Profil Riset Mora the Air Funds#3
Menyelamatkan Jejak Peradaban Islam Melayu Jambi: Rekonstruksi virtual cagar budaya di Aliran Sungai Batanghari
Pada Profil Penelitian Mora the Air Funds#3 kali ini akan memuat profil riset yang diketuai oleh Dr. Dian Mursyidah, M.Ag dengan judul riset,” Rekonstruksi Virtual Cagar Budaya Koridor Sungai Batanghari: Visual Interaktif Warisan Islam Melayu Jambi”.
Teknologi digital membuka peluang baru untuk merawat ingatan sejarah, melindungi bangunan bersejarah, dan memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya Jambi.
Sungai Batanghari bukan sekadar aliran air terpanjang di Sumatera. Sungai ini merupakan ruang perjumpaan manusia, perdagangan, kekuasaan, kebudayaan, dan penyebaran Islam yang membentuk perjalanan sejarah Jambi selama berabad-abad.
Di sepanjang alirannya, berbagai bangunan bersejarah menjadi saksi tumbuhnya peradaban Melayu Jambi, perkembangan Kesultanan Jambi, dan menguatnya tradisi Islam dalam kehidupan masyarakat.
Masjid kuno, rumah tradisional Melayu, serta bangunan peninggalan masa lalu bukan hanya memiliki nilai arsitektural. Bangunan-bangunan itu menyimpan pengetahuan tentang cara masyarakat membangun rumah, mengatur ruang kehidupan, menjalankan tradisi keagamaan, dan membentuk identitas sosial.
Dengan demikian, kehilangan sebuah bangunan bersejarah bukan semata-mata hilangnya benda fisik, melainkan juga berkurangnya sumber pengetahuan tentang perjalanan suatu masyarakat.
Persoalannya, warisan budaya tersebut tidak selalu berada dalam kondisi aman. Banjir musiman, erosi tepi sungai, perubahan iklim, tekanan urbanisasi, dan keterbatasan sumber daya pelestarian menjadi tantangan yang perlu dihadapi.
Jika tidak diantisipasi melalui langkah konservasi yang terencana, kerusakan bangunan bersejarah dapat menyebabkan hilangnya detail arsitektur dan informasi historis yang sulit dipulihkan.
Dalam situasi demikian, pelestarian budaya membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar merawat bangunan secara fisik. Dokumentasi, pengarsipan, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan masyarakat perlu menjadi bagian dari strategi perlindungan warisan budaya.
Salah satu pendekatan yang menjanjikan ialah rekonstruksi virtual, yakni upaya merekam dan merepresentasikan objek bersejarah ke dalam bentuk digital yang dapat dipelajari dan diakses kembali.
Dari Dokumentasi Konvensional Menuju Pelestarian Digital
Selama ini, dokumentasi bangunan bersejarah banyak mengandalkan foto dan video dua dimensi. Pendekatan tersebut tetap penting, tetapi memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk merekam bentuk ruang, ukuran, detail material, dan hubungan antarelemen arsitektur secara menyeluruh.
Foto sebuah masjid tua, misalnya, dapat memperlihatkan bentuk fasad dan bagian dalam bangunan, tetapi belum tentu cukup untuk menggambarkan proporsi ruang dan detail konstruksinya secara terukur.
Perkembangan teknologi digital menawarkan kemungkinan untuk mengatasi sebagian keterbatasan tersebut. Pemindaian tiga dimensi (3D) dan fotogrametri dapat digunakan untuk menghasilkan model digital bangunan berdasarkan data pengukuran dan dokumentasi visual.
Model tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi visualisasi interaktif melalui teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).
Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya melihat foto bangunan, tetapi juga berpeluang menjelajahi representasi digitalnya dari berbagai sudut.
Peneliti dapat memanfaatkan model tersebut untuk mengkaji bentuk arsitektur, sedangkan pengelola cagar budaya dapat menggunakannya sebagai salah satu sumber informasi dalam merencanakan konservasi.
Meski demikian, rekonstruksi virtual tidak boleh dipahami sebagai pengganti pelestarian fisik. Model digital tidak dapat menggantikan keaslian material, nilai sejarah, ataupun hubungan sosial yang melekat pada bangunan asli.
Teknologi ini justru perlu ditempatkan sebagai pelengkap yang membantu menyelamatkan informasi, mendukung penelitian, dan memperluas akses publik terhadap warisan budaya.
Dengan kata lain, ketika bangunan menghadapi risiko kerusakan, dokumentasi digital yang baik dapat menjadi rekaman penting tentang kondisi dan karakteristiknya.
Namun, keberhasilan pelestarian tetap memerlukan perawatan fisik, kebijakan yang konsisten, pendanaan yang memadai, dan partisipasi masyarakat.
Menghubungkan Warisan Budaya di Sepanjang Batanghari
Berangkat dari kebutuhan tersebut, kelompok periset yang dipimpin Dr. Dian Mursyidah, M.Ag., mengusulkan penelitian berjudul “Rekonstruksi Virtual Cagar Budaya Koridor Sungai Batanghari: Visual Interaktif Warisan Islam Melayu Jambi”.
Penelitian ini merupakan bagian dari skema Mora the Air Funds 2026 dan diarahkan untuk mengembangkan sistem dokumentasi serta visualisasi digital yang menghubungkan sejumlah bangunan bersejarah dalam satu koridor peradaban.
Penelitian ini dirancang menjangkau tujuh kabupaten dan kota yang dilalui atau berkaitan dengan koridor Sungai Batanghari, yakni Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Dari kawasan tersebut, penelitian menargetkan sekitar 10–20 bangunan cagar budaya yang memiliki nilai historis, arsitektural, dan religius dalam tradisi Islam-Melayu.
Beberapa objek yang menjadi prioritas antara lain Masjid Tuo Al-Falah Rantau Panjang di Kabupaten Tebo, Rumah Gede atau Rumah Bari di kawasan Seberang Kota Jambi, serta Masjid Agung Al-Falah di Kota Jambi. Ketiganya memiliki karakter dan kedudukan yang berbeda dalam sejarah serta kehidupan masyarakat Jambi.
Masjid Tuo Al-Falah, misalnya, merepresentasikan tradisi arsitektur masjid lama dan perkembangan Islam di wilayah pedalaman. Rumah Gede menyimpan jejak arsitektur tradisional Melayu serta keterkaitannya dengan lingkungan sosial Kesultanan Jambi.
Sementara itu, Masjid Agung Al-Falah menjadi salah satu penanda penting perkembangan kehidupan keagamaan di pusat Kota Jambi.
Jika didokumentasikan secara sistematis, objek-objek tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang keragaman warisan Islam-Melayu. Bangunan bersejarah tidak lagi dipahami sebagai objek yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari jaringan sejarah yang terhubung melalui sungai, permukiman, perdagangan, tradisi keagamaan, dan dinamika kekuasaan.
Di sinilah letak pentingnya perspektif koridor peradaban. Sungai Batanghari dapat dipahami bukan hanya sebagai bentang geografis, melainkan juga sebagai ruang sejarah yang menghubungkan berbagai komunitas dan ekspresi kebudayaan.
Dokumentasi digital yang terintegrasi berpotensi membantu masyarakat memahami hubungan tersebut secara lebih mudah dan menarik.
Menjadikan Teknologi Sebagai Sarana Belajar
Penelitian ini tidak berhenti pada pembuatan model tiga dimensi. Sistem yang direncanakan juga mencakup pengembangan platform visualisasi interaktif berbasis web, pemanfaatan VR dan AR, serta pengintegrasian informasi spasial untuk mendukung pengelolaan cagar budaya.
Melalui platform berbasis web, informasi mengenai bangunan bersejarah berpotensi diakses lebih luas tanpa mengharuskan pengunjung datang langsung ke lokasi.
Sementara itu, teknologi VR dapat memberikan pengalaman menjelajahi ruang virtual, sedangkan AR dapat menyajikan informasi digital yang melengkapi pengalaman melihat objek atau lingkungan nyata.
Potensi pemanfaatannya cukup luas. Di sekolah dan perguruan tinggi, rekonstruksi virtual dapat menjadi media pembelajaran sejarah lokal yang lebih kontekstual.
Mahasiswa tidak hanya membaca uraian mengenai arsitektur Melayu atau perkembangan Islam di Jambi, tetapi juga dapat mengamati representasi digital bangunan dan mempelajari karakteristiknya.
Bagi sektor pariwisata, teknologi tersebut dapat memperkaya informasi mengenai destinasi wisata sejarah dan religi. Wisatawan dapat mengenal latar belakang bangunan sebelum berkunjung, sedangkan pengelola dapat menyajikan informasi yang lebih terstruktur.
Bagi peneliti, dokumentasi digital dapat menjadi sumber data pendukung untuk kajian arsitektur, sejarah, arkeologi, dan kebudayaan.
Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis hanya karena teknologi telah tersedia. Platform digital harus dirancang agar mudah digunakan, informasinya dapat dipercaya, dan kontennya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dokumentasi juga perlu memperhatikan ketepatan sejarah, status pelindungan bangunan, serta keterlibatan komunitas yang selama ini merawat dan menggunakan situs tersebut.
Karena itu, keberhasilan proyek ini tidak semestinya hanya diukur dari jumlah model 3D yang berhasil dibuat. Kemampuan sistem untuk digunakan oleh peneliti, pengelola cagar budaya, pendidik, dan masyarakat juga perlu menjadi ukuran penting.
Tantangan Menjaga Keaslian dan Keberlanjutan
Membangun sistem pelestarian digital bukan pekerjaan sederhana.
Pengumpulan data lapangan membutuhkan ketelitian, peralatan yang sesuai, dan tenaga ahli yang memahami karakteristik objek. Bangunan yang telah mengalami perubahan atau kerusakan juga memerlukan penanganan metodologis agar model digital tidak mencampurkan kondisi aktual dengan dugaan mengenai bentuk masa lalu.
Setiap rekonstruksi perlu memiliki dasar data yang jelas. Apabila bentuk asli suatu bagian bangunan tidak lagi dapat dipastikan, keterbatasan tersebut harus dinyatakan secara terbuka. Visualisasi yang tampak meyakinkan belum tentu sepenuhnya menggambarkan keadaan historis yang sebenarnya.
Oleh sebab itu, dokumentasi sumber, catatan pengukuran, dan keterangan mengenai tingkat kepastian rekonstruksi menjadi bagian penting dari integritas ilmiah.
Tantangan berikutnya ialah keberlanjutan sistem. Teknologi digital berkembang cepat, sedangkan data yang dihasilkan harus tetap dapat dibuka dan digunakan dalam jangka panjang. Hal ini menuntut pengelolaan basis data, pencadangan, pemeliharaan platform, dan standar penyimpanan yang memadai.
Tanpa perencanaan tersebut, proyek digital berisiko berhenti sebagai produk penelitian yang tidak lagi berfungsi setelah pendanaan berakhir.
Dalam konteks ini, rencana penelitian untuk mengevaluasi tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) menjadi relevan. Evaluasi tersebut dapat membantu menilai sejauh mana sistem yang dikembangkan siap digunakan dan apa yang masih diperlukan sebelum diterapkan secara lebih luas.
Hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar bagi perencanaan pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pengelola cagar budaya, komunitas sejarah, serta masyarakat setempat perlu dilibatkan sejak tahap pengumpulan data hingga pemanfaatan hasil penelitian.
Kolaborasi tersebut penting agar teknologi tidak hanya menghasilkan rekaman digital, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Menjaga Ingatan Kolektif, Membangun Masa Depan.
Pada akhirnya, rekonstruksi virtual cagar budaya koridor Sungai Batanghari bukan semata-mata proyek teknologi. Penelitian ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah masyarakat menjaga hubungan dengan sejarahnya ketika perubahan lingkungan dan pembangunan terus berlangsung.
Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan dalam arsip atau dipertahankan sebagai bangunan yang sesekali dikunjungi. Warisan itu perlu terus dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Teknologi digital dapat membantu proses tersebut dengan membuat pengetahuan sejarah lebih mudah dijangkau, tanpa menghilangkan kebutuhan untuk melindungi objek aslinya.
Luaran yang direncanakan berupa basis data digital cagar budaya, model tiga dimensi bangunan bersejarah, platform visualisasi interaktif berbasis web, peta kesiapan teknologi, publikasi ilmiah, dan rekomendasi pengelolaan pelestarian berbasis teknologi. Jika dikembangkan dan dimanfaatkan secara konsisten, hasil penelitian ini berpotensi memperkuat hubungan antara kegiatan akademik, kebijakan pelestarian, pendidikan, dan pengembangan wisata budaya.
Bagi Provinsi Jambi, upaya tersebut juga membuka kesempatan untuk menempatkan Sungai Batanghari dalam narasi sejarah yang lebih luas. Peradaban yang tumbuh di sepanjang sungai ini memiliki kekhasan lokal sekaligus keterkaitan dengan sejarah Islam dan kebudayaan Melayu di Nusantara. Dokumentasi yang terintegrasi dapat membantu memperkenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat di luar Jambi.
Meski begitu, ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa jauh teknologi itu membantu melindungi warisan budaya, memperkuat pengetahuan sejarah, dan menumbuhkan kepedulian masyarakat.
Sungai Batanghari akan terus mengalir, sementara zaman dan lingkungan di sekitarnya akan terus berubah. Tantangannya ialah memastikan bahwa perubahan tersebut tidak menghapus jejak peradaban yang telah membentuk identitas masyarakat Jambi. Melalui perpaduan penelitian ilmiah, pelestarian fisik, dan inovasi digital, jejak sejarah itu diharapkan tetap dapat dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Bagikan: