Menyelami Kearifan Lokal Baduy Luar, Mahasiswi UIN STS Jambi Belajar Harmoni Budaya dan Alam

Menyelami Kearifan Lokal Baduy Luar, Mahasiswi UIN STS Jambi Belajar Harmoni Budaya dan Alam

Berita 2 menit baca 49 kali dilihat

LEBAK — Hamparan perbukitan hijau, rumah-rumah panggung sederhana, serta keramahan masyarakat Baduy Luar menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata Nusantara di Kabupaten Lebak, Banten. Bagi mereka, kunjungan ke kawasan adat tersebut bukan perjalanan wisata, melainkan ruang pembelajaran langsung mengenai pelestarian budaya, kearifan lokal, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Salah seorang peserta KKN Nusantra, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris menuturkan bahwa kunjungan ke Baduy Luar memberi pengalaman yang sulit diperoleh melalui ruang kelas. Kehidupan masyarakat yang tetap mempertahankan adat istiadat di tengah derasnya arus modernisasi menjadi pelajaran nyata tentang pentingnya menjaga identitas budaya.

“Setiap sudut perkampungan menghadirkan suasana yang hangat. Warga menyambut kami dengan ramah sehingga kami dapat melihat secara langsung bagaimana tradisi tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Selama berada di kawasan Baduy Luar, rombongan mahasiswa mengamati berbagai produk kerajinan tangan yang menjadi identitas masyarakat setempat. Kain dan busana tenun tradisional menjadi daya tarik utama karena diproduksi secara manual dengan motif dan tekstur yang mencerminkan nilai-nilai filosofis serta identitas budaya masyarakat Baduy.

Selain kerajinan tekstil, mahasiswa juga mengenal beragam hasil alam yang dikelola secara berkelanjutan oleh warga. Madu hutan murni, gula aren tradisional, serta berbagai kerajinan berbahan alami menjadi bukti bahwa masyarakat Baduy mampu memanfaatkan sumber daya alam tanpa mengabaikan prinsip kelestarian lingkungan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan jalan menuju Jembatan Gazebo, salah satu titik yang menjadi penanda batas antara kawasan Baduy Luar dan Baduy Dalam. Jalur yang menanjak dan menurun dengan medan cukup terjal menuntut ketahanan fisik para peserta. Meski demikian, panorama alam yang tersaji sepanjang perjalanan menjadi pengalaman yang sepadan dengan usaha yang dikeluarkan.

Setibanya di Jembatan Gazebo, mahasiswa disuguhi pemandangan perpaduan keindahan alam dan kesederhanaan arsitektur bambu yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai akses penghubung, tetapi juga menjadi simbol batas menuju kawasan Baduy Dalam yang tetap menjaga adat secara lebih ketat.

Bagi para mahasiswa, kunjungan tersebut memperkaya wawasan tentang pentingnya merawat warisan budaya Nusantara. Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat adat memperlihatkan bahwa pembangunan tidak selalu harus mengorbankan tradisi. Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi fondasi bagi kehidupan yang berkelanjutan, selaras dengan alam, sekaligus memperkuat identitas bangsa.

Doni Pirdaus

Saya adalah seorang Editor website LPPM.

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 LPPM UIN STS Jambi. All Rights Reserved.