Profil Riset Mora the Air Funds#4

Profil Riset Mora the Air Funds#4

Berita 11 menit baca 28 kali dilihat

Membaca Kitab Suci di Era Digital: Tantangan Literasi Keagamaan Lintas Generasi dan Lintas Iman

Di seri #4 ini kita akan membaca profil riset berjudul,”Peta Literasi Kitab Suci di Era Digital: Studi Komparasi antar Generasi Berbasis Survei Nasional Umat Enam Agama di Indonesia”. Riset ini  diketuai oleh Prof. Dr. D.I. Ansusa Putra, Lc., MA. Hum. Dengan anggota dari PT Zeta Sierra Kreasi: Kharisma Firdaus, M.IP; Anggia Novendra, M.M; Septiyana, S.Pd; dan Arti Arbiatini, S.Pd.

Peralihan dari kitab suci fisik ke layar digital mengubah cara umat beragama memperoleh pengetahuan, memahami ajaran, dan membangun otoritas keagamaan. Indonesia membutuhkan peta literasi keagamaan digital yang mampu menjangkau perbedaan generasi dan keberagaman agama.

Ketika Kitab Suci Berpindah ke Layar

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia membaca, memperoleh informasi, dan memahami dunia. Perubahan itu tidak berhenti pada ruang pendidikan, ekonomi, atau komunikasi sosial. Kehidupan keagamaan pun mengalami transformasi, terutama dalam cara umat berinteraksi dengan kitab suci dan memperoleh pengetahuan tentang ajaran agamanya.

Jika dahulu seseorang harus membuka mushaf Al-Qur’an, Alkitab, Weda, Tripitaka, atau kitab keagamaan lainnya untuk membaca dan mendalami teks suci, kini sebagian aktivitas tersebut dapat dilakukan melalui telepon pintar. Ayat, kutipan, penjelasan keagamaan, dan ceramah dapat ditemukan dalam hitungan detik melalui aplikasi, mesin pencari, maupun media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.

Perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Teknologi digital memperluas akses terhadap sumber-sumber pengetahuan keagamaan. Seseorang dapat mempelajari ajaran agamanya tanpa dibatasi ruang dan waktu, menemukan beragam penjelasan, serta mengikuti kegiatan pembelajaran yang sebelumnya sulit dijangkau. Akan tetapi, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan memahami isi dan konteksnya.

Di tengah arus informasi yang cepat, teks suci berpotensi dikonsumsi dalam bentuk potongan ayat, kutipan singkat, atau pesan keagamaan yang dilepaskan dari konteksnya. Sebuah ayat dapat menjadi populer karena disajikan secara menarik, tetapi belum tentu dipahami berdasarkan latar belakang sejarah, penafsiran, dan hubungannya dengan keseluruhan ajaran agama. Persoalannya bukan semata-mata pada medium digital, melainkan juga pada kemampuan pembaca menilai sumber, memeriksa ketepatan informasi, dan memahami makna teks secara bertanggung jawab.

Karena itu, pembicaraan mengenai literasi kitab suci di era digital perlu melampaui pertanyaan tentang seberapa sering seseorang membaca teks keagamaan. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah seseorang mampu memahami isi teks, mengenali konteksnya, membedakan sumber yang dapat dipercaya dari informasi yang menyesatkan, serta menerapkan ajaran yang dipelajari secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Antargenerasi dan Perubahan Otoritas Keagamaan

Salah satu persoalan penting dalam transformasi digital keagamaan adalah perbedaan pengalaman antargenerasi. Kelompok Baby Boomers, Generasi X, Milenial, dan Generasi Z tumbuh dalam lingkungan teknologi dan pola komunikasi yang berbeda. Perbedaan pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara mereka mengakses informasi, membangun kepercayaan, dan mempelajari ajaran agama.

Generasi yang tumbuh sebelum meluasnya internet umumnya lebih akrab dengan sumber pengetahuan keagamaan melalui buku, lembaga pendidikan agama, keluarga, pemuka agama, dan kegiatan ibadah secara langsung. Sementara itu, generasi yang tumbuh bersama internet memiliki akses lebih luas terhadap ceramah digital, konten keagamaan, komunitas daring, dan layanan berbasis kecerdasan buatan.

Namun, perbedaan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi anggapan bahwa generasi tua pasti lebih mendalam dalam memahami kitab suci, sedangkan generasi muda hanya memahami ajaran agama secara dangkal. Tingkat literasi keagamaan tidak ditentukan oleh usia atau penguasaan teknologi semata. Pendidikan, kebiasaan membaca, lingkungan keluarga, keterlibatan dalam komunitas keagamaan, dan kualitas sumber informasi juga dapat berperan penting.

Persoalan yang perlu diperhatikan ialah kemungkinan munculnya kesenjangan dalam cara memperoleh dan menilai pengetahuan keagamaan. Sebagian orang mungkin lebih mempercayai penjelasan pemuka agama dan lembaga keagamaan, sedangkan sebagian lainnya lebih dahulu mencari jawaban melalui mesin pencari, pembuat konten, atau aplikasi kecerdasan buatan.

Perubahan ini dapat memperluas pilihan sumber pengetahuan, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kredibilitas dan tanggung jawab penafsiran. Siapa yang dianggap memiliki kewenangan menjelaskan teks suci ketika informasi keagamaan dapat diproduksi dan disebarkan oleh siapa saja? Bagaimana umat membedakan penjelasan yang memiliki dasar keilmuan dari pendapat yang sekadar menarik perhatian publik?

Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika algoritma media sosial ikut menentukan informasi yang muncul di hadapan pengguna. Konten yang banyak menarik perhatian dapat memperoleh jangkauan lebih luas, meskipun popularitas tidak selalu menunjukkan ketepatan isinya. Dalam kondisi demikian, literasi digital perlu berjalan bersama literasi keagamaan agar pengguna tidak hanya mampu menemukan informasi, tetapi juga menilainya secara kritis.

Literasi Kitab Suci Bukan Sekadar Kemampuan Membaca

Dalam konteks tersebut, literasi kitab suci perlu dipahami sebagai kemampuan yang memiliki beberapa dimensi. Kemampuan membaca teks merupakan dasar yang penting, tetapi belum mencukupi untuk menggambarkan kedalaman pemahaman seseorang terhadap ajaran agama.

Penelitian mengenai literasi kitab suci di era digital dapat dikembangkan melalui dua dimensi utama. Pertama, literasi tekstual-skriptural, yaitu kemampuan mengenali, membaca, memahami, dan menelusuri teks suci sesuai dengan tradisi keagamaan masing-masing. Dimensi ini dapat mencakup pemahaman isi teks, kemampuan menemukan bagian yang relevan, dan pengetahuan mengenai sumber rujukan.

Kedua, literasi kontekstual-digital, yakni kemampuan memahami pesan keagamaan dengan mempertimbangkan konteks, menilai kredibilitas sumber digital, memeriksa informasi yang beredar, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam mempelajari ajaran agama.

Kedua dimensi tersebut saling melengkapi. Penguasaan teks tanpa kemampuan mengevaluasi informasi digital dapat membuat seseorang rentan terhadap kutipan yang keliru atau penafsiran yang menyesatkan. Sebaliknya, kecakapan menggunakan teknologi tanpa pemahaman memadai terhadap teks dapat menghasilkan pengetahuan yang luas, tetapi dangkal.

Kehadiran kecerdasan buatan menambah lapisan persoalan baru. Teknologi ini dapat membantu pengguna mencari informasi, merangkum penjelasan, atau membandingkan pandangan. Namun, jawaban yang dihasilkan tetap perlu diperiksa karena dapat mengandung kekeliruan, kehilangan konteks, atau menyajikan informasi yang tidak sesuai dengan sumber aslinya.

Dengan demikian, kecakapan keagamaan di era digital tidak cukup diukur dari kemampuan mengoperasikan aplikasi atau menemukan jawaban dengan cepat. Yang lebih penting ialah kemampuan menghubungkan informasi digital dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, memahami batas-batas pengetahuan, dan menyadari bahwa teks suci memiliki konteks serta tradisi penafsiran yang tidak selalu dapat disederhanakan menjadi jawaban instan.

Mengapa Indonesia Membutuhkan Peta Literasi Kitab Suci?

Indonesia memiliki masyarakat yang beragam dalam agama, tradisi, bahasa, tingkat pendidikan, dan pengalaman menggunakan teknologi. Keragaman tersebut membuat persoalan literasi kitab suci tidak dapat dipahami hanya melalui pengalaman satu komunitas agama atau satu kelompok usia.

Selama ini, kajian mengenai penggunaan teknologi dalam kehidupan keagamaan dapat memberikan gambaran penting tentang perilaku komunitas tertentu. Namun, untuk memahami pola yang lebih luas, diperlukan penelitian yang memungkinkan perbandingan antargenerasi dan antaragama melalui kerangka pengukuran yang transparan.

Kebutuhan tersebut menjadi dasar penelitian berjudul Peta Literasi Kitab Suci di Era Digital: Studi Komparasi Antar-Generasi Berbasis Survei Nasional Umat Enam Agama di Indonesia. Penelitian ini dirancang untuk memetakan tingkat literasi kitab suci secara komparatif dengan melibatkan umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif inferensial melalui survei terhadap 2.100 responden. Komposisi sampel yang direncanakan terdiri atas 600 responden Muslim serta masing-masing 300 responden Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dengan komposisi tersebut, penelitian berupaya memberikan ruang analisis yang lebih memadai bagi kelompok agama yang jumlah penganutnya berbeda-beda.

Pendekatan ini penting karena survei yang sepenuhnya mengikuti proporsi jumlah penduduk dapat membuat kelompok dengan jumlah penganut lebih sedikit memiliki jumlah responden yang terlalu kecil untuk analisis komparatif tertentu. Sebaliknya, kuota yang ditetapkan secara khusus memungkinkan setiap kelompok agama memperoleh jumlah responden yang memadai untuk dibandingkan.

Meski demikian, jumlah responden yang sama tidak otomatis membuat hasil penelitian mewakili populasi setiap agama secara proporsional. Karena penelitian menggunakan quota sampling, hasilnya perlu ditafsirkan sesuai dengan rancangan pengambilan sampel. Klaim keterwakilan nasional harus mempertimbangkan kerangka sampel, distribusi geografis, karakteristik responden, dan kemungkinan bias seleksi. Jika diperlukan estimasi yang mewakili populasi, pembobotan statistik dan strategi validasi tambahan harus dirancang secara tepat.

Dengan kehati-hatian metodologis tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan gambaran empiris mengenai variasi literasi kitab suci berdasarkan generasi dan latar belakang agama. Penelitian ini juga membuka peluang untuk menguji apakah perbedaan cara mengakses informasi berkaitan dengan perbedaan kemampuan memahami teks dan menilai informasi keagamaan.

Mengukur Literasi secara Ilmiah dan Adil

Salah satu tantangan penelitian lintas agama adalah menyusun instrumen yang dapat digunakan untuk perbandingan tanpa mengabaikan kekhasan setiap tradisi keagamaan. Kitab suci, struktur teks, praktik pembacaan, tradisi penafsiran, dan sumber otoritas keagamaan setiap agama tidak sepenuhnya sama. Karena itu, alat ukur tidak dapat disusun dengan menganggap seluruh tradisi memiliki struktur dan standar pemahaman yang identik.

Penelitian ini merencanakan pengembangan instrumen berdasarkan dua dimensi literasi tekstual-skriptural dan kontekstual-digital. Instrumen tersebut akan diuji melalui analisis faktor konfirmatori atau confirmatory factor analysis (CFA), yaitu metode statistik untuk menilai apakah indikator-indikator pengukuran sesuai dengan struktur konsep yang dirancang.

Akan tetapi, pengujian CFA saja belum cukup untuk memastikan bahwa instrumen dapat dibandingkan secara adil lintas generasi dan lintas agama. Peneliti juga perlu memeriksa kesetaraan pengukuran atau measurement invariance. Pengujian ini membantu memastikan bahwa skor yang diperoleh benar-benar dapat dibandingkan, bukan sekadar mencerminkan perbedaan bahasa, tingkat kesulitan pertanyaan, atau karakteristik tradisi keagamaan tertentu.

Setelah instrumen memenuhi persyaratan yang relevan, penelitian merencanakan analisis komparatif multivariat melalui Two-Way Multivariate Analysis of Variance (Two-Way MANOVA). Metode tersebut dapat digunakan untuk menguji perbedaan beberapa variabel hasil secara bersamaan berdasarkan dua faktor, misalnya kelompok generasi dan kelompok agama, sekaligus menguji kemungkinan interaksi di antara keduanya.

Analisis tersebut dapat membantu menjawab pertanyaan apakah perbedaan skor literasi berkaitan dengan kelompok generasi, kelompok agama, atau kombinasi keduanya. Namun, hasil analisis komparatif tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa teknologi digital menjadi penyebab perbedaan tersebut. Kesimpulan mengenai hubungan sebab-akibat memerlukan rancangan dan bukti tambahan.

Penelitian ini juga merencanakan pengembangan pemodelan persamaan struktural atau Structural equation modeling (SEM) pada tahap berikutnya untuk mengkaji kemungkinan hubungan literasi digital dengan dampak psikososial dari fragmentasi pemahaman teks. Rencana tersebut dapat memperluas penelitian dari sekadar memetakan perbedaan menuju upaya memahami hubungan antarfaktor yang mungkin memengaruhi pengalaman keagamaan masyarakat.

Dengan rancangan yang cermat, pengukuran yang sahih, dan penafsiran yang proporsional, penelitian ini berpeluang memberikan kontribusi metodologis bagi studi literasi keagamaan di Indonesia.

Dari Data Menuju Kebijakan Keagamaan Digital

Nilai penting penelitian tidak berhenti pada tersedianya angka atau peringkat literasi. Data baru akan berguna apabila mampu membantu masyarakat dan pembuat kebijakan memahami persoalan serta menentukan langkah yang tepat.

Bagi Kementerian Agama Republik Indonesia, peta literasi kitab suci dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang program pendidikan dan penguatan literasi keagamaan digital. Jika ditemukan kebutuhan yang berbeda antargenerasi, pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakteristik dan pengalaman masing-masing kelompok. Jika terdapat kesulitan dalam menilai kredibilitas sumber, program literasi dapat menekankan verifikasi informasi dan pengenalan sumber rujukan yang dapat dipercaya.

Pada saat yang sama, hasil penelitian lintas agama dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan bersama tanpa menghapus keragaman tradisi. Pendidikan literasi digital keagamaan dapat mengembangkan kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, sembari tetap menghormati perbedaan ajaran serta cara masing-masing agama memahami kitab sucinya.

Riset ini merencanakan penyusunan peta jalan penguatan literasi keagamaan digital dan dokumen rekomendasi kebijakan atau policy brief. Dokumen tersebut diharapkan dapat memberikan dasar empiris bagi program pendidikan keagamaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan.

Namun, rekomendasi kebijakan sebaiknya tidak diarahkan untuk menyeragamkan penafsiran atau menempatkan teknologi sebagai ancaman yang harus dijauhi. Tantangan yang lebih mendasar ialah memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara kritis, memahami batas-batas informasi yang diperoleh, dan mengembangkan dialog yang sehat antara pengetahuan digital dengan tradisi keilmuan keagamaan.

Dalam konteks ini, lembaga pendidikan, keluarga, pemuka agama, komunitas keagamaan, dan penyedia platform digital memiliki peran yang saling melengkapi. Penguatan literasi bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga membutuhkan lingkungan informasi yang menyediakan sumber tepercaya dan mendorong pembelajaran yang bertanggung jawab.

## Merawat Kedalaman Beragama di Tengah Kecepatan Teknologi

Perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Kitab suci yang hadir melalui aplikasi dan media sosial dapat membuka jalan bagi pembelajaran yang lebih luas, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber pengetahuan konvensional. Akan tetapi, kemudahan akses perlu disertai kemampuan untuk memahami, memeriksa, dan menggunakan informasi secara bijaksana.

Karena itu, tantangan utama literasi kitab suci di era digital bukanlah memilih antara buku fisik dan layar, atau antara generasi tua dan generasi muda. Tantangan sebenarnya ialah menjaga kedalaman pemahaman di tengah kecepatan distribusi informasi, sekaligus memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengurangi ketelitian dalam memahami teks suci.

Penelitian tentang peta literasi kitab suci lintas generasi dan lintas agama dapat menjadi langkah awal untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui survei yang terukur, instrumen yang memperhatikan keragaman tradisi, dan analisis statistik yang tepat, penelitian ini diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih sistematis mengenai kemampuan masyarakat memahami kitab suci dalam lingkungan digital.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah medium. Kualitas literasi ditentukan pula oleh kemampuan manusia membaca dengan cermat, berpikir kritis, menghargai konteks, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang diperolehnya. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan perubahan otoritas keagamaan, Indonesia memerlukan masyarakat yang tidak hanya terhubung secara digital, tetapi juga matang dalam memahami ajaran agama.

Membangun literasi kitab suci di era digital, dengan demikian, bukan sekadar agenda mengikuti perkembangan zaman. Upaya ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kualitas kehidupan beragama, memperkuat pendidikan yang inklusif, dan merawat kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.

Doni Pirdaus

Editor website LPPM

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.