekkah atau Mesir adalah Syekh Abdul Qodir bin Ibrahim. Ia adalah orang yang sangat alim, belajar dengan kyai di Jambi, dan menjadi pendiri pondok pesantren As’ad Olak Kemang Jambi. Saat terdapat gejolak tentang Wahabi, Hasan Al Yamani salah satu ulama Mekkah datang ke Jambi. Dari sanalah Syekh Abdul Qodir belajar dengan ulama Mekkah meski tidak pergi kesana. ” Kata Muhammad Azro’i
Buku Shalawat Badawi Kubro dalam Literatur Ulama Jambi memiliki tema beragam. Angga mengatakan bahwa “Syekh Utsman bin Muhammad Said Tungkal menulis mengenai Nadzam tauhid, kitab aqidatul awam, dan kitab falaq; Syekh Abdurrahim tentang aqidah. Mayoritas ulama di Jambi menulis kitab tauhid, fiqh, falaq, tasawuf, dan aqidah belum ada yang menulis secara khusus mengenai tafsir.” Muhammad Azro’i menambahkan “Secara fan beragam asmaul kitab al Jambi belum dikelompokkan.”
Setiap penulisan kitab memiliki kekhasan masing-masing dan tingkat kesulitan yang berbeda. Adi Asmuni menjelaskan “Penulisan kitab ulama Jambi ada yang menggunakan bahasa Arab murni adapula bahasa daerah, kebanyakan dari mereka menulis sifat 20. Fan aqidah yang paling awal sebagai dasar sebelum bahas lain. Kecenderungan ulama Banjar lebih banyak menulis kitab tauhid Al Qoidul Iman seperti karya tuan guru Kholid. Judul kitab ini memiliki persamaan dengan karya Syekh Abdurrahman Sidik dan empat kitab lain yang ditulis oleh orang berbeda.”
Sebuah kitab sangat unik menurut Muhammad Azro’i yang ditulis oleh Syekh Muhammad Ali Abdul Wahab Al Banjari berisi tentang pertanyaan para jamaah. Apapun bentuk pertanyaannya semua dicatat baik nama penanya, alamat, jam, tanggal, bulan, tahun. Hal itu menggambarkan bahwa keadaan masyarakat yang berkembang pada waktu tertentu.
Angga Ade Saputra mengatakan bahwa “sebuah kitab yang sangat khas dengan kedaerahannya adalah Fatawa Tungkaliah. Kitab karya Syekh Utsman bin Muhammad Said Tungkal berisi nadom aqidatul awam memiliki kesamaan pada bait pertama dan akhir.”
Ada lima referensi kitab ulama Jambi dalam penulisan buku sholawat badawi kubro. Adi Asmuni mengatakan “ Unsur buku mengandung premis, arti, fadilah, serta isi sholawat, apapun kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari shalawat. Lima kitab rujukan terdiri dari karangan syekh Muhammad Zain bin Abdur Rauf Al Jambi, Syekh Tamrin Assobiah Abdul Aziz, tulisan tangan Syekh Abdul Qodir, Muhamad Mansur Bin Hamzah, fawaid albadiah Siti Hodijah Binti Zahrudin.”
Setiap ulama memiliki wirid dan amalan yang berbeda-beda berhubungan dengan tariqah badawiyah atau tariqah yang diikutinya. Shalawat yang sama akan memiliki fadilah yang berbeda sebagaimana pengamalan dan penafsiran para ulamanya. Penghimpunan kitab ulama Jambi untuk menggali ajaran ulama terdahulu dan menjaga karyanya terpelihara dengan baik. “Kemanfaatan membaca Qurotul ain di waktu pagi, sore, dan malam hari akan diperoleh cahaya di hatinya dengan karunia Allah.”